
Hari Senin adalah hari yang menyebalkan menurut Senja. Tidak hanya otak nya yang akan di peras. Cuaca yang panas membuatnya merasa kesal. Apalagi ia akan melaksanakan ujian.
"Gimana tadi waktu ngerjain nya, gampang kan?", tanya Semesta yang duduk di sebelah Senja. Senja hanya mengaduk minuman nya dengan ekspresi sebal.
"Hari senin, matematika muncul pertama, panas, kipas mancet, dan lo masih nanya gimana soal tadi", ujar Senja dengan wajah sewot.
Semesta tertawa melihat ekspresi Senja. Tangan Semesta kini memegangi tangan Senja, mereka sling bertatapan. Menurut Senja, Semesta ialah semesta nya, dunianya, membuatnya mengerti bagaimana di cintai oleh lelaki dengan tulus. Walau Senja tidak pernah mencintai seseorang, ia selalu bahwa lelaki semua hanya penasaran semata, karna Vina selalu bercerita.
"Aku bawa kamu jalan jalan keliling koridor sekolah, biar kamu ngga tertekan begini", ujar Semesta sembari tangan kirinya menggenggam tangan Senja, dan tangan kanan nya ia gunakan untuk menyelipkan rambut Senja ke telinga Senja.
"Emm boleh deh ayok", ajak Senja lalu segera berdiri dari duduknya.
Keduanya kini sedang berjalan menyusuri koridor yang tak begitu banyak siswa siswi.
"Senja, Semesta ", panggil seseorang membuat keduanya menoleh. Mereka berdua melihat guru mereka Pak Asto guru PJOK.
"Ada apa pak? Kalo di suruh bawain berkas berkas bapak, nggak dulu deh, saya mau belajar soal nya", ujar Senja.
"Senja", bisik Semesta.
"Apasih", sewot Senja.
"Ga sopan",
"Biarin",
Melihat keduanya Pak Asto tersenyum lalu berkata. "Nggak kok Senja, Semesta. Bapak minta tolong buat bawain kertas kertas yang gak terpakai ke gudang ya", ujar Pak Asto.
__ADS_1
"Yahh sama ajaa dong bapak Asto tercinta", ujar Senja.
"Zoo ndakk samaa Senja", ujar Pak Asto dengan senyum nya.
"Pak kan saya ujian, nanti keburu masuk dong pak", ujar Senja.
"Istirahat saat ujian itu lama Senja. Ini juga waktunya masih lama. Sudah gak usah protes, kerjain sekarang biar nggak telat",
"Tapi kan pak", protes Senja.
"A, a, a. Gak boleh nolak ya Senja, nanti bapak tambahin nilai kamu yang jelek itu", ujar pak Asto sembari tersenyum. Senja hendak protes namun Pak Asto justru membuatnya geram karna Pak Asto hanya memberinya kunci gudang lalu bilang akan menunggunya di kantor lalu pergi tanpa mendengarkan protes Senja.
"Gapapa, ayok, keburu masuk nanti", ujar Semesta lalu menarik tangan Senja.
Sesampainya kedua nya di gudang. Mereka segera melakukan apa yang di katakan oleh Pak Asto. Mengambil kertas kertas yang sudah tidak di butuhkan, lalu menaruhnya di gudang.
"Seharusnya kita tadi nggak jalan ke sini. Biar nggak di suruh suruh sama tuh guru", omel Senja sembari menaruh kertas kertas.
"Yaudah deh buruan kelarin habis itu masuk kelas", saran Senja lalu segera menaruh kertas kertas tersebut.
"Akhirnya selesai juga", ujar Senja dengan senyum bangga. Semesta melihat tingkah Senja haya tersenyum.
"Yasudah ayok balik keburu masuk", saran Semesta lalu menarik tangan senja.
