
Tepat 1 minggu Senja di rawat, dan kini ia sudah di rumah. Senja berubah drastis. Senja bukanlah Senja yang ceria. Kini Senja hanya diam merenung, bahkan ia jarang makan. Besok pagi ia harus ke sekolah, karna ia harus segera melakukan ujian. Ketiga sahabatnya akan menemaninya ke sekolah.
Senja kini hanya duduk merenung di balkon kamarnya. Menatap langit yang penuh bintang-bintang. Ia menatap bintang tersebut dengan tatapan sendu. Memikirkan Semestanya yang telah meninggalkan nya. Hanya menatap kenangan-kenangan indah yang tertanam di memorinya. menatap fotonya yang tertempel di dinding kamarnya. Hanya bisa membaca ulang chat keduanya.
"Ta, lo janji bakal ada di sisi gua terus", lirih Senja dengan air mata yang turun. "Buktinya lo ninggalin gua duluan", lanjutnya.
Senja hanya dapat menangis. Terus menatap langit, melihat apakah Semesta juga melihatnya dengan keadaan terpuruk. Senja seperti kehilangan nyawanya. Ia tidak bisa tertawa, ia hanya bisa diam seperti patung. 1 tahun bukan lah waktu yang singkat untuk Senja. Kenangan keduanya begitu indah, membuat Senja tidak dapat melupakan nya.
Senja menangis sembari menatap langit. Berharap ini semua hanya mimpi. Ia ingin memeluk Semesta, mengucapkan kata sayang yang selama ini tak pernah ia ucapkan.
"Berat ta, Gua pengen peluk lo, gua mau lo peluk gua waktu nangis. Gua mau lo suruh gua gak nangis ta. Gua rindu semua tentang lo. Gua rindu kehangatan lo. Waktu gua nangis lo pasti peluk gua sambil ucapin kata kata semangat buat gua. Gua sekarang hancur ta, gua kehilangan separuh raga gua, gua kehilangan sosok penyemangat gua", ujar Senja dengan air mata yang mengalir deras, ia memeluk lututnya.
Senja berdiri dan masuk ke kamarnya. Ia mengambil gunting dan silet. Lalu kembali ke balkon dan duduk di kursi balkon kamarnya.
"Lo pernah muji gua cantik saat rambut panjang gua, gua gerai", ujar Senja.
Senja menggenggam rambutnya lalu memotongnya menggunakan gunting. Memotong nya dengan sedikit. Air matanya mengalir deras. ia menatap langit dengan tangis yang pecah.
"Lo bahagia Ta di atas? Gua disini kesiksa Ta, gua rindu lo. Gua kangen lo. Gua mau lo meluk gua", ujar Senja.
Rambut Senja kini benar benar pendek. ia mengambil silet lalu menyilet pergelangan tangan nya. Kakinya melemas, ia jatuh ke lantai dengan air mata yang masih keluar dengan deras.
__ADS_1
Riana menatap punggung Senja dari balik pintu kaca tersebut. Terlihat Senja yang menangis dengan kencang. Riana berjalan ke arah Senja lalu duduk dan memeluk Senja.
"Sayang, bunda tau ini berat. Tapi kamu harus kuat. Masa depan kamu masih panjang. Kamu harus mengikhlaskan kepergian Semesta", ujar Riana sembari membelai rambut Senja. Senja masih saja menangis.
"Gak semudah itu bun buat nerima semua keadaan ini. Semesta yang membuat Senja merasakan kasih sayang dari seorang lelaki. Gak semudah itu buat lupain kenangan kita. Gak segampang itu buat nemuin sosok seperti Semesta", ujar Senja dengan tangis yang mengalir deras.
"Tapi kamu harus belajar mengiklaskan kepergian Semesta. Semesta pasti sedih lihat kamu kaya gini. Bunda tau kamu sosok yang kuat. Kamu harus kuat",
"Gak segampang itu bun buat kembali ke sosok Senja yang dulu. Senja belajar mengiklaskan kepergian bapak. Tapi, setelah Senja dapat melupakan kepergian bapak. Semesta datang memberi kehangatan ke Senja. Memberikan kehangatan sosok lelaki yang selama ini Senja gak rasain. Tapi apa Semesta ninggalin Senja", ujar Senja dengan tangis yang lepas.
