
“Apa yang ada di dalam pikiran mu katakan saja pak. Aku akan menjaga rahasia ini baik-baik.”
Dimas menyorot mata Geha yang tampak kebingungan. Dia membuka suara, mengakui selama ini tidak pernah tenang selama bekerja di sekolah itu. Hal yang paling mengganggu yaitu penampakan para monyet yang melompat ke di kasurnya setiap kali dia memejamkan mata.
“Pak, apa ini ada kaitannya di gapura saat kita menjenguk bu Nana? tapi sebelumnya saya sudah mendapat teror-teror aneh.”
“Oh jadi ini duduk masalahnya? Kalau menurut saya, kita pasti hidup berdampingan dengan makhluk lain pak. Jadi bagaimana dengan siswi SMA itu? apa bapak mau meninggalkannya begitu saja?”
“Hufhh! Kenapa saya jadi bimbang.”
Hari berat menunggu para staf dan dewan guru, kesibukan pembagian kelas-kelas yang arah berjalannya sedikit jauh dari kantor guru. Belum lagi harus memahami beberapa siswi yang belum terbiasa tinggal di asrama. Salah satu keluhan siswi yang sering di ganggu monyet.
Di dalam kantor guru, banyak juga yang menyuarakan teror monyet. Berpikir akan mengusir gangguan itu, tanpa meminta inisiatif dari kepala sekolah pak Wala memanggil dukun masuk ke sekolah. Seorang pria tua yang membawa dupa mengelilingi sekolah. Dia tersenyum mengangkat bibirnya, berpikir mantranya mampu mengusir semua gangguan makhluk halus di tempat itu. Langkahnya berhenti melihat sosok monyet besar berdiri di depannya.
Menyemburkan air liur lalu melempar daun kelor, sosok itu melompat mencekik memperlihatkan wajahnya yang menyeramkan. Dia mengelak sekuat-kuatnya, berlari merangkak menjatuhkan semua benda-benda klenik dari dalam saku. Suara teriakan minta tolong tidak ada yang mendengar. Semua indera pendengar di tutup siluman monyet agar bisa membunuh si pria itu.
Dia meregang nyawa di atas batu besar dekat pintu masuk asrama putri. Seorang siswi yang tidak sengaja akan keluar meminta ijin pada kepala asrama di kejutkan melihat sosok pria tidak di kenal meninggal dengan tubuh di penuhi hewan-hewan kecil yang menggeliat di atasnya.
“Argh tolong!” teriaknya ketakutan.
Semua siswi berhamburan keluar begitu pula bagian asrama siswa yang berseberangan di bagian depan. Mayat pria itu di bawa untuk di otopsi, kasus penyelidikan Boy masih bergulir. Jejak-jejak kosong kali ini seolah ada sedikit penerangan melihat pria yang di duga ada kaitan dengan kematiannya.
__ADS_1
Pak Nendi, wartawan yang sampai saat ini berani masuk ke ruang lingkup sekolah ternama itu langsung meliput berita mendengar kabar kematian pria di dalam area sekolah.
Brakk__
Lagi-lagi bantingan meja menghentakkan para guru-guru di ruang rapat. Panggilan alarm mengumpulkan guru-guru untuk datang ke sekolah. Pakaian tidur yang belum sempat mereka lepas, bu Tuja memberi sanksi bagi guru yang datang sepuluh menit sebelum rapat di mulai. Para siswa-siswi di perintahkan untuk masuk ke dalam Aula melaksanakan kegiatan Literasi.
“Gewanta, kamu mau kemana?” tanya Sirgi melihatnya menutup buku berjalan keluar.
Tidak ada satupun murid yang di perbolehkan keluar dari Aula. Tapi, Dewanta merasakan kekuatan bola api yang sangat kuat. Ilmu hitam yang pernah membunuh kedua orang tuanya. Bumm_ dentuman keras di siang bolong. Tidak ada tanda-tanda turun hujan. Sihir yang bertabrakan memperdengarkan angin yang berbunyi berisik di tengah cuaca terik.
