
Bisnis usaha dekorasi merambat keteratak, hantaran dan jasa rias make up. Perlengkapan dekorasi, hantaran dan acara lainnya yang menarik. Kini Bisnis udah wedding organizer mempunyai daya tarik tersendiri. Di mata orang, usaha mereka berkembang pesat. Para pekerja yang kompak, tepat waktu dan cekatan melakukan tugas.
Hiasan pada pilihan bunga-bunga hidup atau imitasi tiruan plastik. Di dalamnya di beri aksesoris penata menambah kesan elegan dan mewah. Bukan hanya itu saja warna-warni tirai yang memanjakan mata. Pada bagian intu masuk berhias bentuk-bentuk unik. Ukiran jasa memperindah kuku, pada bagian kuku maupun kulit, di temple hiasan permata kecil dan berbagai macam warna yang di inginkan.
Gaun-gaun pengantin wanita bagai tuang putri di kerajaan, aksesoris dan hiasan lain yang harganya dua kali lipat melebihi ongkos sewa. Semua modal awal untuk mendirikan usaha itu di sokong kedua orang tua dan kakeknya. Lilia benar-benar hidup berkecukupan tanpa kekurangan apapun.
“Itu apa yang di depan bang?” tanya Lilia saat mereka sudah sampai rumah.
Aryo membuka pintu mobil, di depan teras ada bekas jejak kaki mirip telapak kaki monyet. Bercak lumpur mengarah ke pohon. Banyak tumpukan pisang bertandan yang menguning. Dia menoleh di atas pohon ada seekor monyet.
“Ada apa bang?” panggil Lilia.
“Ini yank ada monyet. Oh iya siapa yang meletakkan pisang-pisang ini?”
“Mana? Nggak ada monyet. Abang salah lihat kali. Jauh banget bang rumah kita dari gapura.”
“Itu___”
Aryo tidak melihat ada daun yang berjatuhan, suara angin berbisik menghantam tubuhnya. Tengkuk di sentuh tangan berbulu. Dia terhentak menjerit melihat benda apa yang mengganggu. Lilia melihat gerak-gerik suaminya yang aneh. Aryo memanjat ke pohon memastikan monyet tadi tidak kembali. Lilia melihat dari bawah. Aryo memanjat lebih tinggi. Khawatir suaminya akan jatuh, dia melempar ranting namun Aryo tetap menaiki dahan ke atas.
“Bang, kamu ngapain? Bagaimana kalau jatuh? Cepat turun”
Panggilan, lemparan ranting kayu dan sandal yang menyangkut di pohon. Aryo sibuk mencari sesuatu, Lilia cemberut masuk ke dalam rumah. Aryo berdiri memanjat dari satu dahan ke dahan lain. Berpikir seekor monyet yang mengganggunya tadi telah pergi. Dia melompat turun ke bawah. Mengetuk pintu yang terkunci, panggilannya berbalik tidak di dengan Lilia. Dia melemparkan bantal dari jendela.
__ADS_1
“Kau tidur di luar aja bang__”
Detik jarum jam berbunyi keras di malam sepi. Kepakan sayap burung hantu bertengger di atas atap rumah. Aryo menutup kaca mobil, dia melihat banyak hewan di atas rumahnya. Semula yang hinggap hanyalah seekor burung hantu. Tapi lompatan monyet dari pohon ke pohon lainnya membuat dia sedikit merinding.
“Itu monyet apa? Kenapa sikapnya seperti manusia?” gumamnya.
Aryo menghidupkan ponsel, memanggil nomor Lilia yang tidak di angkat sama sekali. Istrinya itu tipe wanita gampang merajuk, dia sadar telah mengabaikannya.
“Galau sekali aku malam ini. Sekujur tubuh ku benjol-benjol di gigit nyamuk! Itu di atas atap udah kayak koleksi hewan langka Terus apa yang harus aku lakukan?”
