
Tidak semua masalah siap saji di selesaikan dengan dukun. Hati manusia yang lemah, iman yang rapuh dan kepercayaan kepada sang Khalik setipis kulit bawang. Jimat di isi benda-benda syirik, setelah membawa atau menyimpan benda itu maka hidup semakin tidak tenang. Contoh nyata adalah Paiyem, merasa ada terus mengikutinya hingga di dalam alam bawah sadar.
Bermimpi di kejar-kejar sosok monyet besar berukuran seorang pria dewasa. Wanita yang sedang hamil tujuh bulan menjerit setiap malam, dia terbangun sekitar pukul dua belas. Paiyem membuka mata meraih ponsel di dekatnya untuk menghubungi suaminya yang masih bekerja di pembangunan jalan Tol kota. Lusa dia baru bisa pulang, karena nomornya tidak aktif di samping ketakutannya yang tidak tertahankan. Dia berlari keluar mengetuk pintu rumah tetangganya.
Namun tradisi di kampung itu sangat di pantangkan untuk keluar malam atau membuka pintu sendirian. Tetangga yang tidak mau membuka pintu membuat dia semakin ketakutan masuk kembali ke dalam rumah sambil menatap ke sekeliling ruangan.
“Bagaimana kalau hantu tadi mendatangi ku?” gumamnya sambil menggenggam erat jimat bandul hitam.
Paiyem mempersiapkan lilin dan pematik. Dia memeriksa semua pintu, duduk di atas kasur hingga tanpa terasa terlelap sampai pagi. Suara panggilan siti membangunkannya, dia membuka pintu melihat raut mimik wajahnya tertekuk. Wanita yang umurnya jauh lebih tua darinya meminta maaf karena tidak menjawab panggilannya tadi malam.
“Sekali lagi saya minta maaf bu Paiyem. Saya trauma di ganggu makhluk itu. Oh iya, ibu ada keperluan apa? Siapa tau saya bisa bantu..”
“Saya mimpi buruk bu, ya biasalah bunga tidur. Sudah tidak apa-apa kok bu.”
“Benar tidak apa-apa? Duh saya jadi enak hati. Oh iya, kalau ibu mau di pijat. Saya punya kenalan di kampung sebelah, nek suparmi dukun beranak sekaligus tukang pijit wanita hamil.”
“Oh kebetulan badan saya juga lagi pegal-pegal. Kira-kira rumahnya jauh masuk ke dalam bu?”
“Tidak bu, tepat di depan bagian masuk desa yang di apit dua pohon besar ada sebuah rumah yang terbuat dari bambu. Disana hanya ada satu rumah pada pintu masuk.”
Siti tampaknya peran tetangga yang suka berbasa-basi. Dia berpikir kalau tadi malam akan melahirkan maka tidak ada satu pun yang menolong. Terdengar jelas wanita itu mendengar suara teriakan Paiyem. Bahkan dia hanya mengatakan dimana letak tukang pijit tanpa mau mengatakan akan menemaninya.
“Ya, di dunia ini memang semua sendiri. Tidak ada namanya sahabat atau teman baik. Bu Siti juga Nampak terburu-buru” gumam Paiyem.
__ADS_1
Dia mengganti pakaian, berjalan menuju ke alamat yang di katakan Siti. Di pertengahan hari sesampainya disana seorang wanita tua sedang menyirih di depan rumah menatapnya sinis.
“Mau perlu apa kemari? Aku saran kan engkau buang benda hitam yang kau bawa itu. Makhluk-makhluk halus lebih banyak mengganggu!” ucapnya sedikit membentak.
“maksud nenek, benda ini?”
Paiyem menunjukkan jimat padanya. Wanita itu merampas lalu berlari kecil menjauh ke luar. Dia membakar benda itu, suara aneh yang terdengar samar di telinga. Sifat wanita itu yang tiba-tiba berubah sedikit lembut setelah melihat jimat yang dia bawa hangus terbakar. Dia mempersilahkan Paiyem masuk. Menggelar tikar, memintanya merebahkan tubuh. Di sela pijitannya, wanita itu menyemburkan bekas menginang di perutnya. Paiyem merasakan tangan si nenek sangat dingin.
