Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Mati


__ADS_3

Masuk ke dalam perumahan yang letaknya hampir mendekati arah pusat kota. Pohon berbejejer, tanaman bunga yang subur membuat tempat itu Nampak rindang. Di depan ada seorang wanita menjemur pakaian. Dia menghampiri tersenyum ramah, tanpa menunggu keperluan apa pada para tamunya. Wanita itu mempersilahkannya duduk di teras, bu Bona membalas senyuman menanyakan maksud dan tujuan mereka dengan sopan.


Akan tetapi Bona melihat bola mata si wanita tua menuju ke Lilia. Dia mengangguk mendekati Lilia membantu menarik kursi untuknya. “Silahkan__”


Bukan hanya satu kursi yang hanya di duduki Lilia. Keanehan wanita itu menarik kursi kosong lain. Aroma parfum yang dia pakai khas bunga melati. Tapi, di dalam rambutnya yang terselip terdapat beberapa kuncup bunga melati.


“Permisi nek, ini rumahnya bu Nana?” tanya Bona memperhatikan gelagatnya yang aneh.


“Oh nyonya baru saja pergi non. Tunggu saja, bibi akan menyiapkan minum ke belakang.”


“Nggak usah bi makasih” jawab Lilia.


“Tidak apa-apa__”


Tidak ada yang tau di dalam Nana tertidur di tengah merasakan luka-lukanya tidak kunjung sembuh. Luka melebar bau busuk, tangan kaku tidak bisa memegang benda-benda berat. Gigitan setan pada waktu itu mengubah dunianya gelap gulita. Setiap malam bu Nana di hinggap mimpi-mimpi buruk. Dia terkadang menangis sendirian setelah mengupas bagian luka di kulitnya.


Wanita yang di anggap pekerja rumah oleh rombongan guru itu masuk ke dalam. Menutup pintu terdengar suara teriakan dari dalam.


“Bi, bibi nggak apa-apa?” panggil Lilia dari luar.


Dia berputar duduk di kursi, masuk ke dalam rumah tanpa persetujuan yang punya rumah sama saja seperti maling. “Sepuluh menit lagi dia tidak keluar maka aku akan mengajak para bapak ibu guru melihat ke dalam” gumamnya.


Lima menit kemudian si wanita tua membawa dua buah tampan. Satu di tangan kanan berisi beberapa gelas minuman dan satunya lagi di tangan kiri terdapat beberapa piring makan. Pak Limin melihat makanan yang di sediakan sangat menggugah selera. Mengambil satu lepekan, dia menyendok mie ayam. Lahapan mengunyah sampai tanpa sungkan menyantap kue basah yang bersusun rapi di atas keranjang bambu yang di lapisi daun pisang.


“Rasanya berciri khas tradisi sekali. Kamu coba saja pak Dimas” ucap limin meneruskan kunyahan.

__ADS_1


“Ya benar pak rasanya pas di lidah” jawab si guru muda.


Mereka menghabisi hidangan, minuman yang di teguk seperti belum menghilangkan dahaga. Para tamu itu melihat orang-orang yang berlalu lalang memperhatikan mereka. Panggilan pak Limin di jawab sikap cuek salah satu tetangga yang langsung membanting pintu. “Aneh sekali orang-orang disini” gumamnya.


“Uhuk! Hueekk!” terdengar suara Nana dari dalam rumah.


“Bapak dan ibu dengar nggak? Ada suara bu Nana di dalam rumah” ucap pak Wala.


“Mungkin mirip saja bu” ucap pak Geha yang mulai tidak tenang.


Suara pintu menggeret terdengar kuat. Semuanya hening melihat siapa yang membukanya. Bu Nana berwajah pucat berjalan lemas melihat mereka. Rambutnya acak-acakan, luka di tangannya terlihat membusuk. Bau menyengat, tanpa sadar Bona mengipas hidungnya dengan daun pisang sisa makanan.


Ke delapan guru terkejut melihat penampilan Nana yang sangat jauh berbeda.


Suara, ekspresi dan gerak-gerik lemas tidak berdaya. Duduk mencari kursi kosong, dia melihat para tamu selesai menikmati makanan dan minuman.


