
Enam tahun berlalu.
Didim tumbuh menjadi anak yang tertutup hanya memiliki satu orang teman. Raya, ustadz Zaki yang tinggal di kampung seberang. Dari kelahirannya hingga saat ini, hanya Barjan yang mengetahui semua tingkah pola anak dan sisi lain anaknya. Di hari-hari tertentu, dia sering menghilang dari rumah. Pernah sesekali Barjan mengendap masuk ke dalam lemari memperhatikan gerak-gerik anaknya sepanjang malam. Tepat di tengah malam, anaknya melompat keluar dari jendela setelah itu kembali masuk dengan kaki berlumpur.
Pada hari ini tepat di hari dia masuk sekolah, sifat Didim terlihat jelas dapat melukai orang yang berada di sekitarnya. Kelas berakhir pada pukul sebelas nol-nol WIB. Di kala itu cuaca sangat terik, abu berterbangan menambah sesak nafas polusi udara. Raya adalah teman terdekatnya, dia adalah satu-satunya murid di kelas yang menerimanya dengan baik.
“Didim, mulai besok kita pergi sekolah barengan yuk!” ajak Raya yang berjalan di depannya.
“Yuk!” jawab Didim singkat dengan mengacungkan kedua jempolnya.
Setiap pagi Didim semangat pergi membawa ransel untuk bersekolah. Tapi sifat liar iblis yang merasukinya mendorongnya untuk mencelakai bahkan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Bersekolah di sekolah favorit yayasan Jaya Kusuma, setiap bagian halaman sekolah yang terpisah kini di tempati para kawanan siluman monyet yang selalu mengganggu para penghuninya.
Asrama bagian putri masih sering kesurupan, banyak para guru yang melarang mereka agar jangan keluar di malam hari. Meskipun begitu sekolah tetap ramai di incar para murid pindahan dari sekolah lainnya. Didim berjalan mengikuti seekor monyet yang menampakkan wujudnya. Dia berdiri di bagian gedung paling atas.
Pak Dimas berlari menaiki gedung, menarik Didim agar jangan berdiri di bagian tepi. “Turun nak, nanti kamu jatuh” ucapnya merasakan tubuh anak kecil itu terasa dingin dan kasar.
“Lepaskan aku pria sialan! Arggh!” jerit Didim bersuara seperti orang dewasa.
“Didim kamu dimana? Ayo kita ke kelas” teriak Raya.
Dia berlari meninggalkan Dimas yang masih terduduk kaku setelah terhentak menahan tubuh anak kecil di hadapannya. Seekor monyet mengikuti mereka sampai mereka berjalan pulang. “Hei jangan ganggu Naya sahabat ku atau aku akan mematahkan leher mu! kau paham?” gumamnya melotot melihat sosok siluman monyet di belakangnya.
“Didim kamu lihat apa?”
“Nggak ada Raya, aku Cuma lihat air sungai itu jernih sekali. Pasti banyak ikannya”
“Hari libur kita mancing yuk, nanti aku minta ayah membuatkan jaring kecil.”
Tawa mereka berdua di perhatikan tiga orang anak laki-laki teman sekelasnya. Rute rumah mereka yang hampir berdekatan, terpisah di antara pepohonan bambu berjarak beberapa meter. Didim di dorong sekuat-kuatnya. Tangannya robek tertancap ujung bambu, Didim tidak merasakan sakit sama sekali. Dia dengan santai menarik bambu dari telapak tangan kananya.
__ADS_1
“Hahah, rasain kamu anak aneh!"
“Kalian pergi atau aku teriak minta tolong!” bentak Raya menunjuk dengan bambu panjang yang dia ambil di dekatnya.
Bekas luka sangat cepat sembuh tanpa berbekas dalam satu hari. Hari minggu di isi kerja kelompok Didim di rumah Raya. Selesai menyelesaikan tugas mereka berdua di ajak ustadz Zaki dan bu Malika makan bersama. Ketika Raya memulai doa di meja makan. Didim merasakan panas di tubuhnya. Dia menutup telinga, meninggalkan kursi makan lalu berlari pulang. Berdiri di depan pintu sambil memasang wajah amarah, anak laki-laki berteriak di dalam kamar.
“Arggh! Panas! Aku benci ucapan itu!” teriaknya menutup telinga.
“Didim, kamu kenapa nak?” tanya Melati memperhatikan kaos anaknya basah kuyup.
Keringat bercucuran tanpa henti, Melati mengganti baju anaknya dan berusaha menenangkannya. Suara ketukan pintu dari seorang pekerja memberitahu kedatangan bu Malika. Dia segera menemuinya membalas senyum sapaan di depan pintu.
“Silahkan masuk bu, maaf kalau anak saya Didim merepotkan. Duh, tasnya jadi ibu yang bawa, nanti saya marahin dia ya bu.”
“Tidak apa-apa bu Melati, makhluk masih anak-anak. Oh iya ini ada sedikit oleh-oleh, kalau masakan saya kurang lezat tolong di maklumi ya bu. Oh iya bu, saya mau mengajak ibu ikut pengajian rutin di desa seberang.”
“Tidak apa-apa nanti ibu saya ajari. Ini saya juga bawa dua jilbab, yuk kita cobain bu."
Dia dengan sabar membantu Melati memakai jilbab hingga meneguhkan hatinya agar lebih dekat kepada Allah Yang maha Esa. Raya menyusul ibunya, dia melihat Didi sedang bermain ayunan. Lambaian tangannya, berlari kecil menaiki salah ayunan yang kosong. Didim berhenti menaiki ayunannya, dia mendorong ayunan Raya perlahan hingga melambung tinggi ke atas. Tenaga Didim melebihi orang dewasa, Raya ketakutan sampai menjerit karena takut terbanting tidak kuat berpegangan.
