
1 bulan sudah berlalu, Senja dan Semesta semakin dekat, begitu banyak siswa dan siswi yang iri dengan Senja.
"Ta!!! gua capek!!!," teriak Senja lalu duduk di pinggir kolam ikan yang berada di taman.
Semesta menoleh dan melihat Senja yang sedang duduk dengan nafas memburu pun tertawa dan pergi meninggalkan Senja.
"Ehh anak anjing, kok gua di tinggal sih?!!," ujar Senja dengan sewot. Karna di landa rasa malas dan kaki yang kram Senja memilih mengabaikan nya saja.
"Nih," ujar seorang lelaki yang menyondorkan sebuah air mineral.
Senja mendongak dan melihat wajah tampan Semesta. Senja tersenyum dan mengambil botol minuman tersebut, "thanks," ujar Senja di balas anggukan oleh Semesta.
Kini keduanya duduk berdua di sebelah kolam bercerita hal hal yang indah.
"Ta, udah 1 bulan, katanya mau jelasin kenapa lo jauhin gua dulu?," ujar Senja dengan raut wajah serius.
Mendengar perkataan Senja kini Semesta diam dan menatap langit.
"kamu benar benar ingin tau, Senja?," tanya Semesta lalu menatap Senja. Senja mengangguk dan membalas tatap Semesta.
Semesta mengambil nafas berat dan bercerita penyebab ia menjauhi Senja.
Flashback
Semesta kini berada di dalam ruang osis, ia duduk di meja nya. Ada beberapa lembar kertas yang berada di atas meja lelaki tersebut. Entah apa yang di pikirkan lelaki tersebut, raut wajah nya terlihat sedang ada banyak masalah.
"Semesta, minum dulu sana pasti lo capek," ujar seorang osis lain yang memang anggota osis inti.
"Thanks, nanti saya minum," ujar Semesta lalu kembali fokus kepada lembaran lembaran kertas tersebut.
"Cailah dehidrasi lo nanti," saut seorang lelaki yang lain.
"Wah parah lo Zrel, di ulti suhu mampus lo," balas lelaki yang sering di sebut Steven.
"Gapapa dah asal masuk Konoha," balas lelaki yang bernama Azrel dengan tawa yang keras.
__ADS_1
Semesta memang tidak hanya berteman dengan Mahendra, tetapi ia juga berteman dengan kedua lelaki ini, Semesta jarang sekali keluar dengan mereka karna ia selalu menyibukkan dirinya dengan hal hal yang bermanfaat.
"Hallo epribadehhhh!!!!!," teriak seorang wanita yang tak lain ialah Senja.
"Anjing mulut lo kek toa masjid tau kagak," saur Azrel di balas sinisan dari Senja.
"Sibuk lo babi," balas Senja membuat Steven tertawa terbahak bahak.
"Ta, lo masi sibuk ya," ujar Senja terlihat lemah lembut.
"Kamu buta Senja?," ujar lelaki tersebut dengan dingin.
Senja tersenyum kecut dan memilih untuk keluar dari ruangan lelaki tersebut.
"Yah ta!! lo pleboy ya!! habis lo deketin tu si senja sekarang malah lo jauhi dia, gila lo?," ujar Steven lalu keluar dari ruangan tersebut dan di susul oleh Azril.
"Kalo lo sayang dia perjuangin bro," bisik Azril lalu mengikuti Steven keluar dari ruangan tersebut.
Di ruangan tersebut hening, hanya tersisa Semesta yang melamun.
...----------------...
Semesta tidak ambil pusing dan memilih bergegas pulang dan segera menemui bi Lastri, pengasuhnya waktu dia masih kecil.
Semesta kini sudah sampai di kediaman bi Lastri. Bi Lastri memang sudah lama berhenti bekerja di karenakan usianya yang memang sudah tua, dan anak anaknya meminta untuk bi Lastri berhenti bekerja.
Semesta berjalan memasuki halaman rumah tersebut. Rumah yang menurutnya begitu sederhana namun memiliki keindahan tersendiri.
