Sekolah Monyet

Sekolah Monyet
Makanan iblis Lilia


__ADS_3

Asrama sekolah selesai tepat dalam jangka pendek. Para pekerja yang andil menyelesaikan tepat sebelum waktunya. Tuja mempercepat proyek dengan menghadirkan para pekerja lain dari setiap daerah. Besok adalah peresmian gedung-gedung berarsitektur mewah. Pada hari ini Karsida melakukan rapat bersama dewan guru. Rapat mendadak membuat anak-anak harus di pulangkan sebelum jam pelajaran berakhir. Beberapa guru yang hadir membisikkan keanehan pada salah satu pembangunan sekolah.


“Pak, saya mendengar ada sebuah tempat yang sengaja di kosong kan. Kabarnya tempat itu akan di jadikan sarana kedatangan para dukun untuk mengusir kesurupan” bisik Wala sambil memperhatikan Karsida yang masih sibuk berbicara dengan guru lain.


“Benarkah pak? Hihh, aku jadi merinding. Itu patung-patung monyetnya serem banget.”


“Pak Geha jangan membicarakan properti yang bentuknya tidak seseram patung yang ada di dalam ruangan kantor pak Tuja sekarang.


Pemanggilan seluruh dewan guru agar rapat segera di laksanakan. Tampaknya banyak guru yang absen karena keperluan mendadak. Tidak bisa di pungkiri setelah menerima gaji, banyak guru mengalami gangguan makhluk halus. Tubuh panas dingin, demam berkepanjangan dan pandangan mata tidak fokus.


“Kenapa banyak guru yang tidak hadir?” tanya Karsida mengernyitkan dahi.


Dia menyampaikan aturan setiap guru beserta staf para pegawai ikut serta berkewajiban menaati aturan sekolah. Adapun poin-poin yang di tambahkan. Mendorong siswa-siswi wajib masuk ke asrama pembangunan gedung baru, lebih aktif mengikuti kegiatan ekstrakulikuler dan rajin mengkoordinasi setiap kelompok pengolahan apotik hidup baik guru maupun siswa-siswinya.


“Huhh, jadi untuk apa kita kerja melebihi batas waktu jam efektif sekolah? Memang benar guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Rela mengorbankan diri menjadi penerang buat masa depan pendidik. Tapi kita sebagai manusia memiliki kehidupan masing-masing bapak, ibu. Ada keluarga di rumah yang menanti, kita juga memiliki tanggung jawab sebagai orang tua.”


Pak Tega melemparkan surat keterangan mengajar yang dia urungkan untuk di bawa menghadap ke Karsida. Mengajar selama lima tahun tidak pernah protes dengan semua aturan yang di tegakkan. Akan tetapi, dua tahun belakangan ini peraturan semakin aneh.


“Sabar pak, kita bicarakan masalah ini secara baik-baik. Kalau tidak, kita sampaikan saja pada pak Hoka” kata Geha sesekali memijit pundaknya sendiri.


Banyak pekerjaan tambahan mengurus acara peresmian gedung dan lainnya. Karsida memberi perintah dengan enteng. Dua hari ke depan acara di gelar dan memanggil para wali atau orang tua murid. Dimas mendengar ada murid memanggilnya. Suara jeritan sangat kuat dari arah gedung baru. Dia berjalan melihat permata berlari masuk ke dalamnya.


“Permata, kamu mau kemana? tunggu! ”


“Bapak, sini! Ayo ikut Permata pak! Hihihihh”

__ADS_1


Rambut pendek menutupi wajahnya, dia berhenti di sudut ruangan. Dimas menepuk pundaknya, siswi itu berubah wujud menjadi seekor monyet. Dimas membalikkan tubuh, berlari menarik pintu. Gagang pintu terkunci, dia menarik sampai mendobrak paksa membukanya.


“Pak, kamu dengar suara orang minta tolong nggak?” tanya seorang penjaga sekolah.


“Aku dengar, dari arah bangunan itu pak.”


Hoka dan si penjaga sekolah membuka pintu melihat Dimas pucat fasih ketakutan. Dia berlari meninggalkan mereka yang memperhatikan Dimas sangat ketakutan. Dia buru-buru mengambil kunci sepeda motor meninggalkan sekolah. Sosok yang dia lihat tadi bukan lah Permata, di tengah jalan mesin kendaraannya mogok. Tepat di area wilayah gapura tempat monyet yang sering di jadikan ajang wisata, kunjungan atau sekedar berhenti memberi makan.


