
Setelah selesai mendengar cerita dari Riana bunda Senja, Semesta tersadar bahwa semua yang di bicarakan oleh ayahnya kepadanya waktu kecil ialah omong kosong.
Semesta mengingat semua ucapan Kevin, mulai dari Kevin yang menceritakan semua tentang mama nya yang tewas karna tertabrak.
Semesta berjanji akan membunuh orang tersebut yang telah membunuh mama nya, dan kini ia tau kalau Kevin ialah dalang dari kematian mama Semesta.
Kenapa Semesta begitu mudah percaya dengan cerita Riana? itu masih menjadi pertanyaan.
"Tante, saya boleh izin melihat Senja?," ujar Semeta dengan hati hati, takut di kira aneh aneh oleh Riana.
"Senja tidur tadi nak, kayanya Senja lagi sakit," balas Riana.
"Sebentar saja tan," mohon Semesta.
"Yasudah, kamu lihat saja Senja," ucap Riana di balas anggukan oleh Semesta.
Kini Semesta berjalan munuju kamar Senja,ia membuka gagang pintu kamar Senja dan mendapati gadis itu tengah tidur terlelap.
Semesta berjalan mendekati Senja, setelah berada di samping Senja. Tangan Semesta terulur untuk memegang kening Senja.
Hangat, kening Senja terasa hangat, Semesta merasa bersalah karna membiarkan Senja terguyur hujan tadi.
Ketika Semesta hendak pergi tangan Semesta di pegang erat oleh Senja.
"Emm, Semesta gua pengen es teh," ujar Senja membuka matanya perlahan.
"Dasar gadis bodoh, kamu sedang sakit bagaimana mungkin aku membiarkan mu meminum es?!!," marah Semesta.
"Tapi kan gua pen es ta," rengek Senja.
"kamu mau saya toyor?,"
"Semesta!!! gue pen ess aaaa beliin nanti gua ganti uang lo," rengek Senja.
"Sekali saya bilang tidak ya tidak Senja,"
"Oh gitu? yauda pergi lo males gua sama lo," marah Senja lalu membalik badan nya.
"Okey fine, kamu boleh minta apa saja kecuali es,"
"Tapi gua pen es teh!!!,"
"Teh hangat?,"
"Nggak!!,"
"Senja,"
"No i don't want that, i just want es teh!!!,"
__ADS_1
"Tidak Senja,"
"Ohhh ga mau? yaudaa okee fineee lo bole pergi,"
"Oke oke saya belikan, dimana warung es teh itu?,"
"Ayok!!! gua temenin!!!,"
"Baiklah," ucap Semesta dengan pasrah.
Senja segera ganti baju dan mengekor Semesta yang memang dari tadi sudah pergi.
Senja melihat Semesta tengah asik mengobrol dengan bundanya pun tersenyum kecil.
"Bunda, Senja izin keluar sama Semesta yaa!!!," ujar Senja.
"Loh Senja, bukan nya Semesta harus pulang? udah hampir malam lo," balas Riana.
"Kalo malam ya biarin dong bun, lagian Semesta kan bisa nginep sini," ujar Senja.
"Tante, saya aterin Senja nanti saya sekalian pulang," ujar Semesta di balas anggukan oleh Riana.
Kini keduanya sudah berada di luar rumah, hari sudah hampir gelap, jalanan terlihat becek karna terguyur hujan.
"Senja warung esteh nya mana?," tanya Semesta yang sibuk clingak clinguk, berbeda dengan Senja yang sibuk dengan ponselnya.
"Saya tidak suka di abaikan Senja," tegur lelaki tersebut.
"Ih apaan sih ta, balikin hp gua!!," marah Senja berusaha meraih ponselnya yang ada di saku celana lelaki tersebut.
"Nggak Senja, kita beli es teh nya dulu baru saya balikin ponsel kamu," ujar Semesta lalu pergi meninggalkan Senja.
Di sepanjang jalan Senja mencibirkan mulutnya dan bersendekap dada. Semesta melihat kelakuan gadis tersebut tersenyum kecil.
