
Kaki Tumiem lumpuh total, dia tidak lagi bisa berjalan. Setiap hari menggunakan kursi roda. Sepanjang malam dia memikirkan nasib buruknya. Dia tidak menyentuh makanan dan minuman. Wajahnya di basahi air mata. Wanita itu seperti orang gila menjerit histeris mengusir setiap orang yang masuk ke dalam kamarnya.
Pesugihan penglaris rumah makan bakso harumkuro yang terletak di area lintas perkotaan bagian Barat terlihat ramai ramai pelanggan. Antrian panjang membeli bakso yang di kabarkan cita rasanya sangat menggugah selera. Keluarga Marzuki yang penasaran ingin mencicipi makanan itu menepikan kendaraan memesan empat bungkus untuk di bawa pulang.
Antrian satu jam di tambah perjalanan setengah jam. Sesampai di rumah, bakso di pindahkan ke dua mangkuk di selingi dua jus minuman segar. Hasya yang sedang mengandung, dia sudah tidak sabar ingin mencicipi bakso itu.
Pak Hanja dan bu Tikem sudah duluan di hidangkan di depan teras. Tepat favorit orang tua Marzuki itu berbeda dengan keinginan Hasya yang tidak terlalu dekat dengan mertuanya sehingga memilih di ruang makan.
“Gimana rasanya dik?”
“Kok hambar ya mas?” Hasya mendorong mangkuk baksonya ke sisi Marzuki.
__ADS_1
Pak Hanja meletakkan bekas mangkuk miliknya dan Tikem ke atas meja. Terlihat bakso mereka masih penuh. Dua gelas teh hangat yang mereka habiskan, dia mengajak anak menantunya. Di ruangan sholat dekat ruang tengah tempat mereka setiap hari melaksanakan ibadah, tidak biasanya Hasya merasakan ada yang sosok aneh mengikutinya. Seumur hidup baru kali ini dia melihat sosok makhluk halus saat dia selesai ibadah.
“Aku menyadari sholat ku ini tidak khusyuk sehingga setan masih bisa menganggu” gumamnya melipat mukenah ke dalam keranjang.
Tiba-tiba dia merasakan mual, Hasya berjalan cepat ke kamar mandi menumpahkan semua isi darid alam kerongkongan. Bakso yang baru dia telan beberapa jam lalu keluar lagi sedetik pandangannya gelap gulita.
“Hasya!” teriak Tikem melihatnya pingsan di kamar mandi.
Bayi yang ada di dalam perutnya keluar dengan sendirinya. Bayi yang baru lahir merangkak, sekujur tubuh penuh darah. Tali pusar belum terlepas dia gigit paksa. Sosok kera besar berdiri di tengah jalan seolah menjemput bayinya.
“Tidak! Jangan bawa anak ku! Hiks!”
__ADS_1
Suara jeritan Hasya hingga dia tersadar telah berada di ruangan operasi. Pada malam jumat kliwon, Hasya melakukan operasi melahirkan setelah air ketubannya pecah dan dia mengalami pendarahan. Tidak ada yang mengetahui di sebuah kamar yang di penuhi benda-benda ritual memuja bayi Hasya semasa dia mengandung. Peran saudara yang tidak lain adalah Joko sepupu dari Marzuki, dia menjadikan bayi Hasya sebagai tumbal pesugihannya.
Sosok monyet besar terlihat salah satu dokter yang sedang melakukan operasi. Dia sangat terkejut hingga tubuhnya terjatuh hampir menimpa perut Hasya. Beberapa suster membantunya tegak, karena tidak kuat melihat sosok makhluk itu semakin mendekat dia berlari keluar ruangan.
“Operasinya sudah selesai dok? Bagaimana anak dan istri saya?”
“Hantu! Ada hantu di dekat istri bapak!”
Hanja berlari memegang segelas air bening. Dia meminta Marzuki mengucapkan ke bagian telapak kaki dan ubun-ubun Hasya sebanyak tiga kali. “Jangan lupa baca Bismillah dan ayat kursi.”
“Baik pak..”
__ADS_1
Air yang berisi ayat-ayat pendek yang dia tiup selesai sholat hajat. Ruangan operasi itu terlihat kembali tertutup setelah seorang dokter pengganti masuk ke dalamnya. Marzuki yang ikut mendampingi istrinya meminta ijin kepada dokter agar memperbolehkan mengusap air yang dia bawa ke istrinya mengingat kejadian yang di alami dokter tadi.