
Jam sudah menunjukkan pukul 06:35 yang berarti kurang 25 menit lagi bel sekolah akan berbunyi.
"Lo duluan aja ta, gua nunggu motor gua selesai," ujar Senja sembari memainkan ponselnya.
"tidak, saya tidak suka ada siswa ataupun siswi yang terlambat, tidak di siplin," ujar Semesta tegas.
"Lo nih terlalu di disiplin tau, lagian gua mau naik apaan kalau motor gua aja masih di rumah sakit," ujar Senja dengan tatapan sinis.
"Kamu panas? motor kamu kan lagi di bengkel bukan rumah sakit," ujar lelaki itu.
"Lo kalo sakit parah di rawat di mana?,"
"Di rumah sakit,"
"Nah tu tau, gini ya ta, motor kalo masuk bengkel itu dia lagi rusak, manusia kalo masuk rumah sakit berarti dia lagi sakit, sama kaya motor gua dia lagi sakit,parah sampe di bedah tuuu," ujar nya dengan mengarahkan kepalanya ke arah motornya.
Mendengar penjelasan dari Senja, Semesta hanya bisa menganggukan kepala dengan pasrah.
"Kamu nebeng saya aja, daripada kamu telat, lalu di hukum," ujar Semesta.
"Gak gak!! apa apaan nanti kalau semua salpah giamana, nanti mereka ngira kita punya hubungan kagak dah amit amit," ujar gadis itu dengan menggeleng kan kepalanya dengan kuat.
"Coba cek sekarang jam berapa," ujar Semesta.
Senja segera menyalakan ponsel nya lagi dan betapa terkejutnya ia bahwa sekarang sudah pukul 06:45,padahal perasaan nya tadi baru pukul 06:35 kenapa waktu bergulir begitu cepat?.
"Yakin? nanti di hukum loh kamu," ujar Semesta
menakut nakuti Senja, kini Senja panik dan bingung, antara harus menunggu motornya di sini, tapi nanti terlambat, atau numpang dengan Semesta tapi nanti di jadiin bahan bicaraan 1sekolah, Semesta kan anak yang begitu populer, selain karna ia pintar, dan ketos Semesta ialah lelaki yang tampan dengan tubuh yang tinggi.
"Nunggu kamu mikir keburu masuk, saya duluan,"ujar Semesta.
Di saat Semesta menyalakan motornya Senja berdiri dan berkata "oke gua nebeng lo," ujar Senja dengan pasrah.
Semesta memberi kode kepada Senja untuk naik ke motornya. Senja melihat motor yang begitu besar itupun merasa ngeri, kalau gua terbang trus jatuh giaman ya? apalagi tubuh gua kecil, kering kaya abis di jemur, ujar Senja dalam hati.
Dengan terpaksa Senja menaiki motor milik Semesta yang besar itu. Agar tidak di jadikan bahan gunjingan, Senja memilih untuk berpegangan pada bagian belakang motor, cari aman batin nya.
Entah fikiran apa yang merasuki Semesta, ia melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Melihat Semesta yang menjalankan motornya dengan cepat, membuat jantung Senja berdegub kencang.
"WUAAAA SEMESTA ANJING!!!!," teriak Senja dengan panik.
Karna terlalu takut tanpa di sadari kini Senja sudah memeluk Semesta dengan begitu erat, bahkan kepalanya ia senderkan di punggung lelaki itu.
__ADS_1
"Kamu nyari kesempatan ya? peluk peluk saya," ujar Semesta.
Mendengar perkataan Semesta membuat Senja membuka matanya, dan menyadari bahwa ia memeluk Semesta dengan erat, dengan cepat Senja melepaskan pelukan nya dan turun dari motor milik Semesta.
"Eh monyet, kalo bukan karna lo naik motornya kenceng kek mau ngajak mati mana mungkin gua peluk peluk lo, lo kali yang nyari kesempatan sama gua biar lo bisa ngerasain pelukan gua yakan," ujar Senja dengan muka merahnya.
"Jangan kegeeran senja, saya tidak pernah menginginkan kamu memeluk saya, karna jam sudah mepet makanya saya lajuin motonya," ujar Semesta mentap Senja remeh.