Sesampainya keduanya di warung tersebut, Senja langsung memesan es teh tanpa menunggu Semesta yang menyampaikannya.
"Lelet lo!!," ujar Senja dengan wajah jutek.
Semesta yang melihat itu pun terkekeh, Semesta melihat Senja yang duduk di kursi panjang yang kosong itu pun lantas menghampirinya.
"Kamu masih marah sama saya?," tanya Semesta.
"Nanya lo?," sewot Senja.
"Ya jelas lah saya nanya, sudah jelas jelas ada tanda tanya nya di belakang nya," ucap Semesta membuat Senja geram.
"Ya gua tau anjir, lo ni ya suka banget bikin gua emosi, rasanya liat muka lo pengen buang lo ke sungai amazon tau!!!," marah Senja.
"Memang kamu ke sana mau naik apa Senja?,"tanya Semesta.
__ADS_1
"Ihhhh!!! ****** ya lo tau lah bikin orang emosi aja idup lo," ujar Senja dengan raut muka sebal.
"Kamu kalau ngambek kaya ikan buntal," ujar Semesta tanpa dosa.
"Agrrrrr, apa apaan lo? apa hak lo bilang gua ikan buntal hah?!!," marah Senja.
"Ya, saya tidak salah kan? bukan nya kamu pernah bilang ke saya kalau jujur lebih baik?," ujar Semesta dengan senyum manis.
"Ya ngga gitu konsepnya, Semesta!!," ujar Senja dengan marah.
"Lalu gimana Senja?," tanya Semesta lalu menompang wajah nya di telapak tangan sembari menatap Senja lembut.
Senja yang di tata begitu pun lantas memalingkan wajah nya yang lagi dan lagi kembali merah.
"Biasanya ikan buntal itu kalau salting langsung kaya kamu," ujar Semesta dengan senyuman.
"Apa apaan lo sotoy!!," ujar Senja menahan malu.
"ES TEHH 3," teriak seorang lelaki pemilik warung.
Mendengar itupun Senja segera bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Semesta yang sedari tadi menatapnya.
Sungguh tidak kuat melihat ketampanan Semesta, apalagi waktu dia sedang tersenyum sungguh Senja tidak kuat akan hal itu, Semesta ini manusia seperti apa?sangat sulit di tebak, terkadang bersifat dingin terkadang bersikap manis, sungguh manusia rumit.
"Makasih mang," ujar Senja.
"Sama sama neng,"
Senja berjalan terlebih dahulu, sementara Semesta di belakang Senja dan melihat kelakuan senja.
"Ayo lahh ta!!! lo ni lemot banget deh!!," teriak Senja membuat Semesta berlari menghampiri Senja.
Kini keduanya berjalan bersama, Senja yang hanya sebahunya Semesta membuatnya terlihat lucu.
Senja mendongak melihat Semesta, rahang yang tegah, wajah yang tampan, sungguh lelaki sempurna. Mata Senja tidak sengaja melihat ada bekas luka lebam di sudut bibir lelaki itu, tangan Senja terulur dan memegang bekas lebah tersebut.
"Sttt," ringis Semesta saat Senja memegang bekas lebam tersebut.
"Semesta, lo ga papakan?!!," khawatir Senja saat melihat Semesta yang meringis kesakitan.
"Saya tidak kenapa napa Senja," ujar Semesta.
"Jangan bohongin gua ta, lo kenapa? siapa yang buat lo lebam kaya gini?," tanya Senja dengan khawatir.
"Saya tidak apa apa Senja, ini hanya luka kecil, tidak sengaja terbentur," ujar Semesta, ia memegang pipi Senja dengan senyuman.
"Semesta, ayolah jangan bohongin gua, gua bisa bedain mana luka terbentur mana luka tonjokan," ujar Senja lalu menepis tangan Semesta.
"Plis, anggap gua rumah lo ta, gua sedia menampung semua curhatan lo, jangan bohongin gua terus ta, gua gamau lo bohongin gua terus, kalau ada apaa apa cerita sama gua ta, jangan sembunyiin semua dari gua," ujar Senja dengan raut wajah sangat serius.
__ADS_1