Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Mayat di tanah pohon tunas pisang belum terungkap


__ADS_3

Iblis membangun menara tertinggi menunjukkan kekuasaannya sebagai Tuhan yang patut di sembah pada manusia sesat yang mempersekutukan Tuhan. Sebab semakin banyak manusia menemani mereka di neraka maka semakin Berjaya si pembangkang makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa selamanya menjadi bahan kayu bakar di neraka abadi.


Seorang pekerja bangunan melihat bekas semen mengeras menempel di atas tanah. Dia mencari-cari serpihan bekas yang tertinggal sampai di tempat bakaran sampah. Pembangunan proyek semalam belum sampai pada tahap menyemen Kontraktor yang baru saja tiba, raut wajah berubah kecut tidak menyangka bangunan yang sudah lima puluh persen itu runtuh. Satu mala mini mereka tidak berjaga, biasanya ada tiga sampai empat orang memantau bahan-bahan bangunan.


“Haduh! Ini salah ku juga jadi kecolongan dalam satu malam! Entah bencana apa yang terjadi sampai aku yang terkena apus!” ucap si pria berbadan gemuk.


“Pak, saya tidak melihat satu bahan pun yang hilang. Hanya bekas dua semen yang terpakai” kata salah satu pekerja.


“Ayo cepat kita selesaikan sebelum kepala sekolah datang. Aku nggak mau di tuntut kerugian atau pemotongan gaji!”


“Baik pak!”


Pekerja hanya bisa pasrah, hari ini mereka berusaha sekuat tenaga mempercepat pekerjaan. Berpikir yayasan akan turun tangan. Si pria berbadan gemuk melotot ikut membantu mengangkat bahan-bahan berat. Tangannya bergetar melihat batu, papan yang seperti terkena darah mengering. Dia juga melihat sepatu anak sekolah bagian kaki kiri yang tertimpa reruntuhan.


“Punya siapa ini?” gumamnya melirik ke sekitar.


Dia cepat-cepat menyembunyikan di dalam jaket. Berlari masuk ke dalam kamar mandi. Si pria bertubuh gemuk itu melihat darah yang menempel. Dia berpikir ulang apakah harus memberitahu pada kepala sekolah atau menyimpan berita ini sendirian.


“Kalau aku tidak menceritakannya, nanti aku yang di tuntut atas masalah besar ini. Tapi kalau sebaliknya, bisa jadi kami juga di tuntut karena ceroboh dalam rencana pembangunan pondasi. Jadi sebaiknya bagaimana?” gumamnya kebingungan.


Berjalan memberanikan diri masuk ke dalam ruangan kepala sekolah. Mengetuk pintu yang terbuka, dia di persilahkan masuk menunggu tamu yang belum selesai mengobrol. Dia gemetaran, kaki dan tangan tidak tenang. Bola mata berputar, pikirannya mulai kalut.


“Ada masalah apa pak? Saya mendengar ada bangunan yang runtuh” ucap Karsida yang menenangkan dirinya sendiri.


Dia menekan ujung jari telunjuk. Mengatur nafas yang tidak stabil, dia berharap si kontraktor tidak menemukan mayat yang baru saja mereka semen tadi malam. Alih-alih belum mendengar penyampaian pria itu, Tuja masuk ke dalam ruangan melihat dia yang seperti menyembunyikan sesuatu di dalam jaketnya.


“Selamat siang pak, buk. Begini, anu__”


“Ada apa pak? Katakan saja, saya juga mau memeriksa bangunan yang bermasalah itu” kata Tuja dengan berlagak sinis bertolak pinggang.


Si pria gemuk mengeluarkan sepatu dari dalam jaket. Karsida dan Tuja melotot melihat benda itu. Karsida mengepal tangan siap membuat pria itu pingsan kalau mengatakan dia juga menemukan seorang siswa di dalam galian tanah dekat pohon pisang.


“Dari mana bapak menemukan itu? apa ada hal yang mencurigakan lainnya?” tanya Karsida.


“Saya sendiri yang melihat salah satu sepatu ini bu. Kemungkinan milik siswa laki-laki. Saya yang mengecek saat mendengar berita bangunan yang runtuh.”


