
Ada suara patahan ranting, langkah kaki yang mendekati salah satu bangunan yang belum jadi. Tuja menutup mulut Kasida yang tidak berhenti menjerit. Jika juga menyuruh si tukang kebun menutup mulut. Penjaga sekolah tau ada mereka bertiga di dalam, pria tua itu tidak mau menanyakan urusan mereka. Baginya asal posisi kerja masih aman terkendali, dia tidak meu mencari masalah di hidupnya.
“Pak , kamu dengar suara teriakan seorang wanita tidak? Saya mendengar suara orang dewasa di dalam gedung.”
“Maaf saya tidak tau pak__”
Menghiraukan bertemu dengan manusia atau hantu mereka berdua masuk menyorot senter handphone di setiap kelas dan ruangan. Karena berpikir tidak ada masalah yang terjadi di dalam pembangunan gedung baru, Limin menarik tangan bu Nana agar segera meninggalkan sekolah.
Di dalam benak, dia hanya mengesampingkan kecurigaan gangguan dari makhluk halus.
“Sudah cukup bu, kita tidak usah mencari tau lebih dalam. Perasaan ku tidak enak, bulu kuduk ku merinding.”
......................
“Bagaimana? Dua guru itu sudah pergi belum?” tanya Tuja menelepon penjaga sekolah.
“Sudah pak, baru saja sepeda motornya keluar gerbang sekolah.”
Ketiga manusia berhati iblis itu, kelakuannya semakin menyerupai binatang. Kejadian tahun-tahun lalu tidak di jadikan pembelajaran, mengubah diri untuk mengakui kesalahan mereka. Jasad Boy di seret ke salah satu galian tunas pohon pisang. Tuja dan Hoka mempercepat gerakan menggali tanah, posisi pandangan mata Karsida melihat ke sekeliling.
“Cepat pak! Keburu si penjaga sekolah menghampiri kita!”
“Sabar bu, pak Hoka sudah masuk kedalam memastikan galian kita aman.”
Tingkah liar setan membuat seorang nyawa melayang menjadi arwah gentayangan. Belum lagi jasadnya yang tidak di semayamkan dengan baik. Karsida menyuruh Hoka mengambil semen di dalam gudang. Belari mengikuti perintahnya, dia di suruh membuat adukan semen menggunakan air kubangan.
“Cepat pak Hoka! kerjanya yang cekatan gitu loh! apa kita semua mau di penjara karena masalah ini? tentunya tidak bukan?"
“Untuk apa ibu menyuruh pak Hoka buat semen sebanyak ini bu?” tanya Tuja.
__ADS_1
Tidak menyangka Karsida memintanya mereka berdua menyemen jasadnya. Tuja melotot , tangannya bergetar saat Hoka mulai melemparkan semen ke tubuhnya. Karsida merampas sekop milik Tuja, dia mempercepat gerakan membantu Hoka menutupi sekujur tubuh jasad anak murid malang yang masih membuka matanya.
“Cepat!” desak Karsida.
Di atasnya mereka menutupi dengan tanah dan tunas pisang. Setelah selesai, bekas semen di buang ke dalam tempat pembuangan sampah. Mereka saling berpesan agar tetap menutup mulut. Penjaga sekolah melihat mereka menanyakan apakah memerlukan bantuannya. Melihat ketiganya bertingkah aneh, si penjaga sekolah hanya terdiam memperhatikan Tuja menyalakan kendaraannya.
......................
“Boy belum kembali juga. Apa kita ke rumah kepala yayasan saja ya pak?” ucap Ida membasuh wajahnya yang berlinangan air mata.
“Ya sudah ayo bu..”
Rumah sepi terlihat gembok di gagang pintu rumah. Ida melihat ada yang berjalan di dalam. Dia membenamkan wajah melihat ke kaca jendela. “Ada apa bu? Tidak ada siapapun di dalam.”
“Aku jelas melihat ada yang lewat pak. Mirip bu Karsida memakai baju putih.”
Tin (suara klakson mobil).