"Kenapa Senja terus terusan harus belajar mengiklaskan? Kenapa bun. Gak semudah itu untuk melupakan seseorang yang sudah tertanam di hati kita", lanjutnya masih dengan isak tangis nya.
Riana hanya bisa memeluk anak satu satunya. Mengusap punggung gadis rapuh ini. Benar kata Senja. Riana dulu juga seperti ini saat bapak Senja meninggal nya selama lamanya. Memang bener tidak segampang itu untuk melupakan seseorang yang telah kita cintai.
Pagi hari tiba. Pagi dimana Senja akan kembali ke sekolah itu untuk melakukan ujian nya sendiri. Karna ia di rawat di RS selama 1 minggu. Jadi ia harus melakukan ujian susulan.
"Tante Senja mana", ujar Vina dengan membawa hp nya.
"Ada di kamar Vin, coba kamu cek", ujar Riana dengan senyum ramah.
Vina berjalan ke atas untuk menemui Senja. Terlihat Senja yang tengah duduk di pinggir ranjangnya. menatap foto polaroid Semesta. air matanya menetes membasahi foto tersebut.
__ADS_1
Menatap foto Semesta. Dimana foto tersebut ia ambil kala Semesta berada di kamarnya. Dimana umur Semesta tepat 17 tahun.
Kenangan kenangan indah keduanya teringat dengan jelas. Dimana saat itu Semesta memasak kan makanan kesukaan nya dan kesukaan sang bunda. Begitu indah kenangan keduanya. Dimana raut wajah Semesta yang kaget kala melihat Riana dan Senja membawakan kue berwarna putih dengan gambar yang lucu untuk nya.
Dimana Semesta yang meniup kue ulang tahun nya. dan tersenyum menghadap kamera Senja saat Senja hendak mengambil fotonya. Menunjukan kue lucunya dengan senyum yang indah. Dimana kenangan itu sangat indah menurutnya.
Vina menatap sahabatnya yang tengah berada di keadaan terpuruk. Menangis tanpa henti, membuatnya merasa sedih. Melihat Senja yang terus menerus menangis dengan menatap foto Semesta. Semesta nya yang membuatnya mengerti apa itu cinta.
Vina menghampiri Senja dan memeluknya. Mengerti bahwa gadis di samping nya ini tengah berduka. Gadis yang ia tahu sangat kuat justru kini tengah terlarut dengan kesedihan nya. Semesta yang mengajarinya tentang apa yang selama ini Senja tidak ketahui. Mengajaknya keluar hanya untuk sekedar menyusuri jalanan.
"Senja are you okay?", tanya Vina lalu menatap Senja. Senja hanya diam dengan air mata yang berjatuhan.
Sesak rasanya kala menatap wajah Semesta yang begitu tenang. Menatap bagaimana senyum Semesta yang hanya di munculkan kala bersama ia. Semesta yang begitu ia sayang. Semesta yang mengajarinya tentang kasih sayang dan cinta. Semesta yang selalu sabar dengan kelakuan nya. Rasanya sesak di dada Senja. Harus mengiklaskan kepergian Semesta yang belum bisa ia ikhlaskan.
"Kenapa Semesta ninggalin gua Vin?", tanya Senja membuat Vina hanya bisa diam membisu.
"Kalau Semesta ngga ngelindungin gua dari tembakan itu. Semesta ngga bakal kaya gini? Gua yang seharusnya ada di posisi Semesta. Bukan Semesta Vin", lanjutnya masih dengan tangisnya.
"Kalaupun hari itu dia ngga ngelindungin gua dari tembakan tembakan itu dia gak bakal kaya gini", tangis Senja pecah.
__ADS_1
"Senja look at me. Ini semua bukan kesalahan lo. Ini takdir. Kita gak bisa nyalahin takdir Nja. Ini bukan salah lo",