
Istilah penanaman kembali hutan yang gundul di ganti dengan penanaman kembali pohon pisang yang gundul. Ada-ada saja kegiatan organisasi intra sekolah yang kali ini tetap mewajibkan seluruh murid andil di dalam perkebunan. Tidak bisa di sangkal jika kepala yayasan dan kepala sekolah turun tangan, mau tidak mau atau suka tidak suka tetap di jalani.
Tidak perduli para guru memiliki tanggung jawab keluarga setelah pulang bekerja. Jam memeras waktu, tenaga dan pikiran terporsir di dalamnya. Keberanian perdebatan berani di dalam pemikiran yang tidak tersampaikan. Sekolah luas dan megah memiliki lima orang tukang kebun bekerja satu minggu penuh merawat semua tanaman dan tumbuhan apotik hidup sekolah.
“Kenapa harus memperbanyak menanam pohon pisang sih?” keluh Hecan duduk menyangga cangkulnya.
“Ya mungkin aja biar kita lebih banyak mengkonsumsi buah-buahan. Kalau sudah panen kan para murid merasakannya” kata Endang yang sedang memberi pupuk di sekeliling tanaman.
“Lama! Berkisar maksimal Sembilan bulan ibu mengandung. Lagian kebanyakan menanam pohon pisang ini sama aja menarik perhatian para monyet yang ada di pinggiran jurang gapura kera. Kalian merasa aneh nggak?”
Ucapan Endang ada benarnya, dia sering melihat penampakan monyet hantu yang menempel di dinding di saat jam pelajaran. Mimpi-mimpi buruk Endang mengalami kejadian yang sama. Gangguan monyet yang mengejar, menindih, wajah berubah menjadi hantu.
“Aku udah nggak betah lagi sekolah disini. Aku mau pindah ke sekolah di kota, tapi ibu melarang. Huufhht!"
Citra terduduk di atas tanah gembur dekat pupuk kambing. Mencium aroma parfum khas itu adalah hal wajar baginya. Dia adalah murid yang aktif melakukan kegiatan perlombaan sering memenangkan kejuaran. Memperagakan tarian hanoman sebuah ketakutannya, dia tidak pernah berhenti di serang sosok-sosok aneh. Takut berakhir seperti kakak kelasnya Lia setelah terakhir kali pensi perpisahan kelulusan menarikan tarian monyet tiba-tiba kesurupan dan sakit-sakitan.
Berpikir tugas mereka selesai, pengumuman pemberitahuan tiap-tiap kelompok mendekorasi halaman depan sekolah. Tambahan tugas menanam pohon pisang di sepanjang area masuk sekolah, para murid membawa tunas pohon pisang dan keperluan bercocok taman. Matahari mulai terbenam, jemputan orang tau dan wali murid mengantri menunggu anak-anak mereka.
“Sudah selesai kan? kata ibu guru, kelompok boleh pulang meninggalkan alat di dalam gudang” ucap ketua kelas sambil memegang absen di tangan.
“Jadi kalau pupuk masih berserakan bagaimana? Yang iya pasti besok kena hukum sama pak botak!” batin jaja.
Keistimewaan para muris SMA mendapat perlakukan khusus dari guru idaman. Mereka yang berhasil menakhlukkan hati para guru muda, memilih mendekatkan diri agar pekerja mereka tertolong.
__ADS_1
“Di lirik aja, kamu nggak mau maju merampas hati salah satu guru muda?” bisik Ega.
Wati melengos menggelengkan kepala, dia harus ekstra menyiapkan diri lebih cantik semaksimal mungkin atau lebih menonjol di bidang pelajaran maupun di kelas. Siapa yang tidak kenal siswi-siswi popular yang terkenal menjadi pacar guru? Tawa Naya dan Mutiara di samping kedua guru muda menambah panah hati siswi lainnya.
Menurut pandangan umum, memacari siswi sekolah adalah tindakan yang tidak baik dan mencemari citra sebagai pendidik. Di era perkembangan globalisasi, kemajuan tingkat teknologi tanpa batas dan masa fase pubertas mendorong siswi lebih berani dengan tingkah pola hal yang di sebut salah kaprah.
