
Jajah tertawa kegirangan mendapatkan benda keramat yang paling dia nanti-nanti. Tapi mendengar perkataan mbah Ireng bahwa keris itu harus di takhlukkan menggunakan proses panjang. Dia seketika lemas tidak bersemangat. Tinggal di dalam hutan belantara, duduk di dalm gua yang sangat gelap melakukan persemedian. Jajah hampir tidak mati berdiri melihat sosok makhluk yang mulai mengganggunya.
Susasana lembab, banyak hewan melata. Suara-suara aneh menggema di dalamnya membuat dia ingin menyerah berlari keluar. Semua ketakutannya itu di kalahkan dengan perkataan mbah Kumis. Dia akan menutupu mulut siapa pelaku pembunuhan Tanto dan mempertanggung jawabkan tindakannya.
Kabar malpraktek ilmu hitam yang meresahkan warga membuat pertanyaan siapa dukun hebat menggunakan ilmunya membongkar mayat bekas dukun mbah Ireng. Terlebih lagi jasad Tanto yang di temukan menambah ketakutan orang-orang yang melihatnya. Garis pembatas polisi terpasang di rusak demi melihat lebih dekat bekas darah dan pembongkaran mayat si dukun.
“Pigi yuk ,seram banget. Aku nggak sanggup lihatnya!” ucap Boge bergidik berlari keluar dari taman pemakaman umum.
Belum tuntas masalah pembongkaran kuburan yang masih ada mayat di dalamnya. Para polisi tidak menemukan bekas jejak yang mencuri apapun. Semua organ-organ tubuh mayat masih lengkap. Sedangkan jasad Tanto seperti tertusuk sebuah benda tajam. Malam berikutnya, para pengincar ilmu yang di miliki mbah Ireng masih berlanjut. Ada yang masih meyakini arwah mbah Ireng berpindah tubuh ke sosok jangkrik.
“Aku ingat betul. Ketika salah satu warga yang pernah berobat pada si mbah. Dia langsung sembuh saat tangan mbah menyentuh pada bagian yang sakit. Aku juga mendengar si mbah pernah mengatakan dia tidak akan pernah meninggal sekalipun mayatnya tertanam di tanah.”
“Sebagai cucu, kita tidak boleh meninggalkan ilmu si mbah begitu saja”
“Lantas, kepada siapa ilmu itu di turunkan? Masa kau tidak tau Barjan. Si mbah lebih dekat dengan mu”
Jari jemari Rangga mengetuk meja. Di dalam rumah itu belum terlepas udara aroma minyak khas yang sering di pakai si mbah setiap hari. Kamar si mbah masih tetap sama seperti sedia kala, tidak ada yang di ubah tatanan maupun benda-benda di dalamnya. Setiap malam jumat, Barjan tidak lupa menyediakan sebuah wadah yang berisi bunga dan bakaran dupa. Si mbah pernah mengingatkan padanya kalau sekalipun dia meninggal, sesajian itu tidak boleh di tinggalkan.
__ADS_1
“Aku nggak tau ilmu itu larinya kemana. Sungguh Pangga, aku tidak mengharapkannya. Mendengar kuburan mbah tidak aman saja aku ingin menjaganya satu kali dua puluh empat jam. Andai saja Melati sedang tidak hamil besar pasti aku menjaga kuburan si mbah sampai benar-benar aman.”
Pada malam selanjutnya mereka berjanji akan membahas ilmu si mbah dan melakukan penjagaan secara bersama-sama. Pangga berpamitan pulang, Melati menarik suaminya masuk. Dia tidak mempercayai benda-benda klenik. Melati tidak henti membujuk Barjan agar membuang semua sesajian dan mengganti kamar si mbah menjadi ruangan ibadah.
“Mas, perasaan ku tidak enak. Aku setiap malam bermimpi buruk, kehamilan ku terganggu dengan penampakan makhluk yang wajahnya berubah-ubah. Salah satunya mirip si mbah mengusap perut ku. Kita tanyakan hal ini ke pak Ustadz saja mas.”
“Tidak Melati, aku tidak mau perewangan si mbah mengamuk dan mengganggu.”
Lima tahun silam.
