Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Di alam lain


__ADS_3

Galang memperhatikan para penumpang menatap ke depan gerakan kaku tidak bergerak. Penumpang yang duduk di dekatnya menggerakkan kepala, berputar memperlihatkan senyuman datar. Air matanya menetes mengeluarkan darah. Galang ketakutan berpindah tempat duduk ke beberapa kursi bagian belakang. Namun, melihat kernet supir meminta uang sewa pada para penumpang. Galang bersembunyi di bawah kursi karena dia tidak membawa uang sepeserpun.


Berhasil bersembunyi menghindari kernet. Ketika pintu bus terbuka dia berlari keluar. Keanehan melihat suasana malam memperlihatkan tidak ada satupun orang lewat. Dia berjalan sekeliling seperti ada yang melihatnya. Cahaya mata merah, suara menyeramkan dan angin yang berhembus kencang.


“Ayah! Ayah aku takut! Setelah pingsan aku jadi lebih sering melihat hantu. Ayah, hari ini ini aku pergi dari rumah. Ibu selalu saja marah pada ku.”


Galang bercerita di depan kuburan ayahnya. Melihat sosok merangkak mengeluarkan tetesan lendir. Sosok itu kakinya terbalik ke atas mendekatinya. Galang sangat ketakutan, dia berlari kocar-kacir. Mengingat arah jalan menuju rumah sahabat ayahnya. Letak rumah di depan foto yang usang meyakinkan alamat yang di tuju.


Ting tong. (Suara bel berbunyi)


Di samping rumah, ramai burung hantu berterbangan. Petir menggelegar, listrik padam ketika salah satu pria membukakan pintu. Wajahnya menyeramkan, Galang menjerit berbalik arah. Pria itu menarik tali tasnya.


“Hei, hei, adik cari siapa?”


Mendengar suara manusia, Galang berhenti histeris. Menoleh melihat pria yang mirip ada di dalam foto. Dia menyambut ramah Galang. Senyumannya sangat lebar memperlihatkan giginya yang putih bersih. Sahabat ayahnya Galang bernama pak Galang senang melihat kedatangannya.


“Paman Doni? Saya Galang om, saya anaknya pak Damar.”


“Oh nak Galang sudah besar ya sekarang. Kamu sendirian? Mari masuk..”


“Bu, ini ada Galang. Anak temennya ayah waktu kuliah dulu.”


“Hei Galang, sini makan bareng. Saya tante Masika, kamu menginap disini saja ya malam ini”


“Terimakasih om, tante..”


Dua anak kembar, memakai gaun sama. Mereka berdua tersenyum melambaikan tangan. Menikmati hidangan di barengi gelak tawa. Bu Masika memotong tiap bagian ke piring-piring kedua anaknya, galang dan suaminya. Sesekali melakukan canda tawa, suasana lebih ramai mendengar kabar wisata piknik bersama minggu depan.

__ADS_1


“Ayah mau kita piknik pakai baju barengan. Nanti kalian bisa bermain sepuasnya di pantai!"


“Asik, terimakasih ayah. Ibu” kedua anak kembar memeluk mereka .


Kehangatan yang tercipta di keluarga itu berbeda dengan suasana rumahnya yang setiap hari memanas. Ibu dan anak yang tidak pernah akur. Setiap hari ibunya hanya sibuk bekerja. Setelah makan malam selesai, om Doni mengantarkannya ke kamar.


“Wah, besar sekali kamarnya om. Lengkap banyak mainannya. Galang boleh menginap disini beberapa hari ya om..”


“Kamu boleh bebas tinggal disini kok. Anggap aja rumah sendiri ya.”


Masika masuk ke dalam membawakan segelas susu hangat untuknya. Dia menangis setelah menghabiskan tegukan hingga tetes terakhir. Andai ibunya sehangat bu Masika, pasti dia tidak akan lari dari rumah.


