Semesta Untuk Senja

Semesta Untuk Senja
SUS• • 17


__ADS_3

"Ta, gua hampir mati kelaparan, lo di mana sih?", ujar seseorang dari sebrang sana.


Ketika Semesta sudah menepikan motornya ia segera menjawab telfon tersebut lalu di buat tertawa kala melihat gadis nya tengah marah kepadanya.


"Ini aku udah di jalan Senja", ujar Semesta lembut.


"Oh yauda cepet ya keburu pagi", balasnya.


Setelah melakukan panggilan suara tersebut Semesta melanjutkan laju motornya agar cepat sampai di rumah Senja.


Ketika sudah dekat dengan rumah Senja, Semesta melihat seorang gadis yang memakai hodie lalu jongkok di depan rumah Senja. Sudah bisa di tebak kalau itu adalah Senja. Senja memang seperti itu, karna jika ia izin dengan sang bunda maka ia akan di marahi, bagaimana tidak, usia Senja ini masih termasuk kedalam umur remaja, bahkan sekarang ia baru akan masuk kelas 10.


"Kebiasaan ga pamit bunda, nanti bunda nyariin kamu", ujar Semesta sembari mengenakan helm kepada Senja.


"Nanti kalau pamit gua di marahin", balas Senja.


"Kalau kamu gak pamit ya tambah di marahi Senja",


"Bodoamat gua laper", ujar Seja lalu langsung menaiki motor Semesta.


Dengan nafas berat akhirnya Semesta memutuskan untuk melajukan motornya untuk mencari tempat makan yang buka.


"Bunda ga masak?", pertanyaan itu muncul dari mulut Semesta.


"Enggak, habis tadi siang gua makan kebanyakan", balas Senja.


"Trus malem nya kamu laper lagi?",


"Iya, ehehehe, biasa kalau malem gak tidur bawaan nya mau makan",


"Jangan begadang Seja",


"Enggak tadi ngerjain tugas makalah, besok biar tinggal print",

__ADS_1


"Aku udah selesai, kenapa ga pinjem makalah aku aja? Biar kamu nggak begadang",


"Gua kira blom, soalnya bu Dar nggak bilang kalau kelas lain udah kelar",


"Kalau dia kasih tau ya pastinya kamu bakal minta makalah ke kelas yang udah selesai",


"Eheheh",


"Yauda, sekarang mau makan di mana? Kaya kemarin atau ke mana?", tanya Semesta.


"Karna gua dah ga laper jadi kita ke indomaret aja, makan cemilan",


"Okay",


Setelah keduanya selesai membeli cemilan mereka memutuskan untuk di taman sebentar. Semesta menatap Senja lamat, melihat gadis di depan nya ini dengan tatapan lembut. Gadis yang tengah memakan es krim di tangan nya. Gadis yang mejadi pelangi di hidupnya. Gadis yang datang menyembuhkan luka yang tak kunjung sembuh itu. Gadis yang membuat nya merasakan kasih sayang keluarga. Gadis yang menolongnya dari jahat nya hidup. Gadis yang membuatnya semangat untuk menjalani hidup.


"Senja", ujar Semesta menatap Senja


"Makasih",


"Buat?",


"Trimakasih, sudah menyediakan waktu untuk anak yang penuh luka ini. Trimakasih banyak, kamu adalah senja yang datang dengan keindahan, makasih sudah mengisi kekosongan hidup, trimakasih sudah menjadi penyembuh luka, ketika aku kekurangan kasih sayang kelurga, kamu datang dengan penuh kasih sayang, hingga aku merasakan bagaimana rasanya mendapat kasih sayang. Di saat aku tidak berani menyebrangi sebuah sungai, kamu datang dan menuntun ku untuk berani menyebrangi sungai. Trimakasih banyak, sudah hadir di hidupku, trimakasih sudah menyembuhkan luka yang selama ini tidak kunjung sembuh, trimakasih hadir mu dan bunda, membuat ku merasakan kehangatan dari sebuah keluarga, yang selama ini tidak pernah ku rasakan, trimakasih telah membuatku keluar dari rasa traumaku, trimakasih telah membuatku merasakan indahnya dunia, dan membuatku merasa tidak lahir karna kesalahan ataupun lahir sebagai pembawa sial. Trimakasih, trimakasih telah hadir", ujar Semesta tersenyum tipis.