Tangan Semesta terulur untuk mengetuk pintu kayu tersebut.
tok tok tok!!
Semesta mengetuk pintu kayu tersebut berulang kali sampai ada suara gadis muda yang menyaut dari dalam rumah tersebut.
"Sebentar," ujar seorang gadis dari dalam rumah tersebut.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar suara pintu kayu yang terbuka dan memperlihatkan seorang perempuan yang terlihat sudah mengijak umur 30. Wajah yang belum terlalu tua, berparas cantik, putih.
"Maaf tante bi Lastri ada?," ujar Semesta dengan sopan.
"Oh ada ada, sebentar saya panggilkan orang nya," ujar perempuan tersebut, lalu pergi meninggalkan Semesta.
Semesta mengamati sekeliling rumah tersebut, rumah nya sederhana, seperti rumah adat Jawa dahulu.
Tak lama kemudian, terlihat seorang perempuan yang sudah tak muda lagi, rambut putih, bahkan kulit pun sudah keriput.
"Nak Semesta," panggil sosok perempuan tersebut yang tak lain ialah bi Lastri.
"Bi Lastri?, sudah lama tidak bertemu dengan bi Lastri, bagaimana kabar bi Lastri?," ujar Senja lalu duduk di kursi kosong sebelah meja bundar.
"Baik nak, kamu semakin besar ya, dulu bibi ngasuh kamu waktu kamu masih kecil sekali," ujar bi Lastri dengan senyum manis.
"Benar, dan bi Lastri pasti tau tentang mama saya kan?," tanya Semesta dengan sopan.
"Tentu, saya dari muda sudah ada di kediaman itu, pasti tau semua tentang mama mu," balas bi Lastri dengan senyuman.
"saya ingin bertanya, apakah ayah saya memang dulu di jodoh kan dengan mama? mengapa mereka di jodoh kan," tanya Semesta.
Bi Lastri menarik nafas panjang lalu berkata, "nak, mama mu ini sangat baik, mama mu ini terlahir di keluarga kaya, keluarga ayah mu dan keluarga mama mu menjalan kan bisnis bersama, hingga keduanya memutuskan untuk menjodohkan ayah mu dan mama mu, untuk mempererat hubungan bisnis mereka," jelas bi Lastri.
"Apakah ayah ada hubungan nya dengan kematian mama?," ujar Semesta.
Mendengar pertanyaan yang di lontarkan dari mulut lelaki tersebut, lidah bi Lastri seketika kelu, mengingat semua perlakuan kasar Kevin kepada Risa membuat nya begitu menyesal.
"Dulu mama mu itu sangat cantik, anggun, dan baik, banyak lelaki yang melirik mama mu, bahkan beberapa ada yang ingin meminang ibumu, tetapi ibumu menyukai ayah mu sejak pertama bertemu, ayah mu selalu memperlakukan mama mu dengan kasar, bibi dulu ingin membela tetapi ekonomi bibi sedang tidak baik, bibi masih butuh uang nya untuk anak anak bibi, maaf bibi menyesal tidak menolong mama mu," jelas bi Lastri dengan tangisan.
"Jadi, sebelum mama hamil Semesta, ayah sering melakukan kekasaran?," tanya Semesta.
"Benar, tetapi hati mama mu itu bagaikan kapas, begitu lembut, tidak ada sebiji pun rasa benci di hatinya, dulu waktu saya membantu mama mu mandi, terlihat begitu banyak bekas luka di punggung nya, sekuat itu mama mu," ujar Lastri.
"Sejak awal ayah selingkuh dari mama?," tanya Semesta kini berubah menjadi dingin.
__ADS_1
"Benar, sejak awal tuan Kevin tidak menyukai perjodohan tersebut, dari awal ia memang sudah menyukai nyonya Sela, nyonya Risa tau, tetapi ia memilih diam, ia tidak ingin kehilangan sosok yang ia cintai," jelasnya.
"Semesta, bibi harap kamu tidak seperti ayah mu," ujar bi Lastri tegas.