Semesta Untuk Senja

Semesta Untuk Senja
SUS• •23


__ADS_3

Setelah menenangkan Senja. Mereka berdua kini tengah berada di mobil. Vina membawa mobil dan akan mengantar Senja. Azril da Steven sudah berada di sekolah. Di sepanjang jalan Senja hanya diam dan menatap keluar jendela dengan tatapan sendu. Vina melihat keadaan Senja yang benar benar terpuruk merasa sangat sedih. Sahabat nya kini benar benar dalam keadaan mental yang down.


"Senja. Nanti mau mampir beli nasi pecel kagak? Gua traktir", ujar Vina berusaha membuat suasana hati Senja membaik. Namun diluar dugaan Vina. Senja hanya menggeleng dengan lemah, lalu menatap layar ponselnya yang terdapat foto Semesta.



Dimana Senja mengambil foto tersebut kala Semesta bermain ke rumah nya. Menatap wajah Semesta yang begitu tenang. Lagi dan lagi Senja hanya dapat menjatuhkan air matanya lalu memeluk ponselnya.


Vina bergeser dan memeluk Senja. Ia berusaha menenangkan gadis ini. Gadis yang tengah rapuh.


"Gua tau lo kuat Nja. Lo harus kuat okay", tutur Vina sembari memeluk Senja.


"Gua ga sekuat itu Vin. Gua kehilangan semesta. Gara gara kecerobohan gua", balas Senja.


Menatap Senja yang lagi dan lagi terus menyalahkan dirinya atas kematian Semesta membuat hatinya sakit. Senja tidak seharusnya mengalami semua ini. Senja adalah gadis remaja yang masih duduk di bangku SMP. Masih terbalut umur yang sangat muda, Sudah mendapat pukul terberat di hidupnya.


Sesampainya kedua gadis tersebut di halaman sekolah. Bu Wilis, wali kelas keduanya kini berlari dn memeluk Senja. Senja membalas pelukan Bu Wilis dengan Senyum tipis. Mata bu Wilis menatap luka di lengan Senja. lengan Senja yang terbalut rapi oleh perban.


"Masih sakit nak?", tanya Bu Wilis di balas gelengan oleh Senja. Bu Wilis menarik nafas dalam lalu berucap syukur. Azril dan Steven datang dan menghampiri Vina.


Bu Wilis dan Senja berjalan ke ruang TU. Ruangan untuk Senja melakukan ujian. Vina hendak ikut namun Azril dengan cepat menarik tangan Vina.


"Apaan sih Zril", marah Vina saat Azril menarik tangan Vina.


"Biarin Senja sama bu Wilis aja. Lo di sini aja nunggu Senja balik", ujar Azril di balas anggukan oleh Vina.

__ADS_1


"Wajah Senja tadi bener bener sedih. Gimana keadaan dia waktu lo ke rumah Senja?", tanya Steven sembari berjalan ke arah gazebo bambu. Vina menarik nafas dalam dengan raut wajah yang sedih.


"Gua sedih liat Senja terpuruk gitu. Di kamarnya banyak foto Semesta yang dia ambil sendiri pake kameranya. Senja sering nangis juga, dia jarang makan. Gua sedih kalau lihat Senja yang harus terus terusan kaya gitu keadaan nya. Tadi waktu gua ke rumah Senja. Dia ada di kamar nangis, sambil pegang foto Semesta waktu Semesta ulangtahun. Tadi di mobil dia nangis waktu lihat foto Semesta yang dia jadiin wallpaper ponsel dia. Dia dari tadi nyalahin dirinya sendiri. Gua juga lihat pergelangan tangan Senja yang habis dia buat berkode", jelas Vina dengan raut wajah yang benar benar sedih.


"Berkode apaan Vin", timpal Steven berhasil mendapat geplakan dari Azril.


"Aduh, Azril goblok, gua kan nanya malah lo gaplok nih pala", lanjut Steven sembari mengusap kepalanya yang terkena pukulan dari Azril.


"Orang lagi serius lo malah main main", ujar Azril.