Dewanta meminta ijin pada ibu guru dengan alasan pergi ke toilet. Berjalan keluar melemparkan bola api yang terbang ke atas asrama putri. Bola api terpecah, di dalam ruangan yang tersembunyi sosok Kubro mengepalkan tangan.
“Siapa yang bisa menandingi kekuatan ku!”
“Maafkan aku paman..”
Melihat kehidupan Barjan yang mulai meningkat. Pangga berpikir mbah Ireng mewariskan kekuatan supranatural padanya. Dia tidak mau kalah dari saudaranya, nafsu setan menenggelamkan akal sehatnya mencari kesesatan.
“Hahh, banyak yang mengatakan jika ingin mendapatkan ilmu warisan maka harus memiliki garis ikatan darah dari sang pemilik ilmu. Kenapa mbah tidak memilih ku? Aku harus menggunakan mantra hitam melalu mbah Kumis” gumam Barjan.
Di bawah pohon beralas tikar, dia menyatukan kedua tangan meminta petunjuk dari si dukun. Namun, dia di usir mentah-mentah. Pertikaian kedua dukun hingga ke anak cucu masih belum selesai. Barjan melengos, dia berjanji akan memberikan hitungan padanya.
__ADS_1
“Pergi kau! aku tau kau apa niat mu. Hati mu di tempati iblis. Kau tau sendiri bagaimana menggunakan ilmu yang kau inginkan!” bentak mbah Kumis."
“Dasar pria bau tanah! Aku akan kembali untuk mematahkan leher mu!”
Mbah Kumis tau kalau pria itu mau melakukan semuanya. Sekalipun mengorbankan jasad kakeknya sendiri. Dia menggali kuburan mbah Ireng, tanpa rasa takut membuka kain kafannya. Kepala tengkoraknya di ambil, bekas galian di biarkan begitu saja.
“Ahahah! Kau lihat cucu mu ini mbah. Berikan aku semua kekuatan mu! hahah!”
Barjan menabur bunga di atas kepala tengkorak. Dia menyiram dengan darah lalu mengusap bagian kepala atas. Keinginan bisa mengubah daun-daun yang berada di gunakan darah itu berubah menjadi lembaran uang. Mengorbankan janin-janin wanita, sasaran pertamanya adalah Desi. Seorang warga yang tengah mengandung.
Tok_Tok_Tok
Suara ketukan pintu berkali-kali tanpa ada satupun orang berdiri di depan rumah. Desi mengusap perutnya, dia menutup tirai berjalan kembali ke dalam kamar. Bayangan mirip suaminya mendekati memperlihatkan pria tua mencabik perutnya.
Krak, srut, pyur. Desi menjerit sekuat-kuatnya, dia meninggal dunia memperlihatkan isi perut terburai dengan mata terbuka. Petugas siskamling mendengar suara jeritannya, mereka mengetuk pintu membuka kamar Desi terlihat jasad yang mengenaskan. Mereka segera memberitahu Ge yang masih bertugas mengantar mayat di desa bagian Barat.
Mendapat kabar istrinya meninggal, Ge mempercepat kembali melajukan mobil Ambulance ke rumahnya. “Istri ku! Anak ku!”
Bayinya menghilang, istrinya tiada menambah isak tangis pria yang berumur setengah abad itu. Telah lama dia menantikan kehadiran bayi, namun setelah istrinya mengandung harus menerima takdir pahit kepergiannya.
“Bagaimana bisa aku mengantarkan istri ku? Membawanya ke dalam ambulance. Aku tidak mau jasad istri ku di otopsi jika aku membawanya ke rumah sakit. Biarlah, semoga Yang Maha Kuasa membalas semua ini. Hiks”
__ADS_1
Ge memeluk jasad istrinya, kejadian itu membuat ketakutan warga terutama para wanita yang sedang mengandung. Sebagian wanita yang tidak mau bernasib sama seperti Desi memilih meminta benda-benda berbau mistis yang mereka yakini bisa menjaga diri dan bayi mereka. Dari luar hingga ke dalam, rumah mbah Kumis di penuhi para warga yang meminta hal syirik padanya.
“Tolong jaga bayi saya mbah..”