
Siapa yang menyangka dia satu keluarga yang dia datangi sudah menjadi arwah penasaran? Kecelakaan besar menewaskan mereka. Mobil masuk ke dalam jurang, arwah mereka masih penasaran bergentayangan menghantui warga. Sosok nek kebaya yang di sebut sebagai orang pintar memiliki kemampuan ilmu kebatinan memberikan sesajian di depan rumah keluarga pak Doni.
Ayam panggang, telur mentah dan bunga warna warni. Mantra yang di ucapkan supaya arwah mereka tenang. Caya memiliki indera keenam, dia melihat Galang bukan lagi sosok manusia. Dia di larang neneknya memberitahu kepada Galang mengenai keadaannya.
“Kamu yakin mau membantunya? Resikonya sangat besar. Kamu harus siap melawan para iblis yang mengerikan.”
“Ya nek, Caya akan berusaha sekuat tenaga. Caya kasian sama Galang nek. Kita bantu dia ya nek.”
Di malam yang larut, Galang melihat dari jendela bagaimana keadaan rumah Doni dari luar. Dia melihat sesajian yang di sediakan nek Kebaya di ambil om Doni. Karena masih penasaran, Galang keluar mengendap-endap mengintip mereka melakukan aktivitas yang serupa sambil menyantap ayam panggang.
Galang memuntahkan isi perutnya, dia berlari masuk ke dalam rumah nek Kabaya. “Uhuk, huek.” Rasa mual masih terasa bergejolak di lambungnya.
“Kamu dari mana? Jangan keluar malam. Rumah ini sudah aman dari gangguan. Nenek sudah memantrainya”
“Maafkan aku Caya. Ternyata selama ini aku tinggal di rumah hantu.”
Pagi menjelang, Caya mengantarkan Galang menaiki Bus. Dia membayar ongkos lebih pada supir. Keanehan mendengar kernet mengatakan Caya hanya cukup membayar satu kursi.
Ada penghuni lain yang sesekali menumpang di bus. Hal itu sudah menjadi rahasia umum para supir. Mereka tetap berhenti di jalur pemberhentian untuk menaiki penumpang ghaib maupun menurunkannya.
“Kok kamu tadi bayarnya banyak banget Ca?”
“Ya, aku suka gitu aja. Sudah jangan di bahas. Yuk kita teruskan perjalanan.”
__ADS_1
Berhenti di depan rumah Galang, dia maju mundur masuk ke dalam rumah. Galang berlari menjauh dari rumah, Caya mengejar menghentikannya. “Galang tunggu! Kamu nggak boleh gitu sama ibu kamu!”
Caya memaksa dia masuk ke dalam rumah. Galang mengetuk pintu, dia mendorong lebih lebar. Ibunya menangis melihat ke sebuah peti yang di taburi bunga. Panggilannya tidak di dengar, Galang berjalan lebih dekat melihat dirinya menutup mata di dalam sana. Dia baru menyadari telah meninggal, paku yang menancap pada papan membuat dia tertidur selamanya.
Andai saja dia tidak melawan ibunya, pergi dari rumah dan mengabaikan semua nasehatnya. Seperti keinginannya di hari ulang tahunnya, dia benar-benar terpisah dari ibunya. Amarah, tangisan, rasa bersalah dan kesempatan memperbaiki kesalahan tidak bisa dia lakukan.
“Ibu, ini Galang bu! Hiks, hiks” tangisnya memeluk ibunya yang tidak melihatnya.
Wanita itu membuang sapu tangan di lantai. Dia menggadaikan nyawa menunggu ritual pembangkitan anaknya. “Ikhlaskan anak mu Mala Kusuma! Arwahnya jadi gentayangan di kejar-kejar iblis. Kamu tidak bisa menentang takdir Tuhan yang maha esa!” ucap Nek Kabaya.
Iblis yang di persekutukan Mala masuk ke dalam tubuhnya. Dia kesurupan menyerang nek Kabaya. Pertempuran ghaib, nek Kusuma melawan namun tubuhnya di banting hingga membentur kursi. Caya di suruh tetap memegangi kalung yang isinya dia pasang jimat sebagai penangkal gangguan iblis.
“Nenek! hiks” teriak Caya dalam tangisannya yang tidak mau kehilangan neneknya.
