Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Mencekam


__ADS_3

Drama pasutri yang melebar di pagi hari. Suara amukan Lilia mirip orang kerasukan melemparkan piring kaca hampir mengenai suaminya. Aryo mengelak, dia mengunci tubuh Lilia dari belakang. Sikapnya mirip sosok gerakan monyet. Dia mengeluarkan suara aneh melotot mencakar tangan. Aryo merelakan Lilia melanjutkan cakaran, dia baru berhenti saat Aryo mengupas sebuah pisang untuknya.


“Kamu kenapa lihatin aku seperti itu mas?"


“Nggak apa-apa yank. Aku lapar nih, makan yuk.”


“Itu tangan kamu kenapa bang?”


“Nggak tau tadi di depan ada monyet. Oh iya yank, pisang-pisang itu pesanan siapa?”


“Sebentar, adik ambil kotak obat..”


Lilia tidak menyadari dia sering bertingkah aneh. Aryo ingat perkataan ayahnya, Lilia kena gangguan makhluk di sekolah. Ayahnya tidak mau mengatakan yang sebenarnya, semua perbuatannya bersama kedua besannya. Hoka memberi pesan agar selalu menjaga Lilia dan tidak boleh terlalu lama meninggalkannya sendiri. Sampai saat ini dia tidak mengerti maksud dari perkataan ayahnya.


“Kurang ajar banget monyet ini. Dia berani cakar kamu bang, untungnya bukan wajah kamu yang kena cakar.”


“Jangan dong yank. Wajah ini modal utama abang buat bisa bersama mu..”


“Huuhh gombal! Udahan yuk kita sarapan.”


Masakah Aryo rasanya menendang lidah. Bumbu andalan di tambah daun jeruk setiap sambal. Dia ingat bagaimana cara almarhumah ibunya dulu mengajarinya memasak. Pada tahun-tahun bahagia yang di rasakan Lilia, dia dengan cepat melupakan kesedihannya. Setelah puas berbelanja, mereka pergi ke dokter kandungan. Kali ini mereka merencanakan program hamil sesuai petunjuk dokter. Wajah siluman menambah aura kecantikan, dia penerus keluarga Haranja sebagai persekutuan setan.


Lilia mengetahui apa yang di buat suaminya. Pisang bertandan yang sengaja di sediakan ayahnya sebagai makanan para monyet tidak kasat mata. Setelah kehilangan anak dalam riwayat penyakit hamil anggur, Lilia tidak patah semangat melakukan pengobatan medis dan herbal. Hari yang sibuk, keduanya menginstruksi para pekerja agar menyelesaikan tugas menyusun serta merapikan hiasan aksesoris dengan bagus.

__ADS_1


Sebuah tempat yang terpisah, satu ruangan berukuran besar khusus untuk tempat perlengkapan hantaran dan dekorasi, satu tempat teratak dan satu lagi kamar kosong berukuran sedang khusus hiasan bunga. Lilia menyewa sebuah gedung di dekat kota khusus tempat usaha dan penginapan para pekerja.


Anggota di beri fasilitas menggunakan mebel dan barang lainnya yang ada di setiap kamar. Suara panggilan telpon dari mbah Kubro. Mendengar Lilia memanggil nama si mbah, Aryo menepikan mobil menunggu istrinya bertelepon. Selesai menutup telepon, Aryo penasaran dengan apa yang disampaikannya.


“Apa kata si mbah yank?”


“Nggak apa-apa Cuma tanya kabar aja. Oh ya sekarang kita ke rumah si mbah ya” ucap Lilia sambil memainkan jari.


Kalau sudah menyangkut tentang si mbah, dia hanya bisa terdiam mendengar apa yang akan di sampaikannya. “Mbah Kubro, pria tua yang sangat dingin. Tatapannya seperti mau makan orang. Hhhmmm, aku harus tetap bertahan” gumam Aryo melanjutkan menyetir.


Tentang acara pensi tahun lalu.


Kalu tidak menimbang dan memahami. Para orang tua murid mengeluh akan pembayaran yang di pungut per murid sebesar tiga ratus ribu rupiah. Peraturan sekolah menegaskan acara perpisahan harus tetap di langsungkan selain pensi, para siswa juga akan melakukan tamasya. Tidak ada pengecualian pada setiap murid. Ikut tau tidak, hadir atau absen. Semua murid harus membayar sama rata.


