
"Bukan begitu, kau kan jarang dekat dengan seorang gadis," ujar Mahendra.
"Saya masih normal," balas Semesta sengit, mana mungkin lelaki setampan ia menjadi gay hanya karna malas berdekatan dengan seorang gadis?
"Bisa aja kamu belok ta," ujar Mahendra di beri tatapan sinis oleh Semesta.
"Kamu saja sana yang belok saya masih normal," tegas Semesta, Mahendra terkekeh melihat tingkah sabahatnya itu.
...----------------...
Bel pulang sudah berbunyi kini Senja bingung sendiri harus pulang dengan siapa, dan motornya di bengkel bagaimana nasib nya?.
"Duh harus gimana dong?," gumam Senja bingung sendiri.
"Sudah lama menunggu," ujar seorang lelaki dari arah belakang Senja, Senja pun menoleh dan melihat bahwa Semesta sudah berada di belakangnya entah sejak kapan, emang manusia setan ni anak, jalan aja kagak denger suaranya, ujar senja dalam hati.
"Ngapain lo kesini?," tanya Senja.
"Saya mau tanggung jawab," ujar Semesta
"Heh anjir serius aja lo, gua kagak pernah lo sentuh yaa," sewot Senja.
"Emang saya bilang kalau saya tanggung jawab nya dalam bentuk nikah sama kamu?, saya ini tanggung jawab karna kamu udah saya anter sekolah, jadi pulang sekolah juga harus saya anter," jelas Semesta.
"Nggak usah, gua bisa kok jalan ambil motor gua,"
"Bengkel nya jauh, kamu serius ingin berjalan?,"
Ucapan Semesta memang benar, jarak sekolah dengan bengkel Senja sangatlah jauh, tidak mungkin kalau Senja berjalan kaki untuk mengambil motornya.
Senja memikirkan jika ia pulang terlambat sang bunda akan cemas di rumah, jadi mau tidak mau ia harus menerima tawaran Semesta.
"Oke, fine gua ikut lo," ujar Senja.
"Yasudah saya ambil motor saya di parkiran kamu tunggu saja di gerbang belakang," ujar Semesta.
Senja berjalan ke arah gerbang belakang.
Sesampainya Senja di depan gerbang ia menunggu Semesta untuk kemari, Senja jongkok dan melukis gambar di pasir.
"Maaf lama," ujar seorang lelaki.
Senja mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Semesta, yallah kenapa engkau mengirim lelaki setampan ini yallah, ujar Senja sembari menatap Semesta.
"Senja!!!," ujar Semesta dengan nada tinggi, membuyarkan lamunan Senja. Kini Senja sudah menaiki motor Semesta.
"Semesta, lo bukan nya cowo anti cewe ya?, trus kenapa lo mau nganterin gua? padahal kita baru kenal," ujar Senja.
"Terserah saya dong," balas Semesta.
"Dih ni bocah!!!," ujar Semesta di iringi kekehan.
"Lo kok sering pake bahasa formal?," lanjut Senja.
"Saya dari kecil sudah belajar bahasa formal,"
"Pasti keluarga lo kaya,"
"Tidak juga,"
__ADS_1
"Lo kan punya motor bagus kaya gini, idaman cewe cewe banget lah,"
"Sok tahu banget kamu Senja," ujar Semesta sembari terkekeh.
"Ahahah, tuh kan lo ketawa," balas Senja dengan senyum.
"Kalau saya senyum kenapa?,"
"Yaa bangga lah gua, bisa bikin kutup utara cair,"
"Kamu bukan lagi di kutub utara Senja,"
"Tapi deket sama lo rasanya kaya di kutub utara,"
"Terserah kamu saja,"
Senja tertawa terbahak bahak, entahlah humor gadis ini sangat rendah.
Tak lama kemudian kedua remaja ini telah sampai di bengkel tempat motor Senja di perbaiki.
"Thanks ya," ujar Senja dengan senyum mengembang.
"Hm, iya," balas Semesta.
Setelah itu Senja masuk dan membayar biyaya perbaