Semesta Untuk Senja

Semesta Untuk Senja
SUS• •25


__ADS_3

Satu bulan berlalu kini Senja tengah duduk bersantay sembari menikmati makanan nya yang berada di meja nya. Senja, Vina, Steven, Azril, kini duduk bersantay di meja kentin. Steven dan Azril satu kelas. Namun, berbeda kelas dengan Vina dan Senja.


"Gimana di kelas baru lo? Nyaman", tanya Azril kepada Vina yang memang duduk tepat di depan nya.


"Yauda kaya hari hari biasa", balas Vina dengan mengaduk ngaduk minuman nya.


"Lo pada mau minta informasi nggak dari gua?" Tanya Steven.


"Kek mana ya Ven. Gini, kadang informasi dadi lo ini tuh kek gak bermutu gitu, kek dah kadalluarsa", balas Azril membuat Senja dan Vina tertawa ter bahak bahak.


"True bangett sumpah", ujar Senja.


"Serius njing, ini beneran penting banget", ujar Steven dengan wajah serius.


"Yauda apaan coba", tanya Vina.


"Lo inget rencana kita kan. Kita gali informasi tentang kehidupan Semesta. Senja pasti lo tau kan tentang kehidupan Semesta", ujar Steven di balas anggukan oleh Senja.


"Semesta punya adek yang beda ibu sama dia. Ibu dia meninggal waktu dia lahir. Gua kurang tau kalau tentang penyebab ibu Semesta meninggal karna apa. Trus, dia di punya ibu tiri yang jahat gua denger dari ucapan adeknya waktu itu. Ayahnya juga ga nganggep dia. Dia dari kecil sahabatan sama Mahendra", jelas Senja dengan berusaha menahan air matanta agar tidak meneteh. Senja masih rapuh kalau di ajak membahas tentang Semesta. Vina memeluk Senja dan menenangkan gadis tersebut.


"Nah kebetulan Mahendra sekolah di sini. Hari ini juga kita harus nyelesain masalah ini", ujar Steven di balas nggukan oleh semua orang


"Lo beneran Mahendra sekolah di sini", timpal Azril dengan shock.


"Buat apa gua bohongin lo semua kocak", balas Steven.


...****************...


Kini mereka berlima berada di basecamp. Terdapat, Senja, Vina, Steven, Azril, dan Mahendra.

__ADS_1


"Kenapa kalian ngundang saya ke sini? " Tanya Mahendra dengan tatapan dingin dan sorot mata yang tajam.


"Santayy aja kali. Niat kita nih baik loh, kagak yang bakal jual ginjal lo gitu", ujar Steven dengan senyum manis namun terkesan menyeramkan.


Tadi mereka ber 4 sebelum pulang ke rumah masing-masing, mereka sempat berunding akan mengundang Mahendra ke basecamp.


"Langsung saja ke intinya, kalian jangan belibet", ucap Mahendra.


"Lo katanya temen dari kecil sama Semesta. Tapi waktu penembakan itu kenapa lo pergi nggak malah nolongin dia? Trus waktu pemakaman Semesta kenapa lo gak dateng lo kan temen dia", tanya Azril dengan raut wajah intimidasi.


"Maksudmu saya yang menembak Semesta",


"Gak ada yang nuduh lo. Tapi, lo sendiri yang bilang", balas Vina dengan wajah datar.


Mahendra menatap mereka dengan marah. Sorot matanya menatap Senja yang sedari tadi hanya diam. Mahendra tersenyum devil lalu berdiri dan menghampiri Senja. Melihat Itu Senja memasang wajah Sinis agar Mahendra tidak mendekatinya.


"Lo', Steven ingin meraih tangan Senja namun Mahendra mengancam.


"Sttt saya nggak nyakitin temen kalian ini kok. Orang saya saja hanya bermain main", Ujar Mahendra membuat Steven hanya bisa menahan amarahnya.


"Lo gak usah sok formal. Sifat lo aja kaya iblis, gak pantes pake bahasa formal", ujar Vina dengan marah.


Mahendra menatap Vina lalu tertawa. "wooo cewe seimut kamu bisa marah ya Vina Valencia", ucap Mahendra lalu sedikit membungkuk agar wajah nya sejajar dengan Vina. Menatap itu Azril menarik kerah baju Mahendra lalu menatapnya dengan sangat marah.


"Apa maksud lo", ujar Azril dengan marah. Kedua tangan Mahendra ia tegak kan sejajar dengan kepalanya, seperti memberu tanda menyerah. Mahendra memasang wajah remeh lalu tertawa terbahak bahak.


