
Mengetahui istrinya memiliki dua sisi yang berbeda, dia semakin sering terkejut. Melihat istrinya seperti sosok hantu tiba-tiba muncul di dalam dua tempat. Aryo merasa jantungnya lebih cepat memompa. Beberapa minggu ini dia rajin mengkonsumsi obat-obatan. Pria pemalas itu sudah tiga hari bermalas-malasan di atas kasur. Dia terbiasa hidup berkecukupan dan bergelimang harta. Menganggap sepele pekerjaan, semua tanggung jawab tulang punggung di lepas pada istrinya.
Kaki di goyangkan terangkat naik ke pinggir jendela. Mendengar musik yang kuat, buku majalah berserakan di lantai. Pagi yang indah bagi dunianya yang dia jalani. Bermalas-malasan sepanjang waktu, walau suhu badannya sudah normal tapi tetap saja dia mengatakan kata sakit sebagai alasan bersantai di rumah.
Di depan rumah para guru turun dari kendaraan hendak menjenguknya. Lilia melotot saat melihat kaki suaminya bergoyang ke luar jendela. “Ya ampun abang Aryo! Katanya sakit! Kalau para guru melihatnya kan aku jadi malu!” gumamnya berusaha mengambil alih perhatian menunjukkan bunga hiasan yang di tawarkan di dekat sisi bagian depan menjauhi jarak letak jendela.
“Eh lihat itu kaki siapa? Di rumah ibu ada orang lain ya?” tanya bu Bana.
“Iya bu, adik sepupu saya datang, Maklum bu, anak itu jiwa muda jadi masih agak labil..”
Seorang pekerja membuka pintu, Lilia mempersilahkan mereka masuk. Dia berbisik pada Aryo bahwa para guru sedang datang untuk menjenguknya. Dia menyuruhnya mematikan musik, berganti celana yang sudah di lihat para guru saat kakinya keluar jendela.
“Cepat bang!” bisiknya sambil mencubit kecil.
“Aduh sakit! Kamu kejam banget yank..”
Kunjungan itu di sambut hangat Tuja dan Karsida yang baru saja tiba di rumah anaknya. Tidak tanggung-tanggung para guru yang hadir di beri salam tangan sebuah amplop yang isinya agak tebal. Wajah senyum bahagia mereka menerima uang pemberian dari si pemilik yayasan.
“Wah, wah ! kalau gini pak Aryo harus sering-sering absen ya bapak, ibu. Biar kita rajin dapat tips. Heheh, saya cuma bercanda kok pak Aryo”
Tuja memesan makanan siap saji, dia juga memberi bungkusan buah tangan. Kedatangan ke rumah itu bagai mendapatkan hadiah hasil undian. Hanya Dimas yang tampak tidak hadir, dia mendapatkan banyak gangguan hingga setiap malam tubuhnya seakan tertindih sesuatu. Serangan gangguan ghaib bukan hanya dari sekolah monyet namun juga dari sosok makhluk yang bersembunyi di balik wajah cantik Permata.
__ADS_1
Aryo belum mendapatkan ijazah Sarjana pendidikan, akta empat juga belum ada di tangannya. Tapi Lilia mulai merengek meminta kepada kedua orang tuanya agar suaminya menjadi kepala sekolah di yayasan Sekolah menengah pertama. Tuja yang sangat menyayangi kedua putrinya, terutama Lilia. Dia sangat merasa bersalah telah menumbalkan cucunya demi menegakkan usaha dan kekayaan.
“Bu, ayah. Pokoknya bang Aryo tahun ini jadi kepala sekolah ya, kalau nggak Lilia merajuk.”
“Duh, kamu nggak boleh gitu dik. Abang belum tamat kuliah, pengalaman mengajar aja masih dangkal. Apalagi jadi kepala sekolah. Nggak pernah abang bermimpi seperti itu.”
“Sudah kamu diam aja Yo. Bapak dan ibu mendukung kamu kok. Ya kan bu?” ucap Tuja sambil merokok.