"Gua nanya anjir. Gua kan kaga tau",


"Berkode itu ngelukain pergelangan tangan pake silet atau cutter. Di garis garis gitu", timpal Vina dibalas anggukan oleh Steven.


"Makanya otak tuhh di pake. Lo sih ****** Spiderman aja yang lo pikirin", celetuk Azril dengan tawa nya.


"Stt. Lo pada bingung gak? Akhir-akhir ini temen deket Semesta dulu gak pernah muncul bahkan waktu pemakaman Semesta", celetuk Vina membuat kedua lelaki tersebut menoleh dan berhenti bertengkar.


"Emang siapa temen Semesta?", ujar Azril.


"Mahendra. Temen deket Semesta dari dia kelas 7. Semenjak Semesta deket sama Senja Mahendra jarang banget muncul. Bahkan gak pernah muncul", ujar Vina.


"Ya mungkin aja si Mahendra sama Semesta lagi bertengkar", balas Azril.


"Tapi Zril. Waktu kita masih menjabat jadi osis. Mahendra jarang banget ikut kumpul osis. Padahal dia itu wakil ketua osis", ujar Steven.

__ADS_1


"Haduh. Trus maksud kalian kematian Semesta ada hubungan nya sama Mahendra", balas Azril.


"Bisa aja. Mungkin Mahendra suka sama Senja juga. Makanya dia bunuh Semesta", ujar Vina.


"Di luar Nurul. Gak habis Fikri", ujar Azril.


"Trus lo tau? Gua ketemu Mahendra yang buru buru menjauh dari Gudang trus sepatunya basah. Waktu gua deketin ada bercak darah. Gua ga sempet tanya ke Mahendra. Karna bu Wilis manggil gua supaya ikut nganterin Senja ke rumah sakit", ujar Vina.


"Heh anjir gua inget. Waktu gua ambil tandu di uks gua ketemu Azril pake hodie hitam. Waktu gua nyuruh dia bantuin bawa tandu dia gak mau trus pergi cepet cepet sambil masang wajah panik. Gua gak mikir panjang karna Steven nyuruh gua cepet cepet ke gudang", ujar Azril.


Ketiga nya memasang wajah yang penuh tanda tanya. Memang benar kalau Mahendra pembunuh Semesta? Mahendra kan teman dekat Semesta mana mungkin ia akan menjadi pembunuh Semesta.


Ketiganya memutuskan untuk menyelidiki kasus Semesta dan berusaha menghibur Senja yang tengah terpuruk.


"Sebisa mungkin kita harus buat Senja ngiklasin Semesta. Kasian Senja kalau harus terus terusan terpuruk dan nyalahin dirinya sendiri. Kita juga harus nemuin siapa yang ngebunuh Semesta supaya Senja ngga nyalahin dirinya sendiri", usul Vina di balas anggukan Azril dan Steven.


Dan di saat itulah mereka bertiga berusaha menghibur Senja. Mengajak Senja berlibur ke pantai pantai yang belum pernah Senja kunjungi. Membuat Senja menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Mereka menunggu Senja keluar Dari ruang TU. Tak berselang lama Senja menghampiri ketiga teman nya tersebut.


"Nja, Gua ada kejutan buat lo", ujar Vina dengan senyum mengembang. Senja hanya memasang wajah sayu. Vina merangkul Senja lalu menuntun nya untuk masuk ke mobilnya. Azril menatap Vina dengan senyum tipis.


Steven yang melihat tingkah aneh Azril pun tertawa lalu menaruh tangan nya di pundak Azril. "Lo suka Vina?", ujar Steven sembari tertawa kecil.


"Bukn urusan lo", ujar Azril lalu menepis lengan Steven dan berjalan mengikuti Vina.

__ADS_1


"Vina itu sepupu gua. dengan misi buat balikin Senja yang dulu kalian berdua bisa deket. Lo juga harus minta bantuan gua supaya lo sama Vina bisa deket", ujar Steven sembari berjalan ke arah Azril. Azril seolah olah tak mendengar ucapan Steven, Dan tak perduli.


__ADS_2