Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Setan


__ADS_3

Penyelidik kasus hilangnya seorang siswa dan kematian pekerja yang tertabrak kendaraan di sekolah favorit di beri kebebasan memeriksa sekolah sedetail-detailnya. Namun, mereka tidak di bolehkan mengganggu proses belajar mengajar dan pembangunan sekolah. Di perkirakan gedung-gedung dan Aula selesai tahun depan. Pekerja hanya di perbolehkan melakukan periksaan dan wawancarai satu jam dalam satu hari. Tentu saja Tuja memberikan ketegasan dan aturan agar para pekerja dan murid tidak merasa terganggu. Batas jam menggali informasi dan berita sampai pukul 18:00 WIB.


Tepat di hari ke tiga puluh Sembilan, aroma bangkai menyengat menyebar di udara. Siswa-dan siswi yang berada di lapangan menutup hidung. Berpikir aroma tersebut timbul dari bakaran sampah atau tukang kebun yang sedang melakukan pembersihan. Seekor anjing masuk ke dalam halaman sekolah, menggaruk tanah di iringin suara lolongannya.Tunas pisang rusak, pak Hoka melempari dengan batu sampai kelapa hewan itu terluka.


“Dasar anjing gila! Sudah luka tapi tetap masih tidak mau pergi ya!” umpatnya.


Mengangkat cangkul, mengayunkan ke kepala anjing sampai kepalanya terlepas. Jaja melihat kekejaman si tukang kebun. Di bersembunyi melihat dari balik tembok. Kepala anjing dan tubuhnya yang terpisah di seret ke dalam tong sampah. “Hi.. mirip yang di film-film.


Jaja berlari kencang hingga dia tersandung. Pandangan di kejutkan melihat sepasang sandal yang berhenti di depannya. “Arggh! Hantu!”


Menghindari gangguan, dia masuk ke gedung kosong yang masih di bangun. Suasana gelap, lembab, kakinya kembali tersandung tapi kali ini di di kejutkan melihat banyak kulit pisang berserakan di lantai. Berpikir para pekerja yang makan pisang dan membuangnya sembarangan. Jaja tetap berlari mencari jalan arah ke ruangan kelas.


Brrugghh__


“Hey, kayak orang kesetanan aja! Masih pagi nih bro, jangan buat sensasi ya!” ucap Leo meneruskan tulisan menyalin PR yang dia contek.


“Itu kaki kamu luka ya? Habis jatuh?” tanya Hecan bersungut.


“A__ii__” suara terbata berjalan mengambil ransel.


Dia pamit pulang lebih awal, suara pelan mengatur nafasnya yang terengah-engah. Guru piket melihat sekujur tubuhnya bermandikan keringat, luka-luka pada kaki dan berpikir siswa itu sedang kesakitan.

__ADS_1


“Ya kamu bisa pulang sendiri? Kalau tidak biar bapak yang mengantar” ucap pak Wiro.


“Tidak pak, terimakasih__”


Di lorong panjang, seorang siswi yang masih penasaran setelah banyak mendapatkan garis mimpi dan penglihatannya mengenai kasus sekolah. Dia memberanikan diri mencari tau kejadian sebenarnya dan siapa murid hantu yang bernama mawar. Caya juga ingin membantu menemukan jasad Boy. Kali ini, firasatnya sedikit aneh, sosok yang tidak pernah menampakkan wujud lagi kini hadir bernada sedikit berbeda. Dia mengikuti arah jalan penampakan Galan yang mengarah ke bagian lantai gedung kosong paling atas.


“Caya jangan kesana! Bukan aku yang panggil kamu!” Suara Galang menghentikan langkahnya.


Caya hampir terjebak di dalam panggilan sosok makhluk menyerupai sahabatnya itu. Dia berbalik masuk ke dalam kamar mencari jimat penangkal yang dia lepaskan. Pergantian malam ini bumi di ganggu sihir hitam kegelapan. Caya tidak melakukan petualangan melepas sukma ke alam lain. Dia mendapat petunjuk dari penglihatan kelebihannya. Keberadaan jasad mayat yang meminta pertolongan di dalam sekolah.


