
"Iya, em... Mbak.... Ini pake jarum?," ujar Senja takut.
Mendengar ucapan Senja, lantas membuat tawa Semesta pecah. Bagaimana tidak? Tingkah Senja saja sangat menggemaskan. Ternyata di balik sikap lelaki Senja, ia masih memiliki sikap seperti anak kecil.
"Nggak, mbak. Cuma saya bersihin aja trus di kasih obat, biar ngga infeksi. Cuma mba tahan sakitnya ya, ini cuma perih sedikit," ujar mba yang menangani Senja.
Mata senja kini tertuju kepada Semesta yang seolah olah tidak mengerti apapun. lohat aja ya lo, ta,batin Senja.
Mata Senja masih saja sibuk dengan Semesta, memberi tatapan sinis kepada lelaki tersebut. Semesta bingung sendiri harus membalas tatapan tersebut atau tidak. Tidak mungkin lelaki yang sering di bilang orang sayang dingin dan cool kini berubah menjadi letoy. Mau di taruh di mana harga dirinya?
"Senja, nanti kalau udah selesai, mau langsung pulang? Atau beli martabak dulu buat bunda?," tanya Semesta untuk memecahkan ketegangan di antara keduanya.
"Si anjing, ngapain nanya nanya ha!! Udah ketawain gua, sok baik pula," ujar Senja penuh tekanan.
Benar kan apa yang di duga oleh Semesta, bahwa Senja akan memarahinya karna ia tidak sengaja menertawakan Senja.
"Maaf, Senja. Tadi kelepasan," ujar Semesta sembari menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Maaf, maaf, gua botak lo," ujar Senja.
Semesta tidak henti hentinya meminta maaf kepada Senja yang sedari tadi mengoceh. Hingga keduanya tidak sadar bahwa mbak yang mengobati Senja kini sudah berada di sebelah senja untuk mengobati lukanya.
"Loh mba, saya ga dengar suara mba jalan? Mba kayang ya?" Tanya Senja.
"Ya nggak dong mba, saya jalan nya emang gitu gak ada suaranya,"
"Setan dong mba,"
"Nggak gitu mbak konsepnya,"
"Yah trus gimana mbak? Aku kan gak tau mbak,"
Melihat arah percakapan Senja yang tidak akan ada habis nya pun membuat Semesta memberi kode kepada perawat tersebut agar tidak menjawab pertanyaan Senja dan fokus kepada tugasnya saja.
"Ih mbak kok gak di_ANJINGGG!!" maki Senja saat lukanya terasa perih.
Senja mati matian menahan rasa perih yang benar benar terasa menyakitkan. Air mata Senja mengalir begitu saja, entahlah begitu perih.
__ADS_1
...****************...
Setelah selesai mengambil obat kini Senja dan Semesta sudah berada di area parkir.
"Mau makan dulu? Sekalian beliin bunda sesuatu," ujar Semesta sembari mengenakan helm kepada Senja.
Arah mata Senja kini menatap mata Semesta, terlihat begitu tenang, namun kenyataan nya Semesta memiliki banyak luka yang ia tutupi. Sulit untuk memahami lelaki di depan ini. Lelaki dengan mata sipit yang berkesan sinis membuat semua orang takut untuk menatapnya. Namun, banyak luka yang terpendam di balik kedinginan lelaki tersebut. Begitu pintar lelaki ini menutupi semua kesedihan nya.
"Senja, aku sedang bertanya," ujar Semesta.
Tunggu!!! Aku????? Apa ini? Apakah ini Semesta yang ia kenal? Mengapa Semesta memakai bahasa aku? Biasanya saya!!!
"Aku? Tumben lo bilang aku Ta," ujar Senja.
"Karna ku mencintaimu," ujar Semesta dengan senyum manisnya.
Ni anak mau bunuh gua yaaaa!!! Batin senja berteriak seakan ingin sekali mencabik lelaki dengan senyum manis di hadapan nya.
"Modus lo njing, dah ah yok pulang, bunda khawatir nanti," balas Senja untuk menutupi fakta bahwa dirinya tengah salting.
