Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Menyesatkan


__ADS_3

Di depan lahan kosong, ada Joko membangun rumah makan. Tempat itu dalam sekejap di sulap sehingga tidak memerlukan waktu yang lama. Interaksi jual beli di lakukan, banyak para pelanggan yang datang menikmati hidangan. Rumah makan itu di bantu sosok makhluk halus sehingga dari pagi hingga petang pengunjung tidak henti berdatangan. Sosok makhluk yang tidak terlihat itu berdiri di antara orang-orang yang datang. Hidangan di tumpah lendir muntahan, semakin menelan makanan mereka merasa semakin terasa nikmat.


Uang pertumpahan di dalam kotak kasir. Kasir kewalahan menyusun hingga melayani pelanggan yang melakukan pembayaran. Beberapa lembar uang ratusan di selipkan salah satu pekerja baru yang bekerja selama satu kali dua puluh empat jam itu.


Joko menyediakan kamar kos-kosan khusus para pekerjanya. Orang-orang dari daerah lain berdatangan melamar kerja mendengar gaji yang di berikan bernilai besar. Tidak ada yang tau cerita sebenarnya kecuali orang-orang tertentu mengenai kekayaannya. Dagangan sudah mulai di buka pukul empat pagi, para pekerja mulai sibuk di dapur, berbelanja, memasak, membersihkan warung dan lainnya. Di salah satu bawah kolong meja. Ada laci yang terkunci, tidak ada yang mengira di dalamnya terletak sebuah wadah berbentuk tampah bulat di atasnya penuh sesajian. Asap bekas bakaran dupa sering tercium oleh para pekerja.


......................


“Kita makan di restoran dekat simpang tiga yuk. Disana makanannya enak banget loh” salah satu anggota keluarga yang menawarkan makanan yang di sebut-sebut sedang viral.


Pak supir mengemudikan mobil sesuai petunjuk arah yang di berikan pria remaja itu. Mereka turun dari tempat parkiran yang tersedia. Memasuki area pintu masuk, ada empat anggota yang menyambut ramah. Suasana di dalam bagai tarikan orang-orang seperti tidak sabar menyantap makanan.


Pakaian para pekerja yang sibuk melakukan tugas masing-masing terbilang cukup rapi. Paduan nuansa hijau lengkap dengan corak batik yang di kenakan, mereka menggunakan ikat kepala hijau seolah memadu padankan hiasan tema rumah makan itu.


Seorang pelayan memberikan menu makanan ke meja para pengunjung. Keluar Kusuma melihat menu-menu itu seolah menunjuk di luar kendali. Tiga belas menu makanan, lima gelas minuman jus dingin dan hidangan penutup beberapa potong kue es krim yang di taburi buah-buahan di atasnya.


Ada seorang pengunjung yang sibuk menenangkan anaknya yang menangis. Balita itu menunjuk ke arah sudut meja yang mereka duduki. Ibu dari bayi itu berjalan menjauh, dia berjalan sampai keluar melewati area rumah makan. Suara anak itu tidak terdengar lagi, para anggota keluar lain mengikuti dari belakang ikut beranjak pergi.


“Kak kamu mencium bau sesuatu nggak?” tanya Mika.


“Bau apa? Nggak ada tuh. Hidung kamu lagi bermasalah kali.”


“Eh bentar deh, kok aku dengar suara monyet ya.”


“Jangan aneh-aneh. Kita kesini belum ijin ke orang tua. Kita judulnya bolos sekolah.”


“Ya, ya, aku sebagai sepupu hanya bisa mengikuti si tuan rumah. Kalau ketahuan nanti aku akan menjawab ala kadarnya.”


Ada tiga orang pekerja membawa makanan sedangkan satunya membawa minuman. Mereka sangat sopan menyusun hidangan agar cukup di atas meja.

__ADS_1


Mika menghitung makanan mereka yang berjumlah tiga belas piring di tambah satu keranjang pisang yang tidak mereka pesan. "Apa ini pesanan orang lain yang terbawa kita ya? kakak pulangkan sana.. "


......................


“Kita hanya ada enam, tapi pesan makanan dan minuman banyak banget!”


Dona yang baru menyadari hidangan makanan yang tidak cukup itu di tambah satu lagi meja di sampingnya. Pilihan menu-menu yang menggiurkan, melihat gambarnya saja ingin membeli semua makanan yang ada. Di tambah aroma harum masakan seolah menari-nari di lubang hidung para pengunjung.