“Bisa jadi itu milik siswa nakal yang bermain di area pembangunan. Hanya itu saja kan yang bapak temukan?” tanya Tuja menyelidik.


“Ya benar pak. Semula saya takut bapak dan ibu jadi salah paham.”


“Oh tentu tidak, letakkan saja di lantai dekat kursi itu pak. Saya akan menanyakannya pada penjaga sekolah dan guru piket. Nanti siang kami akan memeriksa” ucap Tuja.


“Ya saya permisi pak, buk. Terimakasih.”


Hati si pria gemuk lega, dia mengelus dada berjalan lenggang kangkung tersenyum sendiri. Tidak mendapatkan tuduhan, ganti rugi atau menyalahkan proses pemborong yang mengakibatkan bangunan tidak kokoh. Dia kembali memandori para pekerjanya.

__ADS_1


Teriakan salah satu pekerja yang terjatuh dari tangga lipat. Dia tampak seperti orang girapan menunjuk ke bagian atas. “Monyet! Ada monyet berwajah manusia! Arggh!”


“Ngucap pak! Eling! Itu kaki kamu berdarah. Ayo bangun pak!”


Dua orang pria mengangkatnya. Namun, pekerja yang tampak sangat ketakutan itu berlari sambil merangkak keluar dari wilayah sekolah. Dia tidak memperdulikan tasnya yang tertinggal. Karena sangat ketakutan, tanpa sadar tidak melihat ada truk yang melintas dari depan.


Tinn__


“Awas!” jeritan para pedagang keliling.


“Arggh!” Brakk__ Ciitt.


Tubuhnya tertabrak truk, dia kejang-kejang menatap ke depan pintu gerbang sekolah. Ada banyak monyet melompat yang salah satunya mendekatinya. Monyet itu menarik arwahnya keluar daro dalam tubuh. Sebelum meninggal, pekerja itu mengeluarkan buih bercampur darah. Ususnya terburai, kepala pecah. Banyak saksi yang melihat truk tidak terlalu kencang melaju, terlebih lagi terdapat dua zebra cross di sepanjang lintas depan jalan sekolah.


Suara teriakan histeris, ketakutan. Murid-murid yang praktek olahraga di lapangan berhamburan melihat dari dalam gerbang. Penjaga sekolah menghalangi pandangan mereka dengan mendorong agar jangan terlalu dekat ke pintu.


Hari mendung, kelabu. Peristiwa aneh datang silih berganti. Pelaku yang menjalankan akasi iblis dari tahun ke tahun masih aman-aman saja. Mereka di lindungi iblis pemuja yang mereka sembah. Hantu-hantu gentayang yang tidak bisa menuntut balas. Namun kali ini, mereka mengincar anak cucu mereka agar bisa menyalurkan dendam kesumat.


Polisi datang menyidik kejadian yang terjadi pagi ini. Garis pembatas, wartawan dan petugas reporter yang menyiarkan siaran langsung berbondong-bondong mencari narasumber memperkuat berita. Tuja membayar beberapa dari mereka agar tidak mengusut hingga ke dalam sekolah. Dia juga menyewa pengacara yang di sediakan jika ada pihak-pihak pelaporan pada yayasan tersebut.


“Huh, bukannya untung malah buntung! Tujuan pembangunan dari biaya operasional ini kan supaya uang BOS kita bertambah pak! Bukannya malah mengeluarkan biaya tidak terduga!” ucap Karsida bernada tinggi.


“Pelankan suara mu buk. Bapak tidak mau kalau ada guru yang mendengarnya! Kemungkinan monyet-monyet siluman gapura yang melakukan semua ini. Sudah yang penting kita aman!” bisik Tuja.


Permintaan persyaratan agar pembangunan kembali tidak terganggu. Pria bertubuh gemuk memanggil seorang dukun untuk memberikan syarat sesajian. Setelah mendapatkan persetujuan dari kepala sekolah dan Yayasan, ritual pengucapan mantra di layangkan tepat tengah malam. Semua proses itu melibatkan yayasan, kepala sekolah, si pria gemuk, penjaga sekolah dan beberapa guru yang di ajak untuk membantu menyiapkan semua keperluan.


