Semesta Untuk Senja

Semesta Untuk Senja
SUS• •03


__ADS_3

Sela audrelia, kerap di sapa dengan Sela, perempuan berparas cantik itu ialah ibuk pengganti Semesta.


Namun dengan mencari ibu baru untuk Semesta tidaklah membuat Semesta senang, melainkan ia ingin segera mengusir para orang tua ini, karna menurutnya Sela ini adalah penyebab berubahnya sang ayah.


Mendengar ucapan sang ayah yang lagi lagi tidak menganggapnya anak, membuat hati Semesta berdesis, sebenarnya Semesta ialah anak yang ceria, namun di saat kehilangan sang mamah tercinta dan datanglah Sela sebagai mamah tirinya, membuat sikap Semesta berubah. Ia sempat berfikir kalau dengan adanya Sela ia dapat mendapat rasa kasih sayang yang lebih dari kedua orang tuanya, namun semua itu justru sebalik nya.


Kedatangan Sela bukan nya memberi kehangatan di hatinya, melainkan luka yang sangat dalam, kehilangan kasih sayang ayahnya karna Sela tengah hamil anak perempuan yang di idam idam kan oleh ayahnya.


"Kak tata," ujar seorang gadis perempuan kecil di ambang pintu.


"Thalita stop panggil saya dengan sebutan tata, nama saya Semesta bukan tata," tekan Semesta kepada sang gadis, sang gadis yang melihat kakak nya mood nya sedang tidak baik karna bertengkar dengan mama dan ayah nya pun segera menghampiri Semesta.


"Kak ta lagi ngga mood ya, Thalitha mau temenin kak ta, biar kak ta ngga sedih lagi," ujarnya dengan senyum mengembang.


Betapa lucunya gadis itu ketika tersenyum, ketika melihat senyuman dari Thalita, kini mood Semesta kembali, ia meraih badan kecil Thalita dan mendudukan nya di tepi ranjang.


"Pinter banget kamu ngehibur kakak," ujar Seesta di iringi kekehan kecil.


"Karna Thalita ngga mau lihat kak ta sedih terus,thalita mau kak ta senyum," jujurnya.


Thalita putri argantara, nama gadis kecil tersebut. Semesta tidak pernah membenci keberadaan Thalita, Thalita ialah adiknya, walau mereka berbeda ibu tetapi Thalita tetap lah adiknya.


"Kak ta, Thalita mau makan es krim, boleh?," tanya Thalita dengan polosnya.


"Thalita, jangan kebanyak minum es krim ngga baik, nanti kamu pilek," ujar Semesta membuat gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya.


"Besok deh kak ta beliin es krim nya," ujar Semesta agar adik nya itu tidak menangis.


"janji ya, trus besok Thalita boleh ke sekolah kak ta ya!!," ujar Thalita di iringi senyum nya yang mengembang.


"Besok kan Thalita sekolah, mana bisa Thalita ke sekokah kak ta,"


"Besok aku pulang jam 10, jadi bisa dong aku ke sekolah kak ta,"


"Besok kan kak ta juga sekolah, nanti kamu pulang jam 10, tapi kak ta kan masih harus belajar di sekolah,"


"Ihh ga usah belajar, kan kak ta udah pintar,"

__ADS_1


"Justru itu, kak ta biar tambah pintar kalau belajar,"


"Huh!!! terus Thalita boleh ke sekolah kak ta kapan,"


"Kalau ada acara sekolah kak ta ajak kamu gimana?,"


"Yauda deh," balas Thalita sembari mengerucutkan bibirnya.


"Thalita ngantuk, Thalita mau tidur dulu ya, kak ta jangan sedih terus okeyy," sambung Thalita di balas anggukan oleh Semesta.


Thalita keluar dari kamar Semesta dan meninggalkan Semesta sendiri di kamarnya. Sungguh hari hari yang membosan kan menurut Semesta.


...----------------...


Pagi telah datang, seperti biasa Semesta akan bangun lebih awal dan bergegas untuk mandi, ia malas jika harus berdebat lagi di meja makan dengan keluarga nya.


