Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
monyet iblis


__ADS_3

Sebelum sampai di sekolah. Jarak beberapa kilometer, Lilia di jemput Aryo yang sedari tadi menunggunya di jalan arah masuk perkampungan. Setelah menikahi cucu pemilik sah yayasan, hidup Aryo berubah drastis. Dia tidak lagi serba kekurangan, gelar pengangguran itu berubah menjadi calon Sarjana muda. Rumah, kendaraan, biaya pendidikan gratis. Semua fasilitas di tambah usaha jasa hias dekorasi. Aryo juga di beri jabatan sebagai guru honorer, menduduki jabatan sebagai wali kelas. Aryo di anggap kena timpa durian runtuh.


“Kamu lama banget yank. Uluh, uluh cantiknya!” goda Aryo pada Lilia melirik manja.


“Ya banyak hal aneh di rumah bu Nana. Pokoknya ceritanya panjang, nanti adik ceritakan di rumah ya bang. Oh ya abang dari mana? Kok rapi banget”


“Baru aja siap tanda tangan tugas ke dosen yank. Sekalian tahun depan abang boleh nggak bom mata kuliah kilat? Tapi uangnya dari mana ya. Heheh”


“Kamu tenang aja bang. Usaha dekor dan jualan online aku kan cukup buat membayarnya. Kalau kurang tinggal minta sama ibu atau kakek aja.”


Ucapan enteng Lilia yang memberikan apapun yang di inginkan Aryo. Dia melupakan musibah guncangan kepergiaan buah hatinya yang di anggap hamil anggur.


Tepat beberapa minggu lalu, Lilia mengalami mimpi buruk bersambung gangguan penampakan makhluk halus yang masuk ke dalam tubuhnya.


Dia bukan Lilia seutuhnya, sosok lain bersarang dalam tubuhnya. Lilia di rasuki siluman iblis dari siluman pemuja monyet. Wajah Lilia cantik jelita, dia mendapatkan kecantikan yang tiada tara karena telah menyatu dengan jin pesugihan.


“Besok kita ada banyak job dekorasi acara lamaran dan pernikahan. Bagaimana ini yank?”


“Abang itu udah jadi bagian dari cucu mbah Kobra. Kenapa harus pusing-pusing memikirkannya?”


Lilia menghalalkan semua perbuatan suaminya, menganggap dirinya berkuasa atas yayasan itu. Uang hasil setan di makan jin. Lilia selalu memfoya-foyakan uang, berbelanja melebihi isi dompet Aryo. Wanita yang tidak pernah merasakan kesulitan itu selalu tersenyum bahagia.


“Ibu aneh nggak sih, kita semua di ibaratkan kena benturan ghaib. Lah kok bu Lilia nggak mual sama sekali ya?"


“Sudah jangan ngomongin bu Lilia, Nanti kalau ada dengar terus di sampaikan ke bu Karsida bagaimana?” ucap Bana.


Dia menggaruk luka, menekan kuat perban menetes darah menghitam.

__ADS_1


“Bu, luka ibu kelihatannya makin parah. Ini nggak penyakit biasa bu, ayo kita cari dukun.”


Lele mengikuti saran Bana, dia pergi bersama suaminya menemu dukun sakti di kampung itu. Bukan hanya sebagai tali penyambung penyampai dengan sosok siluman monyet. Dia juga bisa membantu mengobati masalah penyakit ghaib.


Dia di bantah habis-habisan sama suaminya Yoyo. Dia sangat membenci malpraktek perdukunan. Meski dia bukan pria yang ahli Ibadah. Di dalam kamusnya hanya satu, membayari dukun yang katanya bisa menyembuhkan segala macam penyakit gangguan ghaib sama saja membuang waktu, tenaga dan biaya dua kali lipat dari pada pengobatan medis.


“Tidak Lele. Lebih baik kamu berobat saja ke dokter. Kalau berobat di tangan manusia aku setuju, dari pada di tangan setan. Aku sangat rugi!”


“Tapi pak, penyakit ku ini kena gigitan setan. Aku lihat dengan mata kepala sendiri. Seekor monyet yang menggigit tangan ku."