Hujan menerjang tubuhnya yang ringkih. Pria tua itu keluar dari dalam gapura tua Di dalamnya ada patung berdiri memperlihatkan bentuk lekukan sosok kera besar yang memiliki gigi taring panjang. Manusia itu membenturkan dahinya ke kaki patung. Dia kehilangan arah, di dalam persemedian berharap bisa mendapatkan ilmu dari persemediannya berujung maut di mangsa sosok siluman yang berubah besar.
Kakinya putus di gigit makhluk yang ada di dalam gua. Ketika dia akan keluar, tubuhnya di tarik hingga Ireng terpaksa merelakan kaki kanannya agar bisa lepas dari sana. Darah segar manusia membanjiri patung tempat pesugihan yang konon di kabarkan memiliki ilmu kesaktian berwujud jin siluman iblis. Tubuh Ireng bergetar merasakan sosok dari dalam patung keluar masuk ke dalam tubuhnya.
“Huahhh, ngik. Huahh”
Suara aneh Ireng memukul dadanya. Dia tidak merasakan kakinya yang sakit sekalipun darah masih mengalir. Dia setengah sadar berjalan pulang ke rumah. Istrinya pingsan melihat kelakuan aneh suaminya yang tampak biasa saja berjalan menggunakan kaki panjang pendek.
__ADS_1
“Bu, bangun! Tutup darah ku ini!”
Heni perlahan sadar melihat suaminya menyodorkan kain agar menyeka darah di kakinya. Heni berteriak minta tolong, pada malam itu hanya ada pak Sudir yang masih terjaga. Dia membawa Ireng ke rumah sakit menggunakan sepeda anginnya.
Untuk menutup daging yang terbuka lebar itu, kulitnya di jahit sejumlah dua puluh jahitan. Tapi Ireng tidak merasakan sakit sama sekali. Untuk beberapa bulan ke depan di perkirakan sampai tiga bulan dia harus melakukan Bed rest. Tidak boleh melakukan aktivitas apapun. Tapi keanehan melihat dia bisa berjalan sendiri masuk ke dalam kamar. Sudir melongo, dia merasakan ngilu sendiri mengamati Ireng menggerakkan kaki sambungnya.
“Pak Ireng, itu kaki sambung kan bisa di pakai kalau jahitan sudah kering. Jahitan bapak masih basah, nanti takutnya kebuka. Apa nggak sakit bapak paksakan memakainya?”
“Ah kamu jangan berlebihan pak Sudir. Ini Cuma luka kecil saja kok. Oh ya terimakasih ya atas bantuan bapak.”
“Ya pak sama-sama. Saya permisi pulang..”
Setelah malam mencekam itu, Ireng terkenal sebagai dukun sakti. Banyak orang-orang dari daerah maupun kota datang mencarinya. Ireng sering terlihat di bagian gapura kera raksasa. Dia bukanlah juru kuncen seperti sosok Kumis walau mereka semasa muda sering berpapasan melakukan ilmu hitam dengan proses yang berbeda.
Kekuatan yang berasal dari setan akan memakan diri sendiri. Sampai ke anak cucu, meski kehidupan Ireng meningkat dia mulai merasakan lebih banyak gangguan terutama pada anaknya yang melakukan kebiasaan aneh.
Joko sering berbicara sendiri, dia juga pintar memanjat dan sering menggunakan gerakan mirip seekor binatang. Suatu ketika di malam satu suro, tepat saat Ireng mencuci gaman miliknya. Anaknya berubah menjadi sosok manusia jadi-jadian. Wujud wajah manusia bertubuh monyet, Joko melompat kesana kemari menakut-nakuti seisi rumah. Dia makan semua buah-buahan yang ada di atas meja. Joko mengamuk jika satu hari tidak makan pisang. Menyadari anaknya terkena sosok jin dari ilmu yang dia puja. Ireng tidak bisa menjawab permintaan istrinya agar mengobati penyakit anaknya.
__ADS_1
“Aku tetap tidak mau tau pak. Percuma saja kau dukun sakti tapi anak mu selalu kesurupan menyakiti dirinya sendiri!” bentak Heni yang mulai habis kesabaran.