Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Doni di curi siluman monyet


__ADS_3

Irin di bawa ke mushola untuk di ruqyah. Dia memuntahkan cairan kental berwarna hitam. Dia di antar pak Dimas pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, guru muda itu mendengar ramai suara monyet. Dia mempercepat laju sepeda motor agar segera sampai.


Pagi di tengah keributan Kubra dan para anggotanya. Tidak ada yang tau mereka menganiaya seorang pria yang memakai baju seragam kantoran bertekuk lutut ketakutan di depannya. Cagur membawa map dan sebuah pulpen. Dia memaksa agar pria itu menandatangani tepat di bagian tiga lembar surat bermaterai.


“Ampun tuan! Ampun pak!” ucapnya menyatukan kedua tangan.


Memaksa agar si bendahara desa melakukan korupsi dan menjadi pengikut aliran sesatnya. Selesai menandatangani, mereka menendang tubuhnya hingga dia tidak sadarkan diri. Kekuatan hitam yang melayang di udara, bola api terik mengincar kematian jiwa yang di tuju. Kekuatan Kubro sangat besar tidak tertandingi, di kala itu dia sangat Berjaya hingga di kenal sosok pria berilmu hitam tinggi.


Gewanta merasakan ada hawa hitam di tengah bola api berterbangan di atas langit. Dia berlari menjatuhkan sebuah kalung bertali hitam, ada bandul batu merah mengkilat.


“Hei anak baru tunggu! Kau menjatuhkan kalung mu! Caya mengejarnya sampai ke tepi gapura.


Caya mengejarnya hingga dia kehilangan jejaknya. Dari belakang seekor monyet jadi-jadian menyerangnya. Caya menggunakan mata batin menusuk bagian dada dan perut si amang. Dia menggunakan mata batin melihat banyak monyet berwujud manusia mendekatinya.


“Lari!” Gentawa mengeluarkan bola api di tangannya.


Dia menjauhkan para siluman monyet yang mulai mengelilingi Caya. Seekor monyet putih bertubuh besar membawa Caya ke sarangnya. Gentawa menggunakan kekuatan harimau mendorong makhluk itu lalu mengeluarkan bola-bola api di udara.


“Ayo cepat lari!” Gentawa menarik tangannya pergi menjauh.


“Terimakasih, ini kalung mu tadi terjatuh” kata Caya melihat bola matanya berubah memerah.


“Aku juga mengucapkan terimakasih. Kita berpisah disini, aku ada keperluan yang sangat mendesak.”


Di udara bergumpal asap-asap putih. Abu bekas bakaran dan hawa yang sangat panas. Orang-orang yang terkena sihir kekuatan bola api yang dia tuju langsung sekarat. Kubra membunuh manusia tanpa belas kasih. Dia merobek bajunya, keringat deras mengeluarkan tenaga dalam, kiriman sihir membunuh orang-orang yang tidak patuh padanya.


Dari bawah tempat rumah yang melayangkan kekuatan hitam. Gentawa mulai mengeluarkan ilmu bola api yang selama ini dia latih sendiri. Terlepas dari pengawasan paman dan bibinya. Gentawa berharap kekuatannya bisa menembus sihir si ketua pria pembunuh.


“Sialan! Siapa yang berani menentang kekuatan ku? Sedikit lagi aku membunuh mereka!” ucap si pria tua.


Hujan bola api sirna di telan kekuatan Gentawa. Orang-orang yang dapat merasakan ada perang ghaib di udara menunduk mencari tempat persembunyian. Kalangan golongan sihir hitam di perintahkan mencari tau siapa kekuatan yang hampir bisa menandingi kekuatannya. Tas ransel hitam masih di atas pundak, jaket hitam penutup kepala berukuran besar selalu dia pakai saat mulai melayangkan kekuatan. Gentawa berlari masuk ke dalam lorong panjang.


......................


Ririn dan murid lain di di pakaikan mukenah. Posisi tubuh telentang, bahasa tubuh seperti seekor monyet. Suara yang keluar dari rahang terdengar kuat menambah teriak para murid lain. Pelajaran terganggu, siswa-siswi lain berhamburan pulang. Jam pelajaran sekolah di pulangkan lebih awal. Guru-guru agama mulai meruqyah, begitu pula ustadz Zaki yang datang langsung mengambil posisi meletakkan kedua telapak tangan di kepala para siswi.