“Aku angkat tangan, aku tidak berani pak!” bisik Lele.


......................


“Sudah di pastikan kejadian ini tidak bis adi anggap enteng!” bisik pemuda berjaket menyembunyikan wajahnya.


Melihat mayat si pekerja di angkat mobil ambulan. Dia merasakan sosok magis sangat kuat dari dalam wilayah sekolah itu. Siapa yang mengira di balik dunia yang tampak baik-baik saja ada sebuah pertikaian panjang yang bermula dari sebuah dendam kesumat yang di layangkan karena tidak bisa menuruti keinginannya.


Mbah Kubro tahun ini genap berumur seratus tahun. Tapi tubuhnya masih tampak segar bugar tidak terlihat seperti orang berumur pada umumnya. Badannya sintal, gemuk, berotot, cara berjalan seperti pria berumur tiga puluh tahunan. Walau semua rambutnya telah memutih, saat dia memakai jaket dan topi hitam. Tidak ada yang mengira dia seorang kakek atau buyut yang sudah berumur.


Dari sebuah rumah bertingkat tiga, dia mulai melancarkan kekuatan hitam yang dia punya dari jin siluman monyet yang dia sembah. Persiapan menuju ke rumah yang dia kehendaki agar mengikuti semua saran darinya. Bermula dari ketukan pintu di malam hari mengagetkan seluruh penghuni rumah. Dari atas tangga Dewanta mengintip siapa tamu yang datang sampai suara teriakan dan perdebatan panjang selama berjam-jam.


Dia melihat pundak ayahnya di tekan dua orang pemuda yang berbadan besar. Kira-kira dia menghitung ada tujuh orang tamu di tambah dua perempuan berpenampilan serba hitam.


Pak Moru menyuruh istrinya Siliah masuk ke dalam kamar. Melihat ibunya menuju ke tangga, Gewanta berlari masuk ke dalam kamar lalu bersembunyi di dalam selimutnya. Beberapa menit kemudian, dia perlahan turun dari kasur. Kali ini dia melepas sandal, berjalan perlahan melihat apa yang sebenarnya terjadi di ruang tamu. Ayahnya seperti di tekan para tamu yang datang.


“Belum selesai rupanya. Siapa sih mereka?” gumam Gewanta berjalan lebih turun ke bawah anak tangga.


“Aku tidak mau menuruti semua perkataan kalian! Aku tidak mau menggunakan pesugihan! Harta berlimpah tapi hidup sengsara. Bukan itu yang aku inginkan!” ucap Moru.

__ADS_1


Tubuhnya terus menerus di tekan hingga dia membungkuk tepat di depan seorang lelaki yang tubuhnya lebih besar dari lainnya. Ayahnya tampak di paksa, bolpoin di tekan kuat pada jari jemarinya.


“Seharusnya kau turuti saja perkataan ku sebelum kau menyesalinya” ucap si pria yang duduk sambil melipat kakinya.


“Cepat kalian pergi dari rumah ku atau aku akan melaporkannya pada polisi!” bentak pak Moru menghentakkan tubuhnya.


Pintu tertutup, orang-orang yang keluar beberapa jam itu membuat hidup Gewanta seperti kiamat yang dia rasakan sendiri. Tidak ada lagi kehangatan keluarga. Kehadiran ayah ataupun ibu dan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Bola api raksasa terlihat dengan sinarnya yang sangat terik. Gewanta melotot merasakan sihir besar yang menghantam rumahnya.


Praggh_ Graak__Prangg


Suara dentuman sangat keras terdengar dari arah kamar orang tuanya. Gewanta berlari menaiki anak tangga. Rumahnya berubah gelap gulita, mendobrak masuk menggunakan kekuatan yang dia miliki. Alangkah sedihnya anak itu melihat kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Kekuatan hitam kegelapan telah membunuhnya. Suara jeritan gewanta tertelan hujan yang tiba-tiba deras mengguyur kota itu.


