Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Iblis pemakan janin


__ADS_3

Hamil anggur, sebuah kata yang memvonis penyakit istilah non kanker. Lilia menangis tersedu-sedu mendengar perkataan dokter kandungan yang selalu mereka kunjungi setiap sebulan sekali. Meski harus merogoh kocek sebesar tujuh ratus ribu rupiah di tambah perjalan yang di tempuh berjarak dua jam. Kedua pasangan itu tetap menyempatkan waktu pergi kesana. Semua saran yang di berikan dokter Tia, di mulai dari salah satu hal yang paling berat adalah menghindari stress.


Suntikan hormon, mengkonsumsi obat penyubur, vitamin sirup maupun kunyahan dan menghindari makanan-makanan pengawet, bersoda dan instant lainnya. Setiap hari Lilia rajin makan buah-buahan yang di sediakan Aryo di atas meja. Dia hafal buah anggur tersedia setiap tiga minggu sekali, pisang, naga, jeruk setiap hari dan mangga, nanas, apel berselang satu hari.


Di mata Lilia, buah terlezat adalah pisang yang selalu dia habiskan sendiri. Satu sisir pisang menyisakan kulit di atas meja. Lilia juga menyimpan stok salad buah terbuat dari bahan pisang. Dia yang kurang suka makan sayur, mulai terbiasa mengunyah semua makanan yang di wajibkan.


“Bu Lilia bawa bekal pisang lagi? Semua makanan berbahan dasar pisang, apa tidak bosan?” tanya bu bana memperhatikan Lilia melahap makanan.


“Tidak bu, mungkin karena dari kecil sudah di biasakan makan buah ini. Heheh, ibu mau? Coba ibu rasain”

__ADS_1


“Terimakasih bu, oh iya. Kapan kita kunjungan ke rumah bu Nana? sudah satu minggu bu Nana cuti bu.”


“Nanti saya sampaikan sama kepala sekolah ya bu..”


Anak kepala sekolah, serah pindah tugas yang semula yayasan adalah pemilik sah mbah Kuro. Kini berpindah tugas sementara ke Tuja, melihat mbah Kuro yang lebih sibuk menjalankan bisnis perusahaan lainnya.


Sekaya itu hidup di kampung? Pria itu mencari ilmu hitam di sarang gapura monyet dan pesugihan yang memakan cucu dan orang-orang pilihan terkait sesuai weton tanggal lahirnya. Keluarga besar Haranja Kuro, terkenal dengan keluarga yang mentereng.


Selesai sarapan, Lilia menyampaikan pesan guru yang ingin mengajak menjenguk ke rumah bu Lilia. Setelah mendapatkan ijin , kepala sekolah membagikan jadwal pergi bersama. Wajah Lilia masam, memikirkan penyakit apa yang dia derita.

__ADS_1


“Bukan kah sama saja kalau hamil anggur, janin berada di luar kandungan?” gumamnya mengetuk tasnya di sepanjang perjalanan.


Dia sudah mengalami keguguran. Hamil anggur yang di katakan dokter kali ini dia akui sendiri di rasakan dalam satu tahun empat bulan menyisakan mimpi-mimpi buruknya. Setiap malam tidur tidak tenang, mendapatkan gangguan makhluk halus. Dia juga merasakan di dalam perutnya seperti ada yang bergerak. Keanehan mengeluhkan ke dokter kandungan, hasil USG tidak memperlihatkan ada pergerakan janin setelah hari ini. Hamil anggur yang di sebut-sebut bulan lalu menghilang begitu saja di dalam perutnya.


Tidak merasakan pendarahan, gumpalan daging yang keluar atau menderita suatu penyakit. Beberapa bulan perutnya yang terlihat sedikit membesar tiba-tiba mengecil.


“Maaf bu, kalau boleh saya tau. Bagaimana usia kandungan ibu?” tanya bu lele yang mulai membuka pembicaraan.


“Kemarin saya mengalami keguguran bu.”

__ADS_1


“Ya ampun! Yang sabar ya bu! Maaf saya baru tau kalau ibu nggak cerita. Tapi meski sekarang saya lihat ibu sehat-sehat saja. Ibu harus tetap banyak beristirahat.”


“Terimakasih atas sarannya bu..”


__ADS_2