Ketika Senja melihat pintu yang tertutup ia heran, karna gudang tersebut ia buka lebar, tidak ia tutup. Dan terlebih lagi kalau ada yang menutup pasti terdengar. Senja menduga bahwa pasti ada yang jahil. Dan bersumpah akan memukuli orang yang menguncinya di gudang. Senja berjalan di depan sedangkan Semesta berada di belakang Senja. Tangan Senja menyentuh kenop pintu gudang tersebut lalu mencoba membukanya, ternyata benar dugaan nya. Ada yang mengunci keduanya di dalam. Tak lama terdengar suara barang jatuh, keduanya segera menoleh ke arah sumber suara. Terlihat beberapa lelaki yang membawa pistol. Semesta dan Senja yang melihat itu langsung ketakutan.
"Sejak kapan mereka masuk?", ujar Senja.
__ADS_1
dorrr
Suara pistol yang di tembak kan ke arah keduanya. Untung Senja dengan sigap menarik tangan Semesta untuk menghindari tembakan tersebut. Dengan nafas yang ngos ngosan keduanya berfikir untuk mendobrak pintu gudang tersebut. Namun, semua tembakan itu terdengar, Senja dan Semesta terpaksa harus menghindari tembakan tembakan tersebut, berlari sana kemari. Keduanya tidak dapat melawan, mereka tidak mempunya senjata.
Plis lah gua masih muda, masa iya gua bakal mati di sini, batin Senja.
Pasti suruhan ayah, batin Semesta.
Keduanya berusaha menghindar, namun ketika suara tembakan tersebut terdengar Senja terlambat menyingkir, namun untungnya pluru tersebut hanya menggores lengan nya. Darah bercucuran dari tangan Senja, Seragam Senja terkena cipratan darah. Senja mendesis lalu berlari, Semesta hanya bisa melihat karna keduanya terpisah.
"Senja", teriak Semesta.
"Gua baik baik aja", saut Senja.
Senja berlari mendekati para pembunuh tersebut. Hati Senja hanya bisa berdoa. Saat berada di sebelah pembunuh tersebut, Senja segera menjambak rambut pembunuh tersebut, lalu menonjok ************ pembunuh tersebut dengan kakinya. Senja mengambil pistol yang sempat di jatuhkan itu lalu segera mengarahkan pistol tersebut ke arah penjahat.
Dorr
Suara tembakan tersebut membuat Salah satu penjahat tersebut tumbang. Senja menatap lelaki yang telah mati di bawahnya. Bibir dan tangan nya bergetar. Di saat semua pembunuh tersebut lengah, Semesta berlari dan memeluk Senja. Air mata Senja bercucuran, ia terkejut dengan apa yang ia lakukan. Menembak orang tersebut hingga tewas. Semesta menenangkan Senja memeluknya dengan erat. Sebelum pistol yang berada di genggaman Senja jatuh di lantai, Semesta mengambil dan menembaki pembunuh tersebut satu persatu.
Setelah berhasil, Semesta menyuruh Senja untuk mendobrak pintu gudang lalu meminta bantuan dari guru. Senja menolak namun Semesta meyakinkan nya untuk melakukan nya. Dengan terpaksa Senja berlari ke arah pintu gudang. Setelah Senja berhasil ia segera berteriak memanggil Semesta untuk keluar bersamanya dan mencari bantuan. Semesta berlari ke arah Senja di saat itupun pembunuh tersebut melepaskan satu tembakan ke arah Senja. Melihat itu Semesta melajukan larinya.
Dorr
Lagi dan lagi suara tembakan tersebut berbunyi. Mata Senja melotot dan segera memeluk Semesta yang tengah merentangkan tangan. Membuatnya sebagai tameng untuk melindunginya. Begitu banyak tembakan yang melayang di tubuh Semesta. Ketika sampai di tempat Semesta ia memeluk Semesta yang tumbang. Senja menangis menatap darah yang keluar dari badan Semesta. Senja menangis sejadi jadinya. Ketika pembunuhan tersebut hendak menembak Senja terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Pembunuh tersebut langsung pergi dari gudang tersebut, menyisakan Senja yang menangis melihat Semesta yang begitu mengenaskan.
"Buka mata lo Ta. Buka!!!", teriak Senja sembari memeluk Semesta.
__ADS_1
"Gua gak kuat lagi Nja. Sakit", ujar Semesta.
"Mana yang sakit. Biar gua obatin. Tapi gua mohon lo tetep sadar. please", ujar Senja sembari menangis.