Satu jam berlalu, wanita itu memberikan minyak urut lalu berpesan agar jangan pernah berhenti saat melalui jalan sepi.
“Engkau harus mengingat nasehat ku ini. Ada satu makhluk yang tidak mau pergi dari mu.”
“Ya aku akan mengingatnya nek.”
“Ahahah! Hahah!” siapa yang mengetahui sosok yang mengganggunya adalah Barjan.
Paiyem berlari memegang erat perutnya. Dia masuk ke dalam kuburan bekas galian mbah Ireng. Pria itu menyetubuhi Paiyem di dalamnya. Paiyem yang ketakutan sampai pingsan di dalam tangisannya yang tidak bisa melakukan apa-apa. Rahasia hitam itu hanya dia simpan sendirian seumur hidup. Ketika tersadar, sayup-sayup dia mendengar suara teriakan orang-orang memanggil namanya.
Dia hanya bisa menangis melihat suaminya yang tidak tau asli atau palsu mengangkatnya keluar dari dalam kuburan. Semua orang yang ada di sana melihat baju Paiyem di penuhi lumpur. Bayinya masih utuh, tapi kejadian berada di dalam kuburan mbah Ireng membuat rasa ketakutan warga sejadi-jadinya.
Kain kafan terbuka, kepala tengkorak mbah Ireng menghilang menambah suara jeritan pada warga yang tidak berani melihatnya lagi. “Musibah, ini akan menjadi bencana di kampung kita pak!” ucap Madan sampai menjatuhkan senternya.
Beberapa orang lain lari kocar-kacir, meninggalkan tempat itu. Seingat warga telah mengubur jasad mbah Ireng di taman pemakaman umum. Tapi kuburannya berpindah di hutan di sekitar ada bunga-bunga yang menaburinya.
__ADS_1
“Kamu kenapa bisa disini? Pantas saja perasaan abang tidak menentu dan ingin segera cepat-cepat pulang” tanya Janter.
Lidah kelu, pandangan kosong dan suhu tubuh sangat tinggi. Janter membersihkan tubuh Paiyem, dia mengolesi perutnya yang tidak terasa ada pergerakan bayinya sedikitpun. Air ketuban Paiyem pecah, dukun beranak yang sudah dia jemput memulai membantu proses persalinan.
“Pak, tolong ambilkan saya air hangat dan handuk.”
“Ya sebentar bu.”
Berselang beberapa menit, suara jeritan sang dukun beranak terdengar keras. Janter berlari melihat wanita tua itu meninggal dengan perut terburai. Janter tidak melihat dimana wanita berada, istrinya tidak sadarkan diri. Suara berisik terdengar keras, Janter mengikuti suara tersebut yang berasal dari arah gudang.
Bayi yang di rasuki iblis, di dalam dirinya ada arwah mbah Ireng. Sosok dukun sakti yang kini di puja Pangga cucunya. Di dalam kendi yang berisi bunga bercampur darah, dia tertawa melihat daun yang dia benamkan di dalamnya berubah menjadi uang.
“Dimana anak ku?” gumam Barjan membuka pintu.
Sosok mbah Ireng bersembunyi di dalam tubuh bayinya. Barjan mengangkat anaknya yang mulutnya berlumuran darah. “Apakah anak ku yang melakukan semua ini? membunuh wanita itu?” gumamnya sambil memeluk erat.
Hari penabalan Didim, para warga kampung melihat sosok bayi yang jarang menangis itu tiba-tiba rewel hingga tangisannya memekik saat mendengar pak ustadz membacakan surah-surah suci ayat Al qur’an. Jendela yang terbanting, tanpa terasa ada angin menyentuh kulit. Pemadaman lampu hingga suara-suara aneh yang menggema di udara.
“Cepat suruh mereka pulang pak” bisik Barjan pada salah satu pekerjanya.
“Baik den..”
“Mohon maaf pak Ustadz, sepertinya acara do’a didim sampai disini saja. Maaf bapak –ibu..” ucap Setyo sambil tersenyum nyengir.
__ADS_1