"Ihh apaan sih tau lah serah lo," ujar Senja, ia pergi meninggalkan Semesta dengan marah, muka Senja sudah seperti kepiting rebus.
Karna kelas Senja melewati kelas Semesta membuat Senja harus bergegas meninggalkan Semesta agar semua orang tidak tahu kalau ia berangkat bersama dengan Semesta.
Ia segera berlari ke dalam kelasnya.
"Nja, lo tumben telat? untung guru nya blom dateng," ujar Vina, ia melihat raut wajah Senja yang seperti kepiting rebus.
"Nja? lo gapapa kan? lo sakit? muka lo kayak kepiting rebus sumpah," ujar Vina dengan raut wajah yang aneh.
"Gapapa, gua ga sakit, kena panas tadi makanya merah," bohong Senja.
Vina tau bahwa Senja tengah berbohong kepadanya, harus di cari tau,.ujar Vina dalam hati. Vina ialah sosok perempuan bertubuh kecil yang imut di mata semua orang, dia sangatlah kepo kalau seseorang tengah berbicara tentang siapapun itu, seperti Senja yang sekarang, bukan Vina kalau tidak di cari tahu.
...----------------...
"Kedepan yok!!! beli jajan di depan gua laper semua kantin tutup," ujar Vina.
Mendengar perkataan Vina yang mengajaknya ke depan untuk membeli makanan pun membuat Senja malu setengah mati. Mengingat kejadian ia memeluk Semesta membuat wajah nya kembali memerah.
"Nggak nggak gua ga jadi laper," ujar Senja.
Ketika senja hendak pergi Vina memegang tangan Senja dengan erat dan berkata,"ayok!! gua laperr!!!," paksa Vina.
"Nggakkkkkkkkk," teriak Senja histeris.
"Ayok!!!!,"
"Nggakkk!!!!!!!,"
Senja memeluk pohon yang memang berada di depan kantin tersebut, dan Vina sibuk menarik badan Senja.
"Ayok!!!!! gua laper!!!,"
"Nggakkkk nggakk mau!!!,"
__ADS_1
"Ayok!!!!"
"Nggak!!!!,"
"Ayok!!!!!,"
"Nggak!!!!,"
Suara mereka sampai terdengar dengan kelas lain nya, membuat mereka melihat tingkah konyol keduanya.
"Aaaaa jangannn, gua ga mauu gua ga laperr!!!," teriak histeris Senja.
"Tapi gua laper!!ayok!!!!," paksa Vina.
Ekhem!!!
Suara deheman dari arah belakang mereka membuat keduanya tersadar dan menoleh ke belakang secara bersama.
Betapa terkejutnya ia saat melihat hadir nya mahendra dan Semesta dengan tatapan dingin mereka yang menusuk.
"K-kak mahen?," ujar Vina gugub.
"Kalian kenapa? ada apa?," tanya Semesta kepada Senja yang masih setia membeku.
Kini wajah Senja kembali memerah, membuat ketika orang tersebut bingung.
"Nja? lo sakit?," tanya Vina memastikan sang sahabat.
Bukan nya menjawab Senja hanya mematung dengan raut muka yang sudah merah merona.
Terbayang bayang adegan ia memeluk Semesta dengan erat, bagaimana rasanya ia memeluk Semesta, dan merasakan harum parfum lelaki tersebut semakin membuatnya tidak bisa berfikir.
Dengan keadaan Senja yang sekarang membuat semua orang khawatir akan kesehatan Senja, kecuali Mahendra yang tengah mengamati wajah khawatir Semesta.
...----------------...
Setelah kejadian di kantin tadi Mahendra dan Semesta kembali ke ruang osis.
"Kenapa tadi kau terlihat khawatir dengan gadis itu?," tanya Mahendra dengan serius.
"Kau sudah lupa? aku tertarik dengan gadis itu," ujar Semesta dengan jujur.
"Jarang sekali kau tertarik dengan seorang gadis,"
__ADS_1
"Kau fikir aku menyukai lelaki," ujar semesta sinis.