Dia anak yang yatim piatu. Bibi dan paman membawanya ke kampung Bidara. Setelah proses mengurus jenazah hingga pemakaman bu Siliah dan pak Moru. Anak itu mengeluarkan kekuatan yang tersimpan di dalam tubuhnya untuk mencari pelaku pembunuh kedua orang tuanya saat dia dewasa nanti.


Kekuatan harimau, senjata bola api yang setiap hari dia asah di dalam latihan menguras tenaga. Terkadang gewanta sering mengalami demam tinggi akibat tidak tahan mengeluarkan energi yang berlebihan. Di halaman yang berukuran berukuran tiga puluh tujuh meter persegi di kelilingi pepohonan, pagi-pagi sekali Gewanta keluar mengerahkan semua ingatan dalam pelajaran ilmu ghaibnya.


Dia sangat hafal wajah-wajah pelaku pembunuhan itu. Tidak sabar menunggu hingga dewasa, Gewanta menggunakan mata batin mencari dimana aliran ilmu sesat itu berada. Menggunakan mata dari dunia lain, dia merasakan sosok hitam berwujud lain yang mirip monyet raksasa itu keberadaannya tidak terlalu dari tempatnya.


“Aku harus kesana, menghabisi orang-orang yang membunuh ayah dan ibu!” gumamnya menyalakan mata mistis.


Siswa pindahan itu merasakan banyak makhluk tidka kasat mata bergentayangan di dalamnya. Kekuatan bola api besar yang sangat mirip dengan ilmu hitam. Gewanta mulai berjalan memasuki gerbang sekolah. Hari pertama di sekolah baru, banyak murid perempuan yang tersenyum menyapanya.


“keren ya, pasti dia siswa pindahan”


“Wajah anak kota nggak ada bedanya!”


“Kenalan yuk__"


Suara-suara siswi yang mulai panik melihat dimana kelasnya berada. Bel pertama di pagi hari, para murid mempercepat langkah segera mengambil barisan. Di setiap sekolah pasti memiliki aturan yan berbeda. Wejangan pada pagi hari ini tampaknya bukan tentang tema kedisiplinan atau kebersihan seperti kebanyakan guru lainnya.


Kepala sekolah menegaskan kepada seluruh murid agar menjauh dari lokasi pembangunan sekolah. Penggunaan sanki hukuman skors beberapa hari yang bisa memberi dampak pengurangan poin kelulusan. Gewanta melihat banyak siswa yang berambut gondrong. Kebanyak tingkah mereka sangat aneh. Tidak jarang dia melihat banyak kulit pisang berserakan karena sedari tadi dia melihat murid-murid menggemari makanan buah pisang.


“Kamu mau nggak?” tanya siswi berambut keriting memberikan sebuah pisang padanya.


“Tidak terimakasih. Lain kali aja ya, aku udah sarapan”


“Ini Cuma cemilan. Guru-guru, pemilik yayasan bahkan kepala sekolah sangat menyukainya. Manis banget loh. Oh iya kenalin nama aku Rusman.


“Hallo, saya Gewanta.”


“Kamu pindahan ya? Letak rumah kamu di sebelah mana?” tanya Ebit melirik tangan kanannya yang seperti bergambar harimau.


“Tato kamu bagus juga” bisik Ebit.


Ocehan mereka berhenti mendengar seorang siswi kesurupan memperagakan gaya monyet yang sedang berjalan. Murid-murid yang tadinya ketakutan berubah tertawa melihat tingkah lucu salah satu siswi yang bertingkah seperti topeng monyet. Irin kehilangan kesadaran, dia melanjutkan memanjat pohon di depan kantor kepala sekolah.

__ADS_1


“Cepat turun Rin! Nanti kamu jatuh!” teriak bu Nana tidak berhenti membujuknya.


Di dalam ruangan lain, Karsida menyebarkan kemenyan membaca mantra. Dia menarik pandangan warga agar mau menyekolahkan anak mereka di sekolah yayasan miliknya dan suaminya. Mendengar keributan kesurupan. Dia menyuruh guru piket segera memulai jam pelajaran pertama. Siswi yang kesurupan di bawa ke ruangan mushola.


__ADS_2