"Kayak nya dia gila deh", bisik Steven kepada Senja.


"Lo pisahin kek mereka bukan malah biarin mereka berantem", Balas Senja lalu mencubit lengan Steven. Steven berjalan ke arah Azril dan Mahendra yang masih sibuk tertawa. Ketika Steven hampir sampai dan menarik Azril. Azril lebih dahulu memukul pipi kiri Mahendra.

__ADS_1


"Anjing Zril sadar Zril jangan bunuh dia sekarang", Teriak Steven lalu menarik Azril yang terlihat sangat marah.


"Lo gak usah bertele tele. Apa yang lo mau ungkapin, ungkapin sekarang. Jangan sampai gua bunuh lo sekarang", ujar Azril. Mahendra menatap wajah Azril remeh.


"Asal kalian tau semua. Samudra itu iblis sebenarnya di hidup gua', ujar Mahendra dengan nada tinggi. Mendengar Mahendra yang tidak lagi memakai bahasa formal pun membuat Vina, dan Steven kaget.


Di sisi lain, Senja yang tak terima akan perkataan Mahendra pun melayangkan satu tamparan tepat di wajah Mahendra.


"Jangan lo ucapin kata itu di saat Semesta udah nggak ada ya anjing. Jangan lo pikir gua takut sama lo. Yang iblis itu lo, bukan Semesta", ujar Senja dengan marah. Air mata nya jatuh membasahi pipinya.


"Ck sialan", ucap Mahendra lalu mendorong badan Senja hingga membuat gadis itu jatuh. Semua yang menatap itu langsung panik. Vina menolong Senja yang terjatuh, sedangkan Azril dan Steven berkelahi dengan Mahendra. Tak lama teman teman Mahendra datang dan menolong Mahendra.


Vina berlari dan berusaha memisah Azril dan Mahendra yang tengah berkelahi. Namun, tak sengaja pukulan dari Mahendra menghantam lengan Vina hingga membuat Vina merintih. Melihat itu Azril segera memeluk Vina dan meminta maaf. Perkelahian berhenti.


"Asal kalian tau. Dalang dari penembakan di gudang itu bukan gua. Tapi Sela, ibu tiri Semesta. Gua gak ikut campur, gua gak bantuin Semesta karna gua muak lihat Semesta. Memang bener Semesta seharusnya mati. Gua muak selalu di bandingin sama orangtua gua. Gua muak harus jadi kaya Semesta", ucap Mahendra dengan marah. Pandangan mata Mahendra berpindah ke arah Senja, tangan nya menunjuk ke arah Senja. "Asal lo tau. Lo itu cuma benalu. Bokap lo itu udah nabrak ibu Semesta paham lo. Dan gara gara lo juga Semesta selalu pulang telat dan dia kena marah Nyokap sama Bokap nya", jelas Mahendra lalu pergi dari basecamp tersebut.


Senja yang mendengar itupun sedikit Shock. Jantungnya berdebar. Matanya memerah, Air matanya menetes.


"Jangan dengerin omongan dia. Semua itu gak bener. Gua ada buku catatan Semesta. gua juga masih ada chatan kita waktu itu. Walau di publik kita dulu emang gak deket. Tapu sebenarnya kita deket sejak kelas 7", Ujar Azril di balas anggukan Steven. Steven berlari dan mengambil buku catatan Semesta.


Senja menerima buku tersebut lalu mebukanya. Air matanya menetes menatap tulisan tulisan tersebut. Air matanya menetes mendapati fakta tentang kehidupan Semesta yang pahit. Dimana Semesta yang tak di perlakukan selayaknya seperti manusia oleh Sela.


...****************...


Satu bulan berlalu kini Senja berani berkunjung ke makam Semesta. Makam Swmesta yang mulai di tumbuhi rumput. Senja duduk tepat di sebelah makan Semesta. Batu nisan yang terpapang jelas dengan nama Semesta di atasnya.


"Semesta maafin gua baru bisa jengukin lo. Gua masih ngerasa bersalah sama lo. Gua gak berani buat datengin lo. Maafin gua. Tapi gua bakalan sering sering ke sini kedepan nya. gua sayang sama lo Ta", ujar Senja dengan tangis nya. Ia menaruh buket bunga tepat di atas tanah makan Semesta.


......uhuhuhuhu makasihh semuanyaaa udahhhhhh sabarr nunggu aku up. Hari ini sampai di sini aja cerita ini. Jangan galau karna bakalan ada cerita yang gak kalah seru......

__ADS_1


__ADS_2