Di dalam yang larut, Galang terbangun mendengar suara berisik dari luar. Terlihat ada seorang nenek-nenek memakai kebaya dan sarung. Ada tusuk konde di sela sanggulnya. Dia meletakkan sebuah wadah besar yang berisi makanan ayam panggang di atasnya. Ada bunga warna-warni dan beberapa telur. Karena nenek itu melihatnya, dia cepat-cepat menutup tirai berlari masuk ke dalam selimut.


......................


“Kakak kalau malam jangan pernah buka pintu”


“Ya benar, apapun yang terjadi tetap bersembunyi di kamar!”


Ucapan mereka membuat dia semakin ketakutan.


Galang berlari menahan kakinya yang sakit. Dia mengunci pintu, masuk ke dalam selimut lebih rapat di sudut dinding. Sosok mengerikan menggores kaca jendela. Galang menutup kedua telinganya, dia bersiap berlari mengetuk pintu kamar pak Doni. Sepanjang malam di penuhi gangguan, Galang membuka mata melihat jarum jam delapan. Dia keluar kamar menuruni tangga. Terlihat keluarga besar pak Doni berkumpul disana. Pak Doni sibuk membaca Koran sedangkan bu Masika menyulam, ada tumpukan benang berwarna merah di sampingnya.


“Eh ada nak Galang. Bagaimana tidurnya?”


“Nggg__nyenyak kok om.”

__ADS_1


“Oh ya kita makan yuk” ajak bu Masika.


Di ruangan makan, menu hidangan yang sama tersaji di atasnya. Ayam panggang, telur rebus dan letak piring yang sama. Hal yang paling mengejutkan adalah perkataan piknik bersama yang mereka rencanakan. Tawa yang sama, senyuman menyeringai dan baju kembar yang mereka pakai. Kecurigaan Galang ketika Doni mengantarkannya ke kamar. Bu Masika memberikannya segelas susu untuknya. Melihat keduanya pergi, Galang membuka jendela. Dia melompat keluar melihat seorang wanita tua meletakkan benda-benda yang pernah dia lihat semalam.


Galang berlari masuk ke dalam, di bagian ruang tamu terdengar suara jeritan. Sosok-sosok mengerikan keluar dari dinding. Dia berlari ke kamar kembali mengunci pintu. Dia terbangun, melihat jarum jam pendek angka delapan.


Kali ini dia tidak menyapa om Doni. Dia melihat dari bagian dinding ruangan lain. Om Doni seperti mematung melihat Koran yang tidak ada tulisannya. Dia memperkirakan sebentar lagi om Doni akan menyapanya dan bu Masika mengajaknya makan.


Tepat sesuai yang dia bayangkan. Menu di atas meja terlihat mirip sesajian yang di letakkan seorang wanita tua di depan rumah mereka. Galang meninggalkan meja makan berlari keluar. Dia berhenti di salah satu pohon di taman.


“Permisi pak, apakah bapak tau jam berapa bus di halte depan berhenti?” tanya Galang.


Pria yang sedang bermain handphone itu tidak memperdulikannya. Galang bertanya ke wanita yang berdiri di pinggir jalan, tapi dia tidak melihat Galang atau menjawab pertanyaannya. Pandangan beralih melihat seorang anak perempuan melihatnya.


“Hei, ada apa dengan semua orang. Kok nggak mau jawab pertanyaan aku sih. Oh ya kamu tau nggak jam berapa bus berhenti. Nggak biasanya bus lama datangnya.”


“Kamu siapa? Rumah kamu dimana?”


“Oh iya kita belum kenalan ya. Aku Galang. Rumah ku di jalan kemangi kota X.”


“Aku Caya. Sudah mulai senja, kamu menginap di rumah aku aja ya. Besok kamu aku antar pulang.”


Rumah Caya berada beberapa jarak dari rumah om Doni. Dia tinggal bersama neneknya. Raut wajah neneknya yang dia ingat selalu meletakkan makanan, telur dan bunga di depan rumah om Doni.


“Nek kenalin ini teman Caya namanya Galang.”


Senyum nenek itu mempersilahkan Galang ke kamar yang mereka sediakan.

__ADS_1


__ADS_2