Guru harus bisa membedakan antara pendekatan dari segi proses belajar mengajar atau sikap berlebihan yang memicu perlakuan khusus dan penurunan nilai sikap pendidik. Bekal khusus untuk bapak spesial menimbulan kecemburuan murid lain, kegiatan belajar di kelas terganggu. Kelas tidak objektif, para siswa-siswi lain berpikir keistimewaan pada nilai serta perlakuan khusus di dalam ruang lingkup sekolah.
Hanya dua guru yang menentang tradisi sekolah yang terkenal penampakan gangguan monyet. Pak Limin dan bu Nana yang membubarkan perkumpulan guru-guru muda yang berpasang-pasangan dengan muridnya. Mereka menggunakan bahasa halus, panggilan yang tidak di sengaja dan membunyikan alarm pemanggil guru atau wali kelas lain.
“Bu Nana. Kita tidak bisa mengubah kebiasaan yang di halalkan kepala sekolah bu. Tapi setidaknya kita mengurangi penimbulan fitnah. Saya melihat siswi lebih berani dan bersikap pada gurunya.”
“Ya bapak benar. Pakaian yang super ketat, pemakaian lipstik berlebihan dan gaya bicara dalam sikap yang tidak lagi jaga siswi di sekolah ini. Kita haru menyampaikan aspirasi suara dalam rapat nanti” kata pak Limin.
“Boy! Boy! Ahahah”
“Cit, kamu ngapain sih ngerjain aku? Kamu pikir aku takut gitu?”
Boy berjalan menaki tangga yang belum jadi sampai bangunan runtuh. Dia tertimpa reruntuhan, tangannya tidak sanggup mendorong semen yang menimpa tubuhnya. Dia sekarat kesakitan, di sela hembusan nafas terakhir melihat sosok monyet berwajah manusia mendekatinya.
Kring_Kring (Panggilan suara ponsel kepala sekolah)
Panggilan telpon orang tua murid yang tidak sempat terangkat Kasida. Mendengar suara ponsel yang terus menerus berdering, Tuja menekan tombol mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
“Halo selamat malam, Saya bicara dengan siapa?”
“Selamat malam pak, saya orang tua dari Boy. Kabarnya hari ini murid pulang petang karena ada kegiatan di sekolah. Tapi sampai saat ini anak saya belum sampai di rumah”
“Sebentar saya suruh penjaga sekolah mencarinya di dalam ya bu. Nanti saya akan memberi kabar apakah siswa kami ada disana atau tidak”
“Terimakasih banyak pak..”
Suara ketukan pintu yang sangat keras, bunyi bel berkali-kali dan teriakan seorang pria ke rumah si pemilik yayasan. Lagi-lagi peristiwa lalu terulang, kematian siswa yang tidak di inginkan. Belum genap purnama merah selanjutnya, kejadian itu kembali terjadi. Siluman monyet mengganggu orang-orang yang masuk ke dalam lingkungan sekolah monyet.
“Siapa? Malam-malam begini mengganggu istirahat orang saja. Heeh! kamu lagi pak Hoka, ada apa?”
“Pak Tuja, saya melihat seorang siswa meninggal tertimpa reruntuhan bangunan yang masih di renovasi!”
“Murid itu kenapa bisa ada disana? Cepat kita pastikan lagi keadaannya!”
“Ada apa pak?” tanya Karsida melihat raut wajah Tuja yang gemetaran.
“Kita langsung ke sekolah saja bu..”
Jeritan Karsida menggema di bawa angin malam, Perkampungan yang hening mendengar suara wanita sampai meminta petugas siskamling memeriksa setiap area warga. Pak Limin dan bu Nana yang mendengar suara itu langsung berbalik arah berjalan masuk sekolah.
"Bapak dengar suara tadi?"
__ADS_1
"Ya bu, ayo cepat kita periksa."