
Senja menoleh dan menangkis pisau tersebut. Mata Vina terbelalak melihat darah yang mengalir dari telapak tangan Senja.
Senja meringis mendapati benda tajam tersebut menggores tangan kanannya.
Vina berteriak dan berlari ke arah Senja, Vina mendorong lelaki tersebut lalu menonjok nya. "Nja!! Lo ga kenapa napa kan?," ucap Vina lalu melihat sekeliling.
"Trus sekarang kita pulang nya gimana, Nja?," ujar Vina.
"Ya lo bonceng gua, lah," balas Senja meremehkan.
"Lo ga inget?, gua ini ga bisa naik motor segede ini, kenapa sih lo ga bawa motor sendiri, asik nebeng Semesta mulu," ucap Vina cemberut.
"Suka suka gua lah," balas Senja lalu berdiri. "Makanya tumbuh tu keatas kidz," lanjut Senja di iringi tawa.
Vina kini meringis kembali melihat luka di tangan Senja, darah yang tetap mengalir kini sudah tidak mengalir, Senja melilit luka tersebut dengan sebuah kain yang entah dari mana Senja mendapat kan nya. Senja benar benar kuat di pikiran Vina, terluka tetapi tetap bisa mengejek nya, bahkan ia kini menaiki motor besar itu lagi.
"Lo yakin nja? Mau naik motor ini lagi?," ucap Vina dengan raut wajah khawatir.
"Tangan gua cuma yang kanan yang luka, tangan satunya kagak jadi ya everything okey," ujar Senja lalu tersenyum.
"Gak, gak, gak, gua gak mau, gua telfon anak anak lain aja," ujar Vina lalu mengambil telfon di sakunya.
"Stev, lo bisa ga nyusul gua sama Senja," ujar Vina setelah panggilan nya di terima oleh Steven.
"Hah? Lo kenapa? Bukan nya lo sama Senja baik baik aja?," ujar Steven.
"Pala lo!! Gua sama Senja di serang begal, eh... Emm.... Gatau lah itu begal atau bukan, soal nya tadi di tanya ga jawab," ujar Vina.
"Anjing!! Serius lo? Dimana lo sekarang?,"
"Ta!! Senja sama Vina di begal!!," lanjut Steven.
"Yauda lo cepet ke sini,"
"Sharelook sekarang," kini suara tersebut berbeda, bukan lagi suara Steven melainkan suara Semesta.
"Iya gua sharelook,"
...Tipen!!!...
mana njing!!!
^^^yeee^^^
^^^shareloocation^^^
Setelah selesai ia mendatangi Senja. "Lo ngapain tadi Vin?," tanya Senja.
"Telpon Tipen, gua takut kenapa napa waktu di jalan soal nya," ujar nya.
"Ngapain coba? Gua kagak lumpuh Vin, cuma tangan kanan doang loh, kiri kaga, gua masih bisa nyetir, dah yok naik,"
"Kagak bisaa Nja!! Gua udah sharelook ke Tipen,"
__ADS_1
"Loh gila lo Vin? Ngapain coba sekarang lo sharelook?,"
"Yah udah terlanjurr eheheh," balas Vina sembari tersenyum tanpa dosa.
Tak berselang lama Steven, Azril, Semesta datang.
"Anjing lo Zril!!," umpat Steven kala Azril mengerem motornya dengan mendadak.
"Ya sorry cug," balas Azril sembari tersenyum tanpa dosa.
"****** masih bisa senyum lo?," umpat Steven.
"Cailah alay lo, biasanya juga resingan lo," balas Azril tak terima.
"Sudah, kalian ini niat menolong atau bertengkar," ucap Semesta dengan tegas.
"Stt diem, liat noh singa dah marah awoakawok," ujar Steven.
"Senja, kamu tidak apa apa?," ujar Semesta lembut.
"Anjing, perasaan tadi kagak gini deh," bisik Steven ke Azril.
"Lo lupa? Kalo Semesta itu titisan bunglon, biasa berubah rubah," balas Azril.
Kini Semesta memegangi tangan Senja, ia melihat kedalaman luka tersebut.
"Saya anter ke klinik saja," ujar Semesta lalu menyuruh Senja turun dari motor tersebut.