Yoyo tetap tidak mengijinkan istrinya, dia menyita dompet hingga kunci sepeda motor. Malam yang lelah, gangguan mimpi buruk datang silih berganti. Lele terbangun, dia menjerit melihat sosok monyet jadi-jadian menjilati penyakitnya.


“Kau kenapa bu?”


“Pak, aku akan gila kalau kau tidak bisa mencari dokter atau apapun yang bisa menyembuhkan ku. Gatal bercampur sakit.Penyakit ku ini semakin para kalau sudah melihat makhluk yang sama.”


Nggingg__ Cittt. Syuh__


“Lele, maafkan aku. Bangun! Ingat anak-anak kita. Ada Mila di rumah dan sekarang lihat keadaan anak kita Samson.”


“Bapak, aku aka kembali ke Rahmatullah. Tolonga jaga anak-anak kita”


“Ibu! Hiks, hiks!”


Sungguh, wanita yang terkenal kuat, pekerja keras, tanpa mengeluh akan berakhir tragis meninggalkan anak dan suaminya. Pada hari mimpi buruk sebuah keluarga yang berat sebelah. Kini Yoyo mengemban tanggung jawab merangkap sebagai ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Berita kepergian bu Lele, guru yang suka memberikan hukuman. Pembelian sebuah karton yang di beri tali sebagai penggantung pada leher anak-anak murid. Tertulis saya tidak mengerjakan PR dan suka menegur anak muridnya. Semua orang meninggalkan Taman pemakaman umum. Marjan menggendong Samson, menunggu di parkiran.


......................

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa ridho atas musibah besar yang menimpa hidup ku? Aku kehilangan istri yang sangat aku cintai!” batin Yoyo menangis tersedu-sedu di atas sajadahnya.


Dia adalah tipe lelaki yang setia. Niat dalam diri tidak akan menikah lagi dan membesarkan kedua anaknya. Sepenuh hatinya masih belum menerima kepergian istrinya.


“Ayah, aku lihat ibu lagi nangis. Katanya ibu akan pulang yah” ucap Mila membawa boneka teddy bear di pundak.


“Ibu sudah kembali sama Allah. Mila doakan ibu ya agar bahagia disana.”


“Ayah udah nggak sayang lagi sama ibu? Mila mau menyusul ibu aja!”


“Mila! Tunggu ayah nak__”


Yoyo membuka pintu kamar Mila, dia menghidupkan lampu. Semua benda tetap sama di tempatnya. Dia membuka pintu kamar di sebelahnya. Ada Samson yang duduk di sudut sambil memeluk lututnya.


“Kamu kenapa nak? Mana adik mu?”


“Adik kan udah nggak ada yah! Ada hantu di kasur Samson! Argh!”


Berpikir Samson sedang di ganggu makhluk halus. Dia membacakan ayat suci Al qur’an lalu meniup ubun-ubunnya. Samson tertidur di pangkuannya, dia mengangkat memindahkannya ke kamar. Dia menuruni tangga, ibunya yang duduk di kursi goyang menatap lurus. Dia tidak menyadari kehadiran anaknya Yoyo.


“Ibu nggak istirahat?”


“Anak mu sudah meninggal Yoyo. Coba engkau lihat baik-baik siapa sosok yang di depan mu itu!”


“Bu, sadar bu!”


Membacakan surah-surah pendek, sikap Marjan sangat dingin. Dia menghentakkan tubuh, mengatakan kalau dia tidak kesurupan. Melihat Marjan berpindah tempat, tangannya di tarik Mila. Dia meminta Yoyo menggendongnya.

__ADS_1


“Ayah, aku sangat mengantuk.”


Yoyo menggendong anaknya, menemani hingga dia tertidur lelap. Yoyo ingat sekali ibunya pernah berpesan kalau mempunyai anak dono dini atau sepasang akan membawa petaka, musibah dan bencana di hidupnya. Berpikir ulang hal itu bukanlah mitos belaka, dia mengusap wajah mengingat Lele, istri yang meninggalkannya.


__ADS_2