“Awas Galang, aku mau kasian sama anak laki-laki yang jasadnya terkurung. Aku akan menemukannya dan mengebumikan secara baik-baik”


“Tapi Caya, belum waktunya kamu mengungkap semua ini. Cepat pulang sebelum monyet itu mengganggu mu lagi__”


Di dalam ada kain panjang yang membungkus seekor ayam berwarna hitam.


“Caya melihatnya dengan mata kepala sendiri nek. Bu kepala sekolah melakukan praktek ilmu hitam.”


“Sudah jangan di teruskan. Sekolah saja bagus-bagus, nenek berharap kamu segera tamat dari sana.”


Pandangan mata ghaib terputus melihat dimana terakhir kali kejadian yang mengerikan itu merenggut nyawa anak-anak murid yang tidak bersalah. Sosok monyet besar mengganggu hingga dia terpaksa kembali masuk ke tubuhnya. Caya bisa saja minta pindah sekolah di kota, tapi dia merasa iba melihat arwah Mawar, Legi, Galang, tata dan Boy.

__ADS_1


“Setidaknya aku bisa menemukan jasad Mawar atau Boy, membuka siapa dalang pembunuhan semua murid yang tidak bersalah” gumam Caya.


Sinar lemparan bola api, suara mantra yang mengganggu tidur. Satu keluarga di kejutkan mendengar suara jeritan dari dalam kamar. Pak Normal meninggal dengan wajah hangus terbakar. Mereka ingat terakhir kali pertemuan dengan mbah Kubra.


“Aku tau semua ini pasti ada hubungannya dengan lelaki tua itu pak. Lihatlah, sekarang kau meninggalkan kami! Hiks” Ratiem menangis memeluk jasad suaminya.


“Ayah! Hiks” Berry dan Sisil terisak tangis.


Satu kampung tau, mbah Kubro memiliki ilmu hitam tinggi yang bisa menerbangkan keris menggunakan kesaktiannya. Kehebatannya yang menandingi dukun-dukun lain sehingga tidak ada satupun orang berani mencari masalah dengannya. Tidak dengan salah satu keluarga Korban kejahatannya. Ratiem memegang pisau di depan rumahnya. Dia berteriak meminta pertanggung jawaban atas kematian suaminya. Para pengikutnya mendorong kuat Ratiem, pisau di rampas Bontai dari tangannya berlanjut gerakan Mida menghembuskan pisau sampai terlepas dari tangan.


“Jangan kau bunuh dia disini, nanti apa kata warga kampung? Pengikut mbah Kubro mulai membunuh orang-orang korban ilmu mbah Kubro. Kau mau di penjara?” ucap Mida.


Ratiem dan kedua anaknya di usir, mereka terbanting di depan gerbang rumah. Suasana malam ramai suara teriakan Ratiem yang minta tolong di berikan keadilan atas kematian suaminya. Tidak ada satu warga yang berani berhadapan dengan pria itu. Mereka hanya membantu proses pemakaman Ruslan.


Rombongan teman sekelas Sisil berdatangan mengucapkan bela sungkawa. Begitu pula wali kelas dan perangkat dewan guru. Cuaca langit sendu, hawa dingin menambah kesedihan dan kepergian selamanya. Sisil dan Berry memeluk tanah kuburan ayah mereka.


Ratiem memutuskan untuk mengeluarkan anaknya dari sekolah itu. Dia menjual rumah dan pindah ke kota, meski mengurus perpindahan sedikit lama. Ratiem meminta tolong pada wali kelasnya agar menyimpan berkas perpindahan kedua anaknya sampai dia kembali sendiri ke kampung itu dan mengambilnya.


Sekolah Jaya Kusuma tetap berdiri kokoh, murid-murid tertarik bersekolah meski banyak informasi yang mengabarkan ke janggalan sekolah itu. Setelah Ratiem keluar dari ruangan kepala sekolah. Karsida melipat kedua tangannya, dia berpikir jika tidak masalah bulan ini kehilangan dua orang siswi. Keyakinannya dapat merekrut lebih banyak murid di tahun ajaran baru dengan bantuan setan yang dia puja.


Mengesampingkan aduan Ratiem mengenai kejahatan mbah Kubro, dia malah berbalik menyalahkan wanita itu dan membersihkan nama si mbah.

__ADS_1


“Dasar orang kampung gila!”


__ADS_2