Aryo keluar dari mobil, dia menggedor keras pintu. Lilia tetap mengabaikan panggilannya. Pagi-pagi buta terganggu tidur di luar. Dia habiskan menunggu fajar dengan membersihkan teras depan. Dia juga menyapu halaman, membakar sampah dan merapikan halaman. Aryo yang sudah terbiasa hidup susah, dia tau bagaimana menatap halaman agar Nampak apik.
Asap bakaran sampah masuk ke dalam rumah. Lilia terbangun merasa sesak di bagian nafas. Dia menarik sedikit tirai, melihat Aryo Nampak bersih-bersih halaman. Dia mengambil kunci membuka sedikit pintu bagian depan. Melihat pintu rumah terbuka, Aryo melepaskan sapu berlari masuk ke dalam.
Semuanya sudah beres, dia mengetuk pelan pintu kamat memanggil istrinya. “Yank, udahan marahnya. Abang minta maaf ya__”
......................
Kabar penyakit bu Nana di perbincangkan di sekolah. Gangguan sihir, kerasukan iblis kemarin menakuti beberapa guru yang mulai tidak betah bekerja disana. Hari kelabu, banyak guru absen tidak bisa mengajar . Demam, menggigil dan gangguan makhluk halus. Dimas menerima panggilan dari ibunya Permata.
“Selamat pagi pak, saya mendengar dari Permata kalau bapak sedang sakit. Kalau di perbolehkan, Permata hari ini mengantarkan makanan kesana.”
“Terimakasih banyak bu, nanti siang saya saja yang ke rumah ya bu..”
__ADS_1
Apa kata orang tua Dimas kalau tau anaknya sedang berpacaran dengan seorang murid? Dimas mencari aman, dia bergegas meraih kunci sepeda motor meminta ijin pada orang tuana. Kebohongan menutupi rahasia yang dia simpan. Aryo beralasan ada tugas yang akan di kirim ke dinas sehingga dia harus menyelesaikannya.
Guna-guna merasuk dan makanan yang di campur bahan klenik dan mantra. Orang tua Permata membekali dia dengan susuk kecantikan dan daya tarik pemikat. Nama lengkap Dimas di sebut dalam ritual. Menanam gendam mantra, suapan sendok pertama masuk ke dalam aliran darah dan sumsum tulangnya.
“Bagaimana rasanya pak?” ucap Permata sambil senyum-senyum menatap gurunya.
“Enak banget masakan ibu. Kamu sesekali belajar masak juga dong..”
Belaian manja, cara menatap memperlihatkan wajah cantik dan keberanian si murid menggoda gurunya. Permata yang pintar mengambil hati pak guru sukses menambah rasa cinta padanya. Tidak ada yang mengetahui kecurangan pada tiap murid membuat jebakan pada guru-guru yang mereka incar. Permata yang tidak sabar segera di nikahi si guru muda. Dia mendesak agar Dimas secepatnya menghalalkannya.
“Tapi kan kamu belum lulus dik, apa nggak mau melanjut kuliah?”
“Yah bapak, gimana Mutiara mau kuliah. Bisa sekolah saja udah syukur. Hasil kerja jahit ibu hanya cukup untuk sekolah dan kebutuhan sehari-hari. Kak Lika tamat SMA merantau ke luar kota.”
“Kalau bapak ada rezeki nanti kamu kuliah ya. Biar kita barengan satu kerjaannya.”
“Duh baik banget sih pak. Udah tampan, mapan dan baik hati. Bersyukur banget Permata bisa jadi pacar bapak. Hihihi..”
Wajah kuntilanak tersenyum di balik parasnya yang indah. Dimas terhipnotis merasa Permata adalah dunianya. Dia berpamitan pada bu Tika, sebelum pulang Permata mencium punggung tangan Dimas. Menyebar senyuman dan lambaikan tangan di sepanjang kepergiannya.
“Pokoknya kamu harus pepet terus guru muda itu nduk. Jangan sampai di lepas. Ibu akan membantu mu dari belakang.”
“Beres bu. Terimakasih ya bu..”
__ADS_1