Nek Kabaya menggunakan semua kekuatannya untuk mengusir iblis. Dia menunggu Mala agar mengikhlaskan Galang supaya bisa melepaskan persekutuannya. “Arghhh!” Mala mengerang kesakitan.
Galang meminta Caya agar menyampaikan pesan terakhir ke ibunya. “Bu Mala, Galang berpesan agar ibu jangan berlarut dalam kesedihan. Kata Galang, dia minta maaf telah menjadi anak yang durhaka.”
Penyampaian Caya si gadis indigo membuat air matanya semakin deras menetes. Mayat yang masih mengambang di atas bumi selama empat puluh hari itu akhirnya di kubur dalam proses yang sebaik-baiknya. Hujan deras, amarah dan dendam masih terasa di hari Mala. Kebenciannya pada Bangka karena berpikir anaknya pasti meninggal akibat gangguan iblis monyet peliharaannya.
......................
“Ya pokoknya ibu melarang keras kalian makan di rumah makan simpang tiga atau rumah makan bakso harum kuro. Keduanya sama saja, kalau ibu dengar kalian pergi diam-diam kesana. Ibu akan menghukum kalian nggak dapat uang jajan selama satu tahun!”
__ADS_1
Ancaman besar membuat salah satu anaknya ingin tau masalah apa yang terjadi antar keluarga besar itu. Melihat aktivitas keluarga Joko, para karyawan yang sibuk membawa beberapa tandan pisang. Tata memantau gerak gerik warung itu hingga melihat Joko menaiki sepeda motor menggunakan pakaian hitam membawa bungkusan plastik besar.
“Paman mau kemana tuh?” gumamnya mengikuti dari belakang.
Joko berhenti di sebuah gapura raksasa monyet. Tata mengikuti dari belakang, bulu kuduk merinding mencium aroma kemenyan yang menyengat hidung. Dia berhenti di sarang monyet, Joko melemparkan potongan pisang ke para monyet yang mengeluarkan dua suara aneh.
Tidak tahan berlama-lama berada di tempat itu. Tata berlari menabrak pria tua yang memakai pakaian hitam seperti pamannya. Dia mengunci tubuh Tata, merasa terancam Tata menendang kuat ************ pria itu.
Brughh__ “Aduh!”
Tata mengambil batu di besar, dia memukul kepala pria itu hingga tidak sadarkan diri. Tata segera berlari masuk ke dalam mobil. Seperti ada yang menahan mesin mobilnya. Sangat tidak masuk akal mobilnya mogok terhitung ayahnya baru saja membelikannya beberapa hari lalu.
Dia gemetaran keluar mobil, mengunci mobil lalu berlari pergi mencari arah jalan pulang. Kakinya di tarik seekor monyet yang tiba-tiba ada di belakangnya. “Arghh! Tolong!”
Di dalam rumah, Mala mondar mandir menunggu Tata yang belum pulang. Dodo akan melaporkan anaknya ke polisi jika tidak kembali selama satu kali dua puluh empat jam. Dia sudah mencari ke berbagai tempat, terlintas pemikiran anaknya bernasib sama seperti anak tirinya Galang. Pada malam itu Mala dan Dodo pergi ke rumah Joko untuk menanyakan apakah Tata ada singgah ke rumah makannya.
Kusuma duduk di kursi roda memeluk erat Mala yang datang. Dia tidak mau saudara kandungnya itu membenci suaminya. Tepat pada kejadian belasan tahun lalu, Galang yang meninggal di rumahnya menjadi momok ketakutan Mala pada Tata.
“Saya tadi melihat ada anak perempuan melihat tuan besar dari seberang jalan. Saya pikir pelanggan atau kenalan tuan besar non” ucap salah satu pekerja.
“Itu pasti anak ku Tata! Dimana dia Kak? Dimana anak ku! Hiks.”
“Dia tidak ada di rumah ini Mala, Tidak mungkin aku menyembunyikannya”
__ADS_1
“Lalu, kemana perginya mas Joko mbak?” tanya Dodo yang mulai curiga.
“Aku tau dimana dia mas. Aku akan menghabisinya kalau terjadi sesuatu pada Tata” ucap Mala mengambil pisau dari dapur.