Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Dendam


__ADS_3

Tata terperosok ke dalam jurang, kepala tertancap patahan ujung batang pohon. Bola mata terbuka, darah mengalir tercium sosok jin siluman ganas.Arwahnya gentayangan jadi penghuni alam pesugihan. Monyet raksasa menyeretnya masuk ke sebuah gapura monyet. Dia di siksa di dalam sana, tubuh halusnya di cengkram, tidak ada yang bisa mendengar suara teriakannya.


Tangisan kuat terdengar para pengendara melewati sampai membunyikan klakson beberapa kali.


“Pak, apa kau mendengarnya?” tanya Suami memegang tengkuk.


“Hihh, ya bu. Kalau bukan karena keperluan mendesak bapak tidak mau mengajak ibu lewat sini” kata Karyo mempercepat sepeda motornya.


“Lebih cepat lagi pak, aku tidak sanggup melihat hantu yang mengikuti kita dari belakang. Arggh!”


Tin, tin, tin.


Karyo tetap menjaga keseimbangan. Dia tidak mau mengalami kecelakaan seperti berita warga yang sering kena sial melewati tempat itu.


“Bu, ada orang yang masuk ke sarang monyet. Bapak mendengar teriakan suara perempuan”


“Sudah jangan cari masalah pak. Kita cepat pergi !”


......................


Megang pisau, berlari seperti orang kesetanan. Mala masuk ke area gapura monyet berteriak memanggil nama Joko. Dodo mengejar beberapa jarak dari belakang merasakan banyak mata-mata menyala di dalam gelap melihatnya.


“Dimana kau Joko!” teriaknya berdiri di bawah patung monyet.


Dari jarak jauh, suara anjing menggonggong dengan lolongannya mirip orang yang sedang merintih. Dodo menarik tangan istrinya, dia melarang keras agar tidak dengan penghuni di sana.Mala hanya berpikir, tidak menutup kemungkinan besar jika tempat itu di rusak maka si Joko tidak akan menggunakan ilmu perdukunan melancarkan pesugihannya menjadi terhalang.


Amarah Mala tidak terkendali, dia tetap memenuhi kehendak menghancurkan tempat itu.. Semua sesajian di buang ke atas tanah. Monyet-monyet yang menyernu mencakar dirinya. Dodo memukul monyet yang menarik Mala ke dalam semak belukar.


“Arghh! Bapak tolong aku!”

__ADS_1


Walau tubuhnya telah sekarat, Sekuat tenaga Dodo membawa istrinya naik ke atas tanah dataran tinggi. Suara teriakan, darah yang mentes di sepanjang jalan. Mala merintih kesakitan menahan bekas cakran kukutajam dan gigitan para monyet ganas.Sesampainya di pos siskamping, Dodo pingsan membuat orang-orang yang meronda pada malam itu terkejut melihat mereka berdua.


Dodo dan Mala di bawa ke rumah sakit. Sebelumnya Mala mengatakan anaknya berada di dalam sarang monyet. Hansip-hansip itu berpikir pergi dengann tangan kosong dan persiapan sama saja mencari mati. Mereka ke rumah pak RT untuk melaporkan kejadian keduanya.


“kita ke rumah mbah kumis saja pak” ucap Boge.


Rombongan warga meyakini Boge sebagai juru kunci yang mengerti seluk belum wilayah sarang monyet jadi-jadian itu memutuskan pada malam itu juga pergi ke rumahnya. Di depan rumah mereka pintu terbuka lebar. Mbah kumis berbaring di depannya sambil memegangi kepalanya.


“Mbah kenapa? Siapa yang memukul mbah?”


“Nggak tau, pandangan saya tidak terlalu jelas.”


Berpikir dengan keadaan mbah Kumis tidak akan bisa menjalakan pencarian Tata kerana penujuk jalan sekaligus pengantar bahasa para makhluk itu supaya tidak mengganggu. Pak RT tetap memberanikan diri membawa hansip dan warga memasuki area monyet.


“Kita bawa obor lebih banyak. Bapak yakin sekali monyet-monyet itu pasti takut melihat keramaian dan nyala api yang terang.”