"Gak ah Ta, ini bisa sembuh sendiri kok tenang aja," balas Senja.
"Gak mau Ta, gua gapapa, ga sakit juga,"
"Tidak Senja, kita ke klinik buat obatin luka kamu,"
"Gamau Ta,"
"Ayok,"
"Gamau Ta,"
"Nurut aja kali Rul Nurul, banyak drama lo," teriak Steven.
"Apa apaan lo anjing, gua bukan Nurul, enak aja, nama cantik cantik lo ganti Nurul," Sewot Senja di iringi tawa semua orang, kecuali!!! Semesta.
"Nasip gua gimana anjir," Teriak Vina.
"Lo cabol, lo jalan," balas Azril.
"Enak aja lo, mentang mentang gua pendek," ujar Vina marah.
"Ya, trus gimana dong ***?," ujar Azril sembari mengejek.
"Gua suruh jemput supir gua," ujar Vina lalu pergi menjauh dari Azril. Melihat Vina yang pergi menjauh entah dari mana Azril turun dari motor.
__ADS_1
"Ehh anjing lo Zril!!! Kalau gua jatoh gimane," teriak Steven tak di hiraukan oleh Azril.
Azril berjalan ke arah Vina yang tengah sibuk bermain ponselnya.
"Hal__," ujar Vina, namun sebelum menyelesaikan ucapan nya, Azril merebut ponsel tersebut.
"Maaf pak, tadi kepencet sama Vina, dia aman kok pak sama saya," ujar Azril lalu mematikan telfon tersebut.
"Apa apaan sih lo Zril!! Gua sekarang di jemput siapa anjing," marah Vina.
"Lo pulang sama gua, naik motor Semesta. Semesta naik motor gua soal nya," ujar Azril lalu menarik tangan Vina.
Melihat keempat teman nya yang asik dengan dunianya masing masing, Steven kini merutuki dirinya, mengapa ia tadi harus ikut kemarin jika endingnya dia yang harus menjadi nyamuk.
"Kalo tau gini tadi gua makan mie ayam," ujar nya lalu melajukan motornya.
...----------------...
Kini Senja dan Semesta tengah berada di jalan untuk ke klinik. Semesta melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Senja merasa takut.
"Semesta!!! Pelan anjing, gua masih mau hidup," ujar Senja dengan sedikit teriak.
"Biar cepet sampe Nja, biar lukanya ga infeksi," balas Semesta.
"Gua manusia kebal Ta, gabakal gua infeksi," balas Senja dengan senyum.
"Kebal darimana? Kemarin saya ajak kamu joging kamu ngeluh," balas Semesta sembari tertawa.
"Anjing lo!! Ya itu kan... Karna gua capek!!!," balas Senja cemberut.
"Jadi namanya kamu ngga kebal, Senja, kamu bisa infeksi," ujar Semesta lembut.
"Kagak kagakk!!! Kita pulang aja, bunda bisa kok ngobatin gua,"
"Justru kamu pulang kalau nggak di obati dulu malah bunda panik Senja,"
"Ihh Ta!!! gua takut jarum,"
Mendengar perkataan Senja, Semesta lantas tertawa terbahak bahak, gadis yang tidak takut dengan segala hal justru takut dengan jarum, seperti anak kecil.
"Wahhh, nanti di sana tangan mu di jahit, gabisa bayangin kamu nangis nanti," ujar Semesta dengan di iringi tawa.
"Aaaaaa, Semesta!!!," marah Senja lalu mencubit pinggang Semesta. Semesta yang di cubit bukan nya merintih kesakitan justru tertawa terbahak bahak.
...----------------...
Kini keduanya telah tiba di sebuah klinik. Raut wajah Senja terlihat seperti ketakutan, berbeda dengan Semesta yang menahan tawa melihat ekspresi wajah Senja.
"Gak usa ketawa!!!!!," ujar Senja dengan raut wajah cemberut.
Mendengar ucapan Senja justru membuat Semesta tertawa. Kini keduanya sudah di sebuah ruangan.
"Mbak Senja ya?," tanya seorang perawat.
__ADS_1
"Iya, em... Mbak.... Ini pake jarum?," ujar Senja takut.