Salah satu monyet mirip penampakan yang mengganggunya tadi. Dia memperhatikan salah seorang pria menangis di depan monyet kecil. Berjalan perlahan, mendengar pria itu mengatakan berkali-kali menyebutkan monyet di depannya adalah anaknya.


“Apa dia orang gila? Tapi pakaiannya formal. Ada hand phone di kantung baju depan yang hampir jatuh” gumam Dimas melihat monyet tadi pergi meninggalkannya.


“Pak, bapak kenapa?”


“Tenang pak. Rumah bapak dimana, biar saya antar.”


“Tidak perlu. Saran saya, kamu jauhi tempat ini. Saya bisa pulang sendiri.”


Dia berlari masuk ke dalam mobil sedan berwarna hitam. Dimas tidak mengerti apa yang dia maksud, sesampai di rumah, dia menceritakan kepada orang tuanya. Tanpa memberikan alasan, kedua orang tuanya juga melarang dia mendekati tempat itu.


......................


“Bagaimana ini yank, ibu mertua menyuruh kita mendekorasi acara peresmian gedung sedangkan kita banyak mendapat job satu minggu ini.”


“Ya sudah, nanti kita beli bahan baru aja. Model kekinian sekalian nambah koleksi usaha.”

__ADS_1


“Tapi bang belum gajian yank. Lagian gaji abang mana cukup buat beli bahan dekorasi baru.”


“Udah nanti adik bicarakan sama mbah Kubro. Abang jangan khawatir ya..”


Kebahagiaan Aryo lambat laun tidak sebanding dengan penderitaan di dalam gangguan nyata maupun tidur. Aryo sering melihat istrinya melakukan dua pekerjaan sekaligus di waktu yang sama. Tepat di sore hari, di sampingnya ada Lilia yang sedang tidur. Tiba-tiba saat di mendengar nada dering ponsel, terbaca nama Lilia memanggilnya.


“Halo, abang buka pintunya. Kamu gimana sih katanya hari ini mau nerima job di desa sebelah!” omelan Lilia keras terdengar.


Aryo melihat Lilia yang sedari tadi dengannya telah menghilang. Dia tidak menjawab pertanyaannya, jalan bergetar membuka pintu. Lilia berwajah masam, Aryo menerima tas dan sepatu yang biasanya dia bawa.


“Yank, abang tadi lihat kamu di rumah__ terus__"


Aryo tidak mau mengatakan hal sejujurnya. Dia tidak mau Lilia berprasangka buruk, di tengah ketakutannya. Sikap Lilia yang tidak biasanya hari ini meminta dia menyediakan empat butir telur rebus dan setengah matang ayam mentah.


“Kamu suka? Abang belum kasih bumbu yank. Ini ayamnya juga belum setengah matang.”


“Duh, abang jangan banyak pertanyaan ya. Lilia kemungkinan besar hamil lagi, jadi kalau banyak makan seharusnya abang senang.”


Lilia di luar kesadaran menghabiskan seekor ayam. Potongan, kunyahan tulang muda sampai menelan bagian hari dan ususnya. Dia masih tetap tidak kenyang, Lilia mengajak Aryo ke pasar untuk membeli beberapa ekor ayam dan bagian dalam ayam untuk di rebus sesampainya di rumah.


“Entah mengapa melihat cara makan istri ku ini terlihat seperti hewan buas. Dia tidak kesurupan seperti tanda-tanda orang kerasukan setan seperti biasanya. Aku harus memberitahu ibu mertua” gumamnya.


Mengirimkan pesan kalau Lilia tanpa henti meminta ayam setengah matang hingga meminum darah ayam. Wanita itu segera melajukan mobil ke rumah anaknya. Karsida melotot menarik kerah lengan Aryo, dia mengancam agar jangan berpikir istrinya kesurupan atau mengeluh jika Lilia minta makanan apapun.


“Kau sebagai suami harusnya mengerti kemauan istri mu, Jangan lagi mengirimkan pesan seperti ini. Ingat Aryo, kau harus menuruti semua permintaannya!”

__ADS_1


__ADS_2