“Baik pak RT. Apa tidak sebaiknya kita bawa pisang sebagai syarat sepertii yang di lakukan orang-orang kalau memasuki tempat itu?” tanya Dedi mengingat kebiasaan orang-orang membawa bertandan pisang agar tidak di ganggu.


Mengikuti jalan pak RT dari belakang, pencarian Tata pada malam itu berlangsung hingga dini hari.


Mayat Tata di temukan dengan keadaan memprihatinkan. Mala menangis histeris, seolah nasib buruknya mendapat musibah guncangan hidup kehilangan anak dan suami. Di dalam rumah sakit, kakinya berjalan pincang memeluk erat Dodo untuk yang terakhir kali. DIa terjatuh ketika mendapat kabar dari Boge kalau anaknya meninggal dunia.


“Ini semua salah Bangka! Aku akan membunuhnya! Hiks!”


Wajah Mala cacat di robek, cakaran kuku monyet yang menyerangnya. Dia berdiri di antara kedua makam suami dan anaknya. Semua para pelayat, pengantar jenazah telah kembali. Rintik hujan, angin kencang, tanah merah basah membuatnya ingin menggali masuk sendiri memeluk jasad anaknya.


“Dimana si Bangka iblis itu? aku tidak sabar membunuhnya!” Mala kesetanan mendorong Kusuma.


Dia berlari ke rumahnya mengobrak-abrik seperti orang gila. Pekerja menahan tubuhnya saat akan menggulingkan hidangan para pelanggan. Joko berdiri melihat kedua tangan, wajahnya terlihat kaku berpura-pura tersenyum datar.

__ADS_1


“Tolong bawa bu Mala adik ipar saya ke ruang tamu bersama nyonya ya.”


“Baik tuan..”


“Lepaskan! Aku bisa berjalan sendiri!”


Menggenggam pisau, melihat mereka telah merenggut nyawa kedua anaknya namun rasa bersalah atau permintaan maaf tidak terlontar dari Joko. Kusuma hanya menangis tanpa berkata.


“Kamu mau membunuh ku? Mau di penjara? Mana buktinya kalau aku yang membunuh anak-anak mu Mala?”


“Dasar kau iblis! Aku tidak perduli di penjara asal bisa membalaskan dendam ku!”


Mala menganggkat pisau di halangi para pekerja yang Joko. Dia di seret menjadi tontonan orang-orang di pinggir jalan. Ketiga anaknya tidak bisa berbuat apapun, mereka membantu Mala berdiri kembali ke rumah.


“Suatu saat mereka pasti kena karma atas semua kelakukan jahat pada ayah dan kakak. Ibu jangan tinggalin kami ya bu” Tata memeluknya menahan tangisan.


Doni dan Dona menangis ikut memeluk ibunya. Dendam Mala berkobar di hatinya, dia berpikir jika cara kasar akan membuat kerugian yang sangat besar di hidupnya. Maka dia menggunakan cara harus membunuh Joko dan kusuma.


Pukul tujuh pagi yang masih mengantarkan hujan sepanjang malam. Setelah mengantarkan ketiga anaknya ke sekolah, dia menemui dukun yang di kabarkan sakti mandra guna. Dukun penganut ilmu hitam yang sering meminta darah segar pada setiap orang yang minta bantuan kepadanya.


“Darah segar apa yang harus saya siapkan mbah?”


“Kamu belum menyampaikan niat mu. Sudah berani bertanya sebuah syarat yang tidak semua orang bisa melakukannya” kata ki Gendo menabur kemenyan di atas bakaran wadah batok kelapa.


“Maaf mbah, saya tidak sabar membunuh si Joko. Dia telah merenggut nyawa kedua anak dan suami ku. Dia laki-laki penyembah setan, pesugihan monyet di perkampungan Bidara.”


“Pantas saja aku mencium aroma si amang mengikuti mu. Karena permintaan mu sangat berat, aku minta darah segar dari seorang bayi yang baru lahir”


“Bagaimana aku bisa mendapatkannya ki? Hal itu sangat mustahil aku lakukan. Bayi siapa yang akan aku curi?”

__ADS_1


“Kalau itu ya urusan mu. Kembali lah setelah kau berhasil memenuhi satu botol plastik yang di bungkus kain kafan ini penuh dengan darah yang aku minta.”


__ADS_2