Masih banyak lagi nasehat yang di sampaikan. Para guru bersiap-siap melakukan tarian setelah pembukaan tari yang di gerakkan oleh anak murid kelas satu. Kehebohan guru-guru yang akan menari tidak kalah antusiasnya pada murid terdengar mulai di panggil untuk mempersembahkan tariannya. Tema tarian monyet bertema selendang kuning.


Para siswa siswi pilihan mulai menari mengikuti irama musik.


Lia kembali seperti orang kesurupan. Dia memperagakan tarian bercampur sikap seekor kera dengan luwes sesuai iringan musik, gerakan dan ekspresinya. Melihat salah satu penari ada ang bertingkah aneh. Tuja yang telah menyiapkan seorang dukun, menenangkan siswi-siswa yang mulai kesurupan.


“Anak itu tidak berhenti menari, bawa saja ke salah satu kelas kosong” ucap Tuja pada para dewan guru yang duduk menikmati cemilan sambil tertawa. Mbah Kumis mulai mengucap mantra, menyembur ke wajah murid-murid yang belum sadar.


“Loh paka Tuja, saran saya lebih baik kita panggil ustadz Zaki saja pak”

__ADS_1


“Bu Bana kamu tau apa? Tidak ada yang kamu ketahui” ucap Tuja sangat kasar.


......................


Ingatan Bana akan bentakan si pemilik yayasan masih terngiang di telinga. Kali ini kejadian demi kejadian menimpa tempat itu. Banyak warga ketakutan jika di perkampungan Bidara mulai terdengar suara monyet yang nyata maupun tidak. Pikirannya ingin terlepas dari sekolah berhantu itu. Tapi dia harus tetap bekerja demi kelangsungan rumah tangganya. Suami Bana yang malas-malas, dia sering di tegur istrinya tapi sosok Pakem hanya bisa tersenyum terpaksa karena semua usaha telah sia-sia.


“Mas Eman, kenapa nggak di makan?”


“Nggak apa-apa dik . Nanti mas makan kok” jawab Eman membalas senyumannya.


Dia mengurungkan pendapat, karena setiap dia bertanya tentang hal- hal ganjil cerita sekolah. Tari yang tidak sabar di pinang Eman. Dia menunggu hari yang tepat agar dia tidak terlalu terburu-buru memaksanya.


“Baru aja tamat kuliah bergelar Sarjana, kok udah kebelet kawin?” bisik para tetangga memperhatikan para pekerja mulai memasang tenda, bunga dan dekorasi lain terpajang di depan rumah.


Eman melayangkan keseriusan , dia tetap menunggu Tari menerima pinangannya. Kecantikan Tari yang tidak kalah cantik dengan Lilia. Tapi hari ini, tepat setelah pertemuan kedua orang tua, keesokan harinya acara tunangan di gelar di kediaman Haranja.


“Pak kita batalkan tunangannya. Kenapa kita harus takut pada monyet itu pak. Kita tunggu saja kebenarannya. Tapi bapak harus tetap berhati-hati.”


Tidak jarang Kusni mendengar bisik-bisik warga yang mengatakan keluarga, calon para mertua dan saudara ipar. Tapi Kusni sedikit mengabaikan ucapan mereka. Dia tetap berfokus pada Lilia yang baik-baik saja. Dan keluarga lainnya.


“Pak kok ibu jadi takut ya mereka mengganggu hati manusia dan membuatnya tertidur. Liliya mendengarkan suara aneh dari dapur. Selesai makan, keduanya tidak memperdulikan bagaimana sikap sang pengantin.


Keinginan menikah muda di tentang Karsida, dia sangat geram karena tidak ada kejujuran hingga semua hal yang baik mencangkup dirinya. Namun, Eman benar-benar merebut hati anaknya. Dia tidak pernah marah dengan anak istrinya. Tapi hari ini Partok menangis menekuk lutut melihat istrinya tiada. Keadaan mengenaskan melihat penampakan monyet yang selalu mengganggu menghidupkannya.

__ADS_1


__ADS_2