
Kini Semesta telah berada di rumah. pukul 10 tadi Semesta berpamitan kepada bunda Senja untuk pulang, karna banyak urusan yang ia harus urusi. Dan kini Semesta telah sampai di rumah pukul 2 dini hari. Tadi sebelum ia pulang ia mendapat telfon dari salah satu teman nya yang tak lain ialah Azril. Mendapat informasi yang mengejutkan dari Azril membuat Semesta mau tak mau berbohong dengan Senja dan bunda Senja.
Perjalanan menuju markas milik Azril cukup jauh sehingga menghabiskan waktu hampir setengah jam, dan sial nya juga markas tersebut ialah markas yang baru Semesta ketahui, karna Semesta tidak begitu perduli dengan urusan lain jadi, ia baru tau dari Sherlock dari Azril yang menuju kepada sebuah basecamp bernuansa hitam putih tersebut. Melihat begal yang tadi menyerang Senja dan Vina membuat amarah Semesta meluap luap. Semesta tak henti hentinya menanyakan pertanyaan kepada begal tersebut. Dan itu berakhir selama berjam jam hingga membuat Semesta harus pulang selarut ini.
cklek, suara pintu terbuka, dan sang pelaku ialah Semesta. Semesta berjalan menuju meja kerja sang ayah yang tak lain berada di lantai atas, yang mengharuskan Semesta untuk menaiki tangga itu satu persatu.
Ketika sampai di sebuah ruangan besar yang bernuansa silver tersebut, Semesta terdiam dan mencerna semua kejadian tadi, hingga ia memutuskan untuk masuk ke ruangan tersebut.
"Me—," belum selesai Kevin ayah Semesta menanyakan pertanyaan, Semesta langsung melemparkan pertanyaan.
"Kenapa anda melakukannya?" ujar Semesta dengan tatapan dingin.
"Apa maksudmu?" ujar Kevin.
"Tidak perlu berlagak seperti kucing yang polos," ujar Semesta lalu menyandarkan tubuhnya di sebelah meja kerja ayah nya.
"Saya tau semuanya," lanjut Semesta sebari menatap sang ayah dengan tatapan dingin nya.
"Semesta, tidak perlu bertele-tele katakan saja apa yang mau kamu katakan," ujar Kevin.
"Baiklah baiklah, mengapa engkau melakukan aksi sekejam itu dengan seorang gadis SMP, tuan Kevin,"
"Gadis itu? Saya tidak suka seorang gadis sepertinya membuat mu terpengaruh kedalam lubang setan,"
"Justru andalah lubang setan itu,"
"Tutup mulutmu, kurang ajar, ayah tidak mendidik mu sebagai pembangkang,"
"Ayah? Mendidik ku? Bukan nya ayah menghabiskan waktu ayah di ruangan ini dengan dokumen-dokumen yang tengah berada di meja mu itu?"
"Semu—
"Stt jangan memotong pembicaraan ku," ujar Semesta kala sang ayah berusaha menyela ucapan Semesta yang memang benar benar nyata.
"Bahkan waktu anda hanya tersisa untuk is—maaf maksudku, pelakor berkedok istri,"
"TUTUP MULUT MU SEMESTA, KAMU MAKIN LAMA MAKIN MEMBANGKANG, MAU JADI APA KAMU SEMESTA," ujar Kevin dengan emosi yang meluap-luap.
__ADS_1
"Loh dari dulu saya memang membangkang, karna siapa? Karna anda tuan Kevin. Dan anda bertanya mau jadi apa saya nanti? Saya ingin menjadi pembunuh, dan membunuhmu," ujar Semesta dengan tatapan dingin, membuat lidah Kevin kaku.
"Bagaimana rekan bisnis mu jika mengetahui, bahwa seorang Kevin, seorang CEO. Membayar seorang brandalan untuk mencelakai seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku SMP,"
"Kenapa anda hanya diam? Baiklah saya balik ke kamar saya permisi," ujar Semesta.
"Tunggu," cegah kevin.