Tubuh pria itu kurus kering. Setiap malam dia duduk di depan meja sesajian mengucapkan mantra. Sering kali dia kerasukan, menelan semua pisang yang di sajikan si sudut ruangan. Begitu pula Karsida, tidak ada yang mengira dia harus berada di loteng paling atas melakukan kewajibannya.
Asap dupa memenuhi ruangan, tirai gorden melambai tertiup angin. Dari atas atap muncul sosok monyet putih melompat mendekati pahanya. Dia mendekati Karsida, wanita itu memangkunya seperti seorang bayi yang akan di susui ibunya. Tuja berusia lima puluh tahun, dia tidak lagi bisa mengandung atau memiliki seorang anak. Rahimnya sudah di tutup dengan operasi besar.
Sosok monyet menyusu darah yang dia sedot sepanjang malam. Permintaan dari salah satu syarat pesugihan itu merenggut darah mengubah dunianya semakin menghitam. Setelah melewati malam setiap sosok monyet meminta syarat darah padanya, wajahnya semakin memucat. Tubuh bergetar membuka pintu. Pada satu tahun sekali di bawah bulan purnama, Karsida melakukan kegiatan rutin itu. Tapi pada malam ini, di usianya yang semakin menua membuat dia tidak tahan merasakan sakit seperti tubuh di sayat pisau bergerigi sangat tajam.
Berpikir hari ini dia akan meninggal, Karsida juga menulis sebuah surat rahasia yang hanya di perbolehkan di buka kedua anaknya. Tanda tangan bercap darah, dia jatuh tidak sadarkan di atas ubin sepanjang malam.
Brughhh__
“Karsida! Kapan kau menyelesaikan tugas mu? jangan lupa tahun depan kau harus memberikan ku tumbal atau aku akan memakan anak mu!”
“Tidak! Jangan!”
__ADS_1
Dia membuka mata, keanehan merasakan tubuhnya kembali pulih tidak terasa sakit sedikit pun. Karsida berdiri tegak, dia memasukkan kertas yang di tulis ke dalam amplop. Di ruang tamu, banyak monyet melompat mengeluarkan suara aneh.
“Pak! Bapak! Tolong aku!”
Krekk. Tuja menyalakan lampu, dia melihat Karsida membenturkan dahi ke dinding. Tuja berlari menahan kepalanya. Dia menarik kuat tubuh istrinya lalu menggiringnya ke sofa.
“Kamu kenapa sih bu? Kan sudah bapak bilang kalau mau ke lantai atas ajak bapak!”
“Tuan monyet tidak mengijinkan siapapun yang masuk pak. Dia mau mengambil anak kita kalau tahun depan tidak memberikannya tumbal. Hiks.”
......................
Semua guru yang bergembira menerima rezeki nomplok, tidak dengan Geha terus menerus menatap amplop dan buah tangan di atas meja. Dia masih trauma kalau sudah menerima uang dari Tuja. Berpikir akan pindah sekolah dan mengembalikan pemberian itu. Geha menetapkan hati dan pikiran menulis surat pengunduran diri. Dia angkat tangan, menyerah kalau selalu bermasalah dengan monyet nyata atau tidak nyata.
Pagi-pagi sekali, Geha menunggu Karsida di depan ruangannya. Dia memegang surat dan permintaan ijin tidak mengikuti aturan menyelenggarakan acara perpisahan karena mengatakan ada keperluan yang sangat mendesak.
“Hah, memangnya pak Geha itu mau kemana sih? Kok buru-buru cuek bebek ke rekannya?” ucap pak Wala memperhatikan wajahnya yang sangat serius.
“Saya dengar beliau mau resign pak. Tapi mungkin pendengaran saya salah, nggak mungkin pak Geha berhenti bekerja begitu saja” jawab Wiro mengangkat bahu.
“Ya bapak benar, apalagi di sekolah ini ada siswi yang menjadi dambaan hatinya. Hihi.”
__ADS_1
Pak Wala mengusap dagu memikirkan sikap Geha berbeda dari biasanya.
“Tapi ada yang aneh pak. Kita nggak melihat pak Dimas beberapa hari ini. Nomornya juga tidak aktif” tambahnya lalu mengambil ponsel dari kantung baju.