“Pesan dari warung mana pak. Bu? Maaf saya baru bangun tidur” ucapnya lagi sambil menggaruk lukanya.


“Kami di hidangkan pekerja rumah ibu. Masakannya nikmat sekali sampai piring bersih, tidak ada sisa makan yang tersisa.”


“Maaf pak Geha, tapi saya tidak punya pekerja rumah. Saya baru saja pindah disini, suami saya di luar pulau sedangkan anak –anak saya ikut neneknya di kota lain.”


Alangkah terkejutnya mereka, semua hidangan ghaib yang tersedia mulai membuat mual isi perut. Pak Geha memuntahkan cacing bercampur darah hitam. Susulan muntahan guru lain menekan kuat masing-masing perut sampai bu Bona menjerit melihat sosok aneh di atas meja. Dia menjerit ketakutan, berlari ke bagian pepohonan di belakang rumah.


“Pak Geha! Mau kemana?” pak Wala dan lainnya mengejar.

__ADS_1


Lilia, Bana dan Lele di tahan agar tidak ikut mengejar. Pak Dimas meminjam senter karena melihat keanehan pada langit yang berubah gelap. “Tolong ambil di rak dapur ya pak” ucap Nana.


Kaki Dimas di tarik tangan berbulu. Dia terjatuh hingga dahi membentur lantai, kaki di tegakkan berdiri meraih pegangan laci menarik satu persatu mencari senter tersebut. “Ketemu!” gumamnya.


Menekan dahi yang benjol, Dimas membuka pintu belakang berlari ke pepohonan. Memanggil guru-guru yang tidak terlihat sama sekali. Dia berhenti bersembunyi di semak-semak lalu mematikan senter. Sosok Kera besar berjalan mirip cara jalan manusia. Suara monyet membesar menarik salah satu guru yang menjerit minta tolong. Pak Wala di seret, tubuhnya terluka terkena bebatuan, ranting dan dahan kayu. Dimas mengikuti sampai ke depan gapura kera, masuk ke dalam wilayah yang di penuhi monyet.


“Jangan sampai aku meninggal muda hanya karena monyet setan jadi-jadian ini” gumamnya mengendap-endap mencari jalan supaya dia tidak terlihat.


Berdiri di balik pepohonan besar, dia melihat seorang anak kecil di ikat menggunakan rantai besi. Di samping kanan dan kiri ada dua monyet menjaganya. Dimas tidak membawa senjata apapun, belum tertangkap para siluman saja suatu keberuntungan baginya.


“Dimana monyet tadi membawa pak Wala?” batinnya berjalan ke sisi lain.


Suara pijakan ranting kering, seekor monyet melingak-linguk melompat dari satu pohon ke pohon lain. Sedikit lagi keberadaan Dimas di ketahui olehnya. Melihat Dimas di kubur sampai bagian leher. Dimas mencari sekop, cangkul atau benda apapun yang bisa menggali tanah.


“Sstthh jangan bersuara pak!” ucapnya bernada rendah.


Dia menggali di samping membayangkan rasa ketakutan kalau monyet besar itu datang dan ikut menguburnya. Berhasil mengeluarkan Liman dari tanah. Mereka berhenti di depan patung yang bermandikan darah. Mulut Liman di tutup kuat Diman ketika akan berteriak. Ekor monyet berubah wujud lebih besar. Dia memukul-mukul kuat dadanya karena tahannya lepas dari cengkraman.


Kedua pria itu masih bersembunyi, menyaksikan kerumunan monyet berkumpul. Interaksi cara berkomunikasi mirip manusia. Di tangan mereka ada rantai besi dan pisau.


Ada di sarang monyet, mereka di incar dan tampak monyet-monyet itu seperti sosok makhluk yang sedang mencari mangsa. Dimas mengucap tubuhnya dengan tanah. Sekujur tubuh yang menyisakan telinga, hidung , mata dan mulut. Dia mencari-cari kotoran monyet menggunakan sorot senter.


“Untuk apa? Kenapa kau malah mengotori tubuh mu pak?”


“Cepat bapak usap tubuh bapak kalau mau selamat keluar dari sini” bisiknya.

__ADS_1


__ADS_2