"Ada urusan lain?", ujar Semesta lalu memutar balik badan nya hingga kini keduanya bertatapan lagi.
"Saya sudah tau kalau kamu sekarang terpengaruh oleh gadis tersebut hingga melupakan janji mu waktu kecil", ujar Kevin dengan tegas.
"Saya melupakan janji saya? Tidak. Karna saya sudah tau siapa penjahat di balik kematian mama", ujar Semesta dengan dingin lalu pergi meninggalkan Kevin yang diam membeku.
Ketika Semesta sudah pergi Kevin masih dia di ruang kerja sembari mencerna ucapan Semesta. Karna saya sudah tau siapa penjahat di balik kematian mama", ucapan itu selalu berputar di kepala Kevin.
"Agrrrrrr, sialan!", umpat Kevin sembari memegangi kepalanya.
"Sialan, apa maksud anak itu, apakah ia sudah tau sebenarnya, sungguh sial", ujar Kevin dengan kesalnya.
...****************...
Ketika Semesta hendak pergi ke kamar mandi, bunyi telfon nya mengusik telinga Semesta sehingga membuatnya harus kembali dan melihat siapa yang menelfon nya malam malam seperti ini.
"Ha—", ujar Semesta terpotong kala mendengar sumber suara berteriak memanggil nya.
"Taaaaa, gua laper", ujar manusia di sebrang sana yang tak lain ialah Senja.
"Huh, Senja kamu membuatku ingin memukulmu", balas Semesta lalu duduk di tepi ranjang.
"Berani lo mukul gua ha?", balas Senja dengan sewot.
"Mana mungkin aku tega mukul kamu, lihat kamu aja udah salting", ujar Semesta sembari tertawa kecil.
"Di belajari siapa lo gombal kek gitu?",
"Di belajari hati, soal nya hatiku ga kuat kalo udah dengar suara kamu",
__ADS_1
"Stres lo? Udah deh gua laper Ta, laper, bukan laper pengen lo gombalin aelah",
"Iya iya mau apa? Aku pesenin, biar di antar ke rumah kamu",
"Boros ah, mending keluar aja yuk",
"Angin malam ga bagus buat kesehatan Senja",
"mang ada teori angin malam membunuhmu?",
"Nggak tau",
"Yauda makanya ayok keluar cari makan',
"Baiklah, aku mandi dulu",
"Lo dari kemarin blom mandi?",
"Em belum",
"Hi jorok njing",
"Biarin",
"*huekk",
tuttt*, suara sambungan telfon tersebut terputus.
Melihat tingkah Senja yang lucu tadi membuat nya tak bisa menahan tawanya. Tak ingin berlama lama, Semesta memutuskan untuk segera mandi dan pergi ke rumah Senja untuk menjemput gadis tersebut.
Setelah selesai mandi kini Semesta tengah mengeringkan rambutnya lalu mengambil jaket dan turun ke bawah. Kini sudah pukul 04:10 dan sedari tadi Semesta belum juga tidur. Jika di tanyakan apakah Semesta tidak lelah? Tentu saja ia akan menjawab sangat lelah, namun untuk menolak ajakan Senja, Semesta tak bisa.
Semesta turun dan menuju bagasi untuk mengambil motornya.
"Mau kemanan kamu? Keluar gak inget waktu, trus sekarang keluar lagi, mau jadi apa kamu", ujar seorang perempuan yang tak lain ialah Sela, ibu tiri Semesta.
Semesta menghela nafas panjang lalu berbalik untuk menatap perempuan yang berada di depannya ini dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Saya sudah berkata, mau saya pergi jam berapa bukan urusan anda, saya makan juga tidak makan masakan mu, jadi anda tidak berhak untuk menanyakan pertanyaan tadi", balas Semesta dengan tajam lalu pergi meninggalkan Sela yang masih diam dengan wajah kesalnya.
Semesta mengendarai motornya keluar dari pagar hitam tersebut, lalu meninggalkan rumah megah itu. Di saat tengah mengendari motor, ponsel Semesta berbunyi dan mengharuskan Semesta untuk menepikan motornya.