
Ruangan kelas-kelas kosong terisi tawa, aktivitas siswa siswi dan suasana baru di sekolah. Caya salah satu siswi yang bersekolah disana terpaksa mematuhi perkataan neneknya yang mengharuskannya sekolah di tempat angker. Caya melihat sosok mengerikan yang sesalu melihatnya dari atas bangunan. Sosok monyet tinggi besar berbulu mengeliuarkan taring meneteskan air liur menghujani para murid yang masuk dari arah pintu masuk.
“Eh kamu uda dengar belum cerita kakaknya si Mika?”
“Kenapa emang kakaknya?”
“Aku dengar dari ayah kalau Tata meninggal di daerah wilayah sarang monyet. Jasadnya mengenaskan, kepalanya tertancap pohon tepat di kepalanya.”
Suara bel menandakan waktu baris berbaris di lapangan. Guru piket mengintruksi siswa-siwi gara merapikan barisan. Hari ini tepat hari keseratus, mengantisipasi kesurupan murid. Kepala sekolah menyiapkan sesajian di bawah pohon-pohon beralas daun pisang. Siswa di larang keras menyentuh sesajian yang di tempatkan pada tiap-tiap pohon tertentu. Pihak sekolah beralasan bahwa itu sebagai simbol tolak bala gangguan dari makhluk halus.
“Aku tau itu adalah pengumuman palsu. Kepala sekolahnya saja sudah di rasuki iblis. Matanya menyala penuh memutih. Tidak ada yang tau, ya tidak ada pula yang percaya dengan ucapan ku” gumam Caya.
......................
“Ehem, cuit-cuit. Pak guru godain kita dong!” seruan para murid yang mengincar guru-guru muda.
Siapa yang mengira pandangan indah, cantik memukau, wajah putih berseri membuat setiap pria yang melihatnya terpesona. Caya memperhatikan orang meninggal, sosok mayat berbentuk poncong yang talinya belm terbuka mengikutinya. Ada juga penampakan kuntilanak yang mempoles wajah indah setiap murid.
__ADS_1
“Buat apa sekolah kalau memikirkan kecantikan dari setan? Pakai susuk hanya akan merugikan mereka!”
Segala gumam dari Caya terbuyar melihat genangan air mata salah satu siswa yang ada di barisan kelas dua terisak tangis. Ada sosok perempuan berdiri di sampingnya, pakaian kotor menangis senggugukan . Bola mata terlepas, mengetahui ada yang bisa melihat. Dia merintih minta tolong terlepas dari gangguan monyet yang menjeratnya.
“Maaf tapi aku tidak bisa membantu mu. Aku tidak memiliki apapun” ucap Caya menjawab menggunakan bahasa batinnya.
Banyak yang mendapat durian runtuh berhasil menakhlukan hati para guru dengan kecantikan susuk yang di miliki siswi itu. Permata masih menjadi berita hangat para murid karena beruntung di pinang guru tempat dia bersekolah.
“Ini namanya menyelam sambil minum air. Incaran memancing dapat ikan putra duyung!” ucap Boy berlagak kemayu mengipasi wajahnya.
“Ya si kakak kelas kita permata lagi beruntung aja. Sesuainya si permata jadi nama mungkin bisa perpengaruhi nasib ya gais! Kali aja tahun ini pak Dimas mau membuka hati selebar-lebarnya untuk aku ya.”
Lilia melahap siomay melanjutkan angan-angan membayangkan pak Dimas yang tiba-tiba datang melamarnya.
Masa pacaran antara guru dengan murid itu di dukung baik guru lain terutama kepala sekolah. Di dalam benak Karsida, dia harus menarik daya pemikat masyarakat sekitar supaya menempatkan anaknya bersekolah di yayasan tersebut.
Setiap tahun, bangunan di renovasi menggunakan uang kantong pemilik yayasan sedangkan uang bantuan operasional sekolah untuk mendukung siswa-siswi yang belajarnya unggul berprestasi.
__ADS_1
Sebagian bangunan yang di tambah tetap di letakkan sesajian di atas nampan. Para pekerja sudah menganggap hal itu sebagai kewajaran di samping pemikiran mereka tidak mengetahui maksud di dalamnya. Kalau manusia sudah bersekutu dengan jin, wajahnya ada kemiripan dengan iblis yang dia sembah.
Di hipnotis siluman iblis ketika kaki melangkah masuk ke dalam wilayah sekolah. Banyak guru, pegawai dan pekerja sekolah merasakan kalau sudah waktunya pembagian gaji bulanan maka tubuh mereka akan sakit dngan berbagai macam penyakit yang di rasakan. Pak Botak menguatkan diri dinas menunggu antrian panggilan pembagian gaji dari bendahara sekolah.
Wajah pucat, menggigil dan batuk berdahak. Ada-ada penyakit yang di rasakan para perangkat sekolah. Pak Botak bergetar menerima gaji dua juta rupiah yang dia terima setiap bulan.
“Kalau di pikir-pikir gaji ku ini kurang untuk memenuhi biaya membeli baju seragam yang di wajibkan setiap ada acara di luar maupun di dalam sekolah. Aku terpaksa menghutan dari koperasi guru. Ah, bagaimana ini? aku harus minta jam tambahan mengajar sama ibu kepala sekolah” ucap pak botak.
Rencananya tertunda melihat beberapa pria masuk ke dalam ruangannya. Dia meminta ijin pada kepala kurikulum agar mengijinkannya permisi pulang. Kelas-kelas yang akan dia masuki sebelumnya telah dia amankan dengan memberikan tugas ke sekertaris kelas.
Pak Geha merasakan menerima uang gaji setiap bulan bagai menerima api yang membakar tubuhnya. Dia di beri penangkal dari orang tuanya, menelan pisang setelah menerima gaji untuk menjaga dari bala dan penyakit.
“Pak, kita sudah tau sekolahnya itu memakai pesugihan Kenapa Geha harus berkorban bekerja disana. Ibu tidak mau terjadi sesuatu pada anak kita” ucap Kiem.
“Bapak sudah melarangnya, tapi Geha memaksa karena sangat sulit mendapatkan pekerjaan di kampung ini bu. Kalau di kota kabarnya surat-surat lamaran yang dia kirim belum mendapat balasan. Geha akan pindah kerja kalau di panggil pihak perusahaan” jawab Bento menghela nafas.
Teriakan siswi di kejar sosok monyet berbulu putih. Siswi yang tanpa sengaja berjalan melewati gedung renovasi kosong terkena gangguan penghuni siluman iblis. Keanehannya melihat para pekerja yang seolah tidak mendengar suaranya.
__ADS_1