Saat dirinya sudah sampai di lantai bawah dan hendak keluar sela lagi dan lagi mencari gara gara dengan Semesta.


"Ngapain berangkat jam segini? bolos ya kamu?," ujar Sela dengan tatapan menuduh.


Lagi dan lagi kata kata Semesta yang dingin dapat membuat lidahnya kelu.


"Dasar anak ngga berguna, saya bilangin kamu ke ayah mu, biar dia tau kalo kamu anak pembangkan dan suka bolos," ujarnya penuh penekanan, jujur saja Sela ingin sekali menyingkirkan Semesta agar ia dapat menjadi nyonya seutuhnya di rumah ini.


Semesta hanya menghelan nafas kasar lalu bergegas meninggalkan Sela yang tengah asik marah marah, tidak jelas batin Semesta.


Semesta mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, ia tidak ingin terlalu buru buru untuk pergi ke sekolah karna masih pagi.


Di saat di perjalanan Semesta melihat seorang gadis yang tengah mendorong motornya, dengan memakai baju sekolah, mengenakan jaket wibu, dan berbadan mungil, ia seperti kenal dengan perempuan itu, namun ia tidak terlalu perduli dan memilih untuk melajukan motornya lurus.


Semesta sempat melirik kaca spion nya dan melihat gadis itu tengah melambaikan tangan, dan tiba tiba.


"SEMESTA BUDEK!!!," teriak gadis itu, teriakan gadis itu membuat Semesta menghentikan motornya di pinggir jalan dan menoleh ke belakang, dan benar dugaan nya, dia adalah Senja, anak kelas 9H murid pindahan.


"Ahh lo ya ta, kalo di panggil tuh nyaut kek capek nih," gerutu Senja saat sudah berada di samping Semesta.


Terdengar jelas deru nafas gadis ini yang menandakan bahwa gadis itu tengah lelah.

__ADS_1


"Tau dari mana itu saya?," tanya Semesta.


"Emm kemarin waktu pulang sekolah, gua liat lo bawa motor ini, gua hapalin plat nomer lo," ujar Senja dengan senyum penuh kemenangan.


"Kamu gabut? sampai hafalin plat nomor saya?," tanya Semesta.


"Ngga, tapi tiap gua kenal orang, dan kalau orang itu bawa motor sendiri atau mobil sendiri, gua selalu hafalin plat nomornya," kata Senja dengan senyum tanpa dosa.


"Memang gadis aneh," gumamnya.


"Oh ya anterin motor kesayangan gua ke bengkel dong, bocor soal nya,"


"Tinggalin saja motor kamu, nyusahin,"


"Jangan sekate kate ente, gini gini dia adalah motor setia peninggalan bapak gua, kalau gak ada dia hidup gua tuh kek berasa hampa tau ngga," ujar Senja penuh drama.


"Ya trus kalau saya anterin motor kamu ke bengkel, gimana caranya? saya seret?,"


"Ga gitu konsepnya jamal, frustasi gua, gini gua naik motor gua, trus lo dorong motor gua gitu,"


"Kan ban motor kamu bocor, kalau saya dorong kamu jatoh kamunya, nanti kamu nyuruh saya ganti rugi,"


"Iya juga sih, trus gimana dong,"


"Kenapa nanya sama saya, saya bukan dukun,"


"Siapa juga yang bilang lo dukun,"


"Anterin motornya pulang ke rumah mu dulu sana, nanti berangkatnya bareng saya aja,"


"Pulang gua?,"


"Saya anter,"


"Oke dil,"


kini Senja menaiki motornya dan Semesta mendorong motor milik Senja, sebenarnya tadi sudah Semesta bilang bahwa bahaya kalau Senja memaksakan motornya yang sedang bocor untuk berjalan, bisa saja nanti ban nya mleyot dan menjatuhkan Senja, namun Senja adalah anak yang keras kepala, dia memaksa Semesta untuk mendorongnya saja.

__ADS_1


__ADS_2