“Didi berhenti! Aku takut! Arggh!"
Sedikit lagi dia terpelanting jauh, Didim menghentikan ayunannya dengan satu tangan. Dia juga memegangi tangan Raya yang gemetaran. “Kamu jangan takut Raya, aku akan menjaga mu.”
Berpamitan pulang, Didim membalas lambaian tangan Raya yang pergi bersama bu Malika. Di malam hari yang mencekam, sosok Didim berubah wujud berwajah mbah Ireng. Dia mengincar tiga murid yang mengganggunya kemarin. Sasaran pertama pada Adit, anak laki-laki berkulit hitam di tarik ke bawah kolong dengan tangannya yang memanjang dari luar jendela.
Tubuh Adit di benturkan sekuat-kuatnya, kedua orang tuanya terbangun mendengar suara teriakannya. Mereka terkejut melihat Adit pingsan di bawah kasur, terlihat kepalanya bersimbah darah. Didim menghilang mencari dua anak lainnya, dia juga melakukan hal yang sama bahkan salah satu anak bertubuh kurus mengalami koma karena kepalanya harus di operasi.
“Mas, aku dengar di kegiatan ibu-ibu pengajian kalau ketiga teman sekelas Didim memangalami hal yang sama. Kepala mereka terluka dan pingsan di bawah kasur. Dua murid lain mengatakan kalau Didit berwajah pria tua yang melakukan hal itu mas.”
__ADS_1
“Kamu percaya mereka atau anak mu sendiri? Jangan dengar omongan orang Melati. Kalau kita susah, mereka apa bisa bantu? Mereka Cuma iri sama kehidupan kita yang semakin maju!” ucap Barjan sedikit kasar.
Dia seakan-akan frustasi memikirkan anasib anaknya, Barjan berjalan keluar, dia membawa sepeda motor melaju kencang ke kuburan mbah Ireng. Menyadari istrinya pernah hilang masuk ke dalamnya, dia membongkar kembali makam kakeknya. Sosok barjan kini seakan kerasukan setan tidak memikirkan akibat perbuatan yang dia lakukan.
Melihat kepala tengkorak kakeknya masih hilang, dia menutup kembali tulang belulang yang mulai terpisah itu. Merapikan tanah kuburan posisi masih berjongkok memikirkan apa kaitan dari semua musibah yang di alami keluarganya. Dia berpikir kehadiran Pangga menghilang. Para warga mengatakan dia pindah ke desa seberang.
Tidak ada yang tau apa yang di lakukan pangga di dalam rumahnya. Dia memainkan mantra ilmu hitam. Sasarannya kali ini adalah ustadz Zaki, manusia yang selalu menghalanginya. Malam itu, Pangga mengucapkan mantra memanggil sosok mbah Ireng melalui Didim untuk membunuhnya.
Suara berisik dari depan rumah membangunkan raya. Didim berlari, menaiki tangga memperlihatkan wajahnya mirip orang tua. Raya memanggilnya, dia menarik tangan Didim yang terasa sangat kasar dan dingin. Melihat raya, wajahnya berubah seperti semula. Dia berlari melompat dari jendela.
“Arghh! Kenapa aku tidak bisa membunuhnya mbah?” ucap Pangga melemparkan kemenyan ke kepala tengkorak mbah Parjan.
Ustadz Zaki terbangun merasakann sosok iblis mau membunuhnya, dia bertanya pada raya apakah melihat anak Didim masuk ke rumah. Raya mengakui Didim berwajah pria tua baru saja berlari keluar dari kamar orang tuanya. Mendengar hal itu, ustadz Zaki meminta ijin pada istrinya pergi ke rumah Barjan. Pada malam itu suasana di kampung benar-benar risuh.
Suara teriakan Didim mendengar ibunya membaca ayat suci Al qu’an. Dia berubah wujud menjadi sosok pria tua. Lama-kelamaan dia berubah wujud menyerupai wajah mbah Ireng.
“Minggir Melati, dia bukan anak kita Didim. Ilmu mbah Ireng masuk ke tubuhnya” ucap Barjan berdiri bergerak mundur di depan istrinya.
Ustadz Zaki mendobrak pintu, dia membacakan ayat-ayat suci Al qur’an. Didim berubah wujud seperti semula, akan tetapi sebelum dia kembali. Sosok itu mengucapkan sesuatu yang membuat pikiran Barjan dan Melati tidak tenang.
“Aku akan kembali mengambil anak itu! Hahhh!”
......................
Sering pergantian musim, bisnis dan usaha Lilia dan Aryo berkembang pesat. Begitu juga yayasannya yang semakin elit dan mewah. Pada tahun berikutnya sosok siluman memilih bersemayam di janin Lilia sebagai tempat tubuh baru hidup di dunia. Lilia melahirkan seorang anak perempuan yang cantik jelita. Di balik lapis kecantikan siluman monyet yang membuat semua orang memandang meletakkan belas kasih sayang padanya.
Perihal para pemuja lain yang melakukan pesugihan di gapura monyet. Hidup mereka dari luar tampak kaya raya namun para anggoa keluarga atau tanggal bahkan hari pilihan anggota pekerja menjadi sasaran empuk sebagai tumbal kekayaan.
Sekolah monyet sampai saat ini masih tegak berdiri dari zaman ke zaman. Iblis yang dia puja menelan jiwa-jiwa yang di incar. Bukan hanya anak murid, guru, para staf pegawai, petugas sekolah atau siapapun yang berada di wilayah tersebut.
__ADS_1