__ADS_1


“Aku yakin sekali kalau penghuni di tempat ini yang mengganggu “ bisik bu Nana.


“Ya benar bu, aku juga curiga kalau ini ulah makhluk jelmaan monyet! Tapi bagaimana lagi? Sama siapa kita mau protes? Kita harus lebih banyak bersabar menghadapi semua ini” jawab bu Bana.


Surah-surah, ayat suci al qur’an yang di lantunkan membuat mereka semakin menggila. Jeritan lebih keras, bola mata memutih, tangan mencakar lengan bu Nana. Darah keluar menetes ke wajah Ririn. Lidah Ririn berubah memanjang menjilati darah di dahinya. Dia mengerang mendengus, membuka mulutnya lebar-lebar.


Ustadz Zaki mengambil segenggam garam, dia melemparkan ke makhluk yang dia lihat. Seekor monyet putih besar seolah kebal lemparan garam yang berisi surah An-nas. Berlari mengejar makhluk ke pepohonan belakang rumah.


“Tunggu ustadz! Panggil pak Diman.


Langit mendung, siang hari terlihat gelap menerbangkan kabut putih pekat.Diman mencari dimana sang ustadz, akan tetapi semakin kuat suaranya memanggil. Suaranya menghilang di sambut kelelawar berterbangan.


“Awas pak Diman, jangan berdiri disitu!” ucap ustadz Zaki melemparkan tasbih miliknya.


Sosok penampakan makhluk siluman monyet terbakar, suara aneh mengundang sahutan suara yang tidak kalah terdengar mengerikan. Mereka di kepung kerumunan siluman kera putih. Sosok monyet terbesar memegang sebuah senjata berwarna emas memukul kuat tubuh Diman.


Tubuh pria itu terlempar menumbangkan salah satu tunas pohon. Bacaan ayat suci Al qur’an membuat mereka kepanasan. Para makhluk jadi-jadian itu berhamburan kesana-kemari. Kaki DIman tertarik masuk ke sela semak belukar.


“Arggh! Tolong aku ustadz!”


Dia terpaksa menyelamatkan sukma anak-anak murid yang tubuhnya di duduki para siluman kera. Tubuh ustadz Zaki bersimbah darah, dahi terluka hanya di seka dengan ain sorban miliknya.


Mengucap Bismillah, perlahan murid-murid kembali sadar. Salah satu siswi mengeluh sekujur badannya sakit semua. Dia meminjat-pijat bagian punggung, berharap tangannya bisa berputar meneruskan pijatan pada bagian yang terasa sangat sakit.


Air benih di teguk, mengusap wajah dengan bacaan surah Al Fatihah. Ririn menangis seperti hanya dia yang belum sembuh total dari kerasukan setan.


“Hiks, jangan bakar rumah ku! Hiks!”


......................


“Aku akan mengangkat masalah ini ke ranah hukum jika kepala sekolah atau yayasan tidak bertanggung jawab! Anak kita sudah hampir satu minggu tidak ada kabar!” ucap Ida sesenggukan.


Dia tidak selera makan dan minum, berhari-hari berdiri di depan telepon rumah menunggu panggilan kabar dari pihak kepolisian maupun sekolah. Hatinya semakin berkecamuk mendengar cerita warga yang mengatakan dahulu juga pernah ada siswi yang hilang di sekolah itu. Tapi belum di ketahui sampai sekarang bagaimana kejadian pasti atau berita penemuannya.


“Hidup atau mati, aku harus melihat tubuh anak ku pak! Hiks. Cepat kita jual aset rumah untuk menemukan anak kita!” kata Ida menambahkan permintaannya.

__ADS_1


Uang bukan lah segalanya, tapi segalanya butuh uang. Tidak bisa di pungkiri segala hal yang berbentuk instan maka di imbangi dengan gaya instan pula. Judulnya uang dan uang, urusan yang belum tuntas tidak bisa di tunggu lebih lama. Orang tua Boy menjual semua harta benda mereka demi mengetahui dimana anaknya berada.