“Jadi saya harap bapak dan ibu jangan menuduh kalau Boy ada di sekolah. Polisi tidak menemukannya tadi disana” ketus Karsida.
Kasus kehilangan Boy di tutup rapat-rapat. Seminggu telah berlalu, tidak ada bukti apapun mengenai tanda-tanda keberadaannya. Sebagian murid berbisik kalau Boy di sembunyikan penghuni monyet di dalam jurang gapura perkampungan Bidara.
Caya melihat dua orang siswi yang merana menangis di sudut ruangan. Meski menjadi hantu penasaran keduanya tidak melaksanakan dendam yang sempat ingin mereka lakukan. Membuat keributan besar, membunuh semua orang di dalam sekolah itu.
Tahun lalu, tepatnya pukul tujuh nol-nol waktu Indonesia bagian barat.
Caya sengaja hadir lebih cepat untuk piket sekolah. Teman-teman kelompok piket yang belum hadir membuat dia sedikit merinding. Ada banyak makhluk halus menatapnya, terutama sosok siswi yang berpakaian seragam sekolah favorit.
“Tolong aku! Tolong jasad ku! Hiks!”
__ADS_1
“Pergi jangan ganggu aku! Arghh!” Caya melemparkan sapu ke Caya yang baru saja tiba.
“Kamu kenapa Ca? untung kepala ku nggak benjol!” Marta cemberut merapikan rambutnya yang tersisir sapu.
“Nggak apa-apa. Perut aku mule, aku ke kamar mandi sebentar ya!”
Bagi Caya, walau sosok itu bukan lagi manusia. Hantu juga harus memiliki tata krama tidak masuk ke kamar mandi anak perempuan. Siswi laki-laki yang bajunya berlumuran darah mencekik leher Caya hingga tubuhnya terangkat ke atas.
“Ka_kamu selamanya akan tetap gentayangan di bumi kalau membalas rasa sakit mu para orang tidak bersalah maupun tersangka. Biar nanti polisi yang menghakiminya” ucap Caya terbata.
Tubuhnya di banting ke lantai, anak laki-laki itu menangis mengeluarkan darah. Dia belum mau meninggal apalagi di alam lain menjadi buronan sosok makhluk monyet bertubuh raksasa.
“Tolong kuburkan jasad ku! Hiks”
Tidak tau dimana jasadnya, dia hanya menangis tanpa memberikan petunjuk. Caya hanya berharap sosok itu tidak lagi mengganggu ketenangan sekolah.
“Jangan merasuki tubuh murid yang tidak ada kaitannya dengan kematian mu. Mereka suda Dih cukup tertekan di ganggu siluman monyet.”
Citra mengintip dari balik pintu WC. Melihat Caya berbicara sendiri, dia ketakutan berlari masuk ke dalam kelas. Pak Limin melotot, dia melihat wajah Citra yang pucat fasih seperti orang baru melihat setan.
Susulan dua orang dewasa mengetuk pintu kelasnya. Limin memberi materi tambahan sebelum meninggalkan kelas. Dia mengajak kedua orang tua boy ke mejanya.
Mempersilahkan duduk di kursi yang telah di sediakan, Ida mulai membuka suara membicarakan anaknya. “Jadi anak bapak belum di temukan? Bagaimana kalau bapak melakukan doa bersama agar secepatnya di beri petunjuk Allah yang maha kuasa.”
“Ya pak, kami akan segera melaksanakan doa bersama di rumah. Tapi saya mau menyampaikan mimpi istri saya. Ayo bicara bu__” ucap Gogon menoleh melihat Ida.
“Ya pak, saya bermimpi anak saya di sekolah ini. Saya mengalami mimpi yang sama, Boy yang berada di alah satu bangunan sekolah.”
“Maksud ibu, kedatangan ibu kesini mau memeriksa dimana letak bangunan yang di tunjuk Boy selama berulang-ulang?” tanya Limin.
__ADS_1
“Ya pak benar. Bapak bisa membantu kami menelusuri setiap bangunan sekolah?” tanya Gogon yang mulai putus harapan.