Kini keduanya tengah berada di jalan menuju tempat makan, hanya sekedar mengisi kekosongan perut masing masing.
"Lesehan," balas Senja.
"Lesehan? Kamu yakin? Kenapa nggak di restoran aja?," usul Semesta.
"Gak, gua gak suka berbaur sama horkay,"
"Horkay? Horkay itu apa,"
"Lo ini bego atau goblok sih?"
"Bego sama goblok sama Senja artinya,"
"Serah gua lah, mulut mulut gua,"
"Ya udah horkay itu apa,"
__ADS_1
"Horang kaya,"
"Orang kaya maksudnya?"
"Iyeee,"
...****************...
Setelah selesai makan di lesehan, tempat yang di rekomendasikan oleh Senja. Jujur saja ini pertama kalinya ia makan di lesehan, hanya ada meja, dan karpet, bahkan Senja hanya memesan pecel lele yang entah apa spesialnya. Di lesehan itu hanya ada beberapa menu, yang tak lain ialah ikan bakar, bebek bakar, ayam bakar, dll. Tidak ada seperti seafood, bahkan untuk pertama kalinya Semesta makan dengan tangan, tidak memakai garbu dan sendok, karna Senja menyuruhnya untuk makan menggunakan tangan saja, katanya nanti makanan nya rasanya lebih enak. Namun, terselib rasa bahagia, Semesta merasa bahagia kala melihat Senja yang makan dengan lahap, melihat pemandangan yang benar benar untuk pertama kalinya ia merasa hidup. Bahkan ia terkejut kala total mereka makan tidak mencapai 200 ribu, sungguh membuat Semesta terkejut, ia saja makan 1 hari bisa 2 juta atau 5 juta, ini hanya tidak sampai 200 ribu bahkan nasinya sangat banyak, membuat Semesta sangat merasa kenyang
Walau Semesta tidak dekat dengan ayah nya, uang bulanan nya tetap berjalan, tetapi kalau tidak di beri uang jajan dari ayah nya pun ia tak bingung masih ada oma putri, nenek dan kakek dari mamanya. Mereka sangat menyayangi Semesta.
"Mau mampir dulu? Nanti bund nanyain seribu seratus pertanyaan ke gua kalo lo gak mampir," ujar Senja saat turun dari motor.
"Udah larut banget, takut kamu di jadiin bahan ghibah sama ibu ibu," ujar Semesta sembari mengusap pipi Senja.
"Mereka kan gak ngasih makan gua atau pun uang ke gua, apa peduli gua coba, udah yokk masuk," ujar Senja lalu menarik tangan Semesta. Mau tak mau Semesta mengikuti permintaan Senja.
Setelah mengetuk pintu, tak lama keluar seorang perempuan paruh baya yang tak lain ialah bunda Senja.
"Dari mana aja kamu, udah larut begini baru pulang hah!!" marah sang bunda sembari menjewer telinga Senja, kala mendapati anak perempuan nya pulang sangat larut malam
"Aduh, aduh, aduh, bun, bunn udahh!!! Sakit, iya iyaa Senja gak ulangi," setelah mengatakan itu jeweran di telinga Senja kini sudah lepas.
"Sakit tau bun, kalo copot gimana?"
"Biarin aja biar kapok, sama siapa tadi pulang?"
"Sama siapa lagi kalau bukan sama Semesta,"
Sang bunda haya mengangguk kan kepala, hingga matanya tertuju kepada tangan Senja yang di balut oleh Kasa.
"Yaampun!!! Tangan kamu kenapa Senja, kau ikut tawuran lagi?" marah sang bunda.
"Enggak!!! Senja tadi hampir di begal, untung aja Senja ini jago, jadi ya Senja pukul sampe ko,"
"Kebiasaan kamu ini, jadi perempuan itu harusnya jadi anggun,"
__ADS_1
"Justru kalo Senja anggun malah Senja kebegal bun, kalo Senja kebegal kan berabe bu," ujar Senja.
"Oh iya ini martabak, dari Semesta," ujar Senja dengan senyum mengembang