Mereka mulai menyantap makanan. Benta sebelumnya mengucapkan doa mau makan di dalam hati. Tiba-tiba makan yang semula terlihat sangat lezat itu berubah hambar tidak berasa. Di mulai dengan Bismillah, angin berhembus kencang. Salah satu botol jus milik pengunjung tiba-tiba pecah tanpa ada sesuatu yang menggesernya.


Benta melihat semua orang menikmati makanan tanpa memakai sendok. Di dalam wadah kuah itu di seruput sampai tidak tersisa.


“Enak banget ya masakannya. Lain kali kita kesini lagi ya” ucap Tata memetik sebuah pisang di dalam keranjang.


“Ya bener, kalau ada acara tempat ini juga bagus di jadiin sesi dokumentasi” tambah Dona sambil mengamati sekitar.


“Loh Ben, kurang manis ya? Lihat aja itu sepupu-sepupu aku biar manis. Hihihi” ucap Eno tertawa kecil.


“Nggak tau nih rasanya kok hambar. Cobain deh.”


Eno mengambil bagian potongan telur di atas nasi gorengnya. Satu sendok, dua sendok, hingga kunyahan menghabiskan setengah piring makanannya.


“Enak gini kok hambar. Kamu lagi sakit kali Ben.”


Semua makanan, minuman, sekeranjang pisang habis di lahap. Pembayaran menghabiskan total satu juta rupiah. Menu yang menguras isi kantong itu membuat Benta menggelengkan kepala. Mereka kembali pulang. Mika memberitahu ke ibunya, makanan yang berada di simpang tiga bagian kiri dari perjalan kembali itu terkenal dengan ciri khas masakannya yang lezat.


“Banyak banget bu pengunjungnya. Antrian padat, jadi kami pulangnya lama.”


“Maaf bude, Eno Cuma ngekor bawa si Benta.”

__ADS_1


“Oh, maksud kamu rumah makan milik pak Joko? Sepupu ayah mu. Mereka bagian dari keluarga kita juga” ucap Mala.


“Wah, wah, Jadi bisa gratisan dong bude. Hehe, nanti aku bilang bapak biar sesekali singgah kesana” kata Eno.


Mala mengerutkan dahi, dia teringat insiden kematian bayi Kusuma hingga pemindahan kuburan anak ke halaman rumahnya tanpa melakukan doa atau aturan secara agama. Dia mendengar dari Dodo bahwa Joko kaya mendadak setelah kematian anaknya. Tapi belum tau pasti dari mana harta kekayaannya itu berasal.


......................


“Aku juga mau hidup kaya raya pak.”


Penderitaan terlilit hutang, kesulitan hidup tanpa mau berjuang mencari rezeki halal. Mendengar adanya pesugihan Monyet. Sepasang suami istri nekad menemui sosok juru kuncen. Nama mbah Kumis yang di kenal warga sebagai penyambung penyampaian ke jin penunggu gapura.


Langkah awal menyediakan sesajian. Mereka di bekali sebotol air yang berisi bunga kantil. Mengeluh rumah makan bakso mereka akan bangkrut. Mbah Kumis mengarahkan mereka memercikkan air di dalam botol sambil membaca mantra yang telah dia sediakan di selembar kertas dan langkah-langkah selanjutnya yang harus di kerjakan guna melengkapi persembahan.


Pemotongan seekor ayam hitam pada tengah malam. Ayam di rebus tanpa bumbu lalu di makan sampai pada bagian tulang mudanya. Mengunyah tulang seolah mengunyah tulang manusia. Tiba-tiba kaki Tumiem kesakitan.


“Pak, kaki ku sakit sekali. Nggak bisa di gerakkan. Hiks. Arghh!”


Karena tidak sanggup lagi merasakan sakitnya, Tumiem menjerit sekuat-kuatnya. Pita suaranya hampir pecah, dia histeris melihat tulang dengkul menonjol keluar. Darah bertumpahan di atas ubin, Bangka mengangkatnya berlari keluar rumah.


“Tolong! Tolong istri saya!”


“Kenapa pak Bangka? Ada apa dengan bu Tumi?"


“Nggak tau pak. Tiba-tiba saja kakinya begini”


“Sebentar saya panggilkan becak pak.”


Pak Indro, tetangga sekaligus ketua siskamling mengantarkan sampai di balai pengobatan desa. Dia membisikkan pada Bangka bahwa kemungkinan istrinya terkena santet.

__ADS_1


__ADS_2