Cara dukun, halus, prosedur sosial atau instan. Semua di lakoni, Boy anak sematang wayang yang sangat mereka sayangi. Mencari relasi, dukungan hingga memberi pelicin di ranah hukum. Kasus Boy mulai di selidiki lebih dalam. Sandungan pertama di sekolah tempat dia menimba ilmu, salah seorang detektif yang bekerjasama dengan kepolisian mendapatkan banyak informasi bahwa Boy terakhir kali terlihat di dalam wilayah sekolah.


“Aku doa’kan hidup si Tuja dan Karsida tidak akan tenang. Mereka akan merasakan kesedihan dua kali lipat penderitaan karena telah merampas nyawa kedua anak ku!”


Sumpah serapah Mala, dia tidak akan pernah menerima kenyataan anaknya meninggal akibat ulah setan yang peliharaan keluarga Joko. Sepeninggal Tata dan Galang, Mala lebih sering menghabiskan waktu di kamar. Menangis sepanjang hari hingga air mata mengering, pandangan mata kosong tiba-tiba berubah mata memangsa.


“Ibu ngapain?” tanya Mika meletakkan tasnya.


Dia tidak menjawab pertanyaan anak keduanya. Mika melihat ibunya mengasah pisau hingga goresan merobek ujung jemari tangannya.


“Bu, ibu kenapa? Jari ibu berdarah!”


Mika menarik tangannya agar berhenti. Mala baru menyadari ada Mika, dia merasakan jari telunjuknya sangat sakit. Mika berlari mengambil kotak P3K. Dia merasakan ada yang mengikuti gerakannya. Dua bayangan di bawah sorot lampu yang meredup. Lampu berkedip, bantingan suara pintu dari lantai atas mengagetkannya.


Tangisan Doni dan Dona melengking keras. Mala berlari di susul Mika, mereka terkejut seekor monyet berdiri di pinggir jendela menggigit kerah baju Doni melompat keluar.


“Anak ku! Tolong!”


Mala berlari keluar sambil menggendong Dona. Suara teriakan mengundang warga mendatanginya. Mereka mencari anaknya Doni yang menghilang di bawa monyet. Samar-samar suara tangisan Doni tidak lagi terdengar. “Pasti ada di sarang gapura kera. Coba kita cari saja disana” ucap salah satu warga yang memegang obor.


......................


Orang-orang yang berada di depan mushola tidak lagi mendengar teriakan para murid. Selesai di jemput orang tua dan wali, terlihat kepolisian masih sibuk menyelidiki kasus dan seroang detektif yang memakai topi putih. Tuja tidak bisa menghentikan kegiatan mereka yang mulai mencari jejak bekas-bekas keberadaan Boy di lingkungan sekolah.


Sebelum para pemeriksa bagian hukum melakukan tugasnya. Karsida menutup mulut seorang kontraktor yang menemukan sepatu sekolah siswa di bangunan reruntuhan.


“Ingat ya pak, kalau pun kau tetap buka suara tentang semua yang kau ketahui di sekolah ini. Maka kau akan tetap di bawa-bawa dan aku akan memastikan kau juga akan di penjara!”


Ucapkan Karsida selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Dia lebih memilih menjauhkan diri jika para aparat hukum itu datang. Di hari yang panjang memeriksa setiap sudut sedetail-detailnya, mereka mulai mempertanyakan lebih dalam kejelasan benda-benda mistis dari pemberian para dukun yang sering di sebut-sebut di kampung itu.


“Jujur saja ini tidak ada kaitannya dengan siswa yang hilang pak. Bapak sekalian bisa membawanya untuk di pertanyaan pada mbah Kumis.


Nada tinggi di ucapkan akibat amarahnya mulai memuncak. Tuja membuka satu kancing bajunya. Ruangan full AC, tapi dia masih merasa sangat kepanasan. Tuja melihat seekor monyet masuk ke dalam ruangan. Dia hanya memperhatikan kemana makhluk siluman itu melompat. Mendekat ke pundak Nendi, pria yang merasakan ada yang naik di atas pundak membuat dia berdiri meminta ijin pergi keluar.

__ADS_1


__ADS_2