Mendengar penuturan Semesta, Senja tak kuasa menahan tangisnya, tangisnya pecah, ia memeluk Semesta dengan erat. Sungguh i tak menyangka bahwa Semesta seorang lelaki yang terlihat tegar, dingin ini ternyata memiliki banyak trauma, lelaki yang selama ini yang bertahan hidup dengan penuh luka.


"Semesta, gua ga pernah tau lo tenyata seluka ini, gua ga pernah tau lo ternyata memiliki rasa trauma yang selama ini lo tanggung, lo lelaki kuat Semesta, gua bangga punya lo, gua mau lihat lo senyum, gua mau lihat lo ceria, gua mau lo berbagi cerita ke gua, gua mau lo ngrasain kasih sayang bunda gua, makasih Semesta telah bertahan sampai detik ini, makasih Semesta lo udah lahir di dunia, lahir lo bukan sebuah kesalahan, lahir lo bukan pembawa sial, gua bersyukur lo hidup di dunia Ta", ujar Senja Sembari menatap Semesta dengan tangis yang pecah.


"Justru ku yang harus trimakasih ke kamu Senja, karna kehadiran mu aku merasakan semua yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan",


"Di saat aku tidak merasa beruntung karna di lahirkan di dunia, kamu datang dan membuatku merasa beruntung lahir di dunia ini", lanjut Semesta lalu menatap lamat Senja.


"Semesta, lo sekuat itu, di usia lo yang sangat muda, lo udah di kasih cobaan yang berat, menanggung luk yang banyak, begitu banyak luka yang lo tutupin, dan lo masih sekuat itu untuk menjalani hidup", ujar Senja dengan air mata yang tak berhenti.

__ADS_1


"Senja, aku kuat karna kamu, aku merasa aku pasti bisa karna kamu. Kamu yang menyembuhkan lukaku senja, aku berharap kamu tidak pergi", ujar Semesta.


"Gua gak pergi, gua masih di sini, gua masih di disini", balas Senja lalu menyentuh dada Semesta, yang mengisyaratkan bahwa ia berada di dalam hati, jiwa, raga semesta.


"Sekarang aku mengerti Senja, bahwa impian terbesarku ialah, membuat wanita di depan ku bahagia", Ujar Semesta.


"Aku berharap kita seperti ini hingga maut memisahkan, aku ingin memakai baju wisuda yang sama sepertimu", ujar Semesta.


"Alay lo", balas Senja lalu terkekeh kecil.


"Senja, kedepan nya jangan nangis lagi ya, aku gak suga lihat mata kamu merah dan sebab, aku tidak suka dengan suara mu ketika menangis, jadi, kedepan nya jangan menangis ya", ujar Semesta di balas Senja dengan anggukan.


"Tapi lo juga gak boleh luka lagi, gua gak mau lo luka, gua mau lo terbuka, jadiin gua rumah buat lo cerita semua kesedihan lo", balas Senja.


Matahari menunjukkan akan segera terbit. Keduanya memutuskan untuk segera kembali ke rumah masing masing karna keduanya harus bersekolah juga.


"Thanks ya Ta", ujar Senja dengan senyum.


"Iya, sama sama princess", ujar Semesta membuat wajah Senja merah seperti kepiting rebus.


"Nanti aku jemput lagi", lanjut Semesta.


"Kenapa?",


"Aku gamau kamu luka lagi. Gara gara aku biarin kamu pulang sendiri kemarin",


"Iya nanti aku tunggu", Balas Senja dengan senyum.


"Aku pulang duluan ya", ujar Semesta lalu menyalakan motornya.


"Iya hati hati", balas Senja lalu melambaikan tangan nya.


Kini Semesta tengah berada di jalan untuk pulang, pikirannya kacau, memikirkan semua masalah yang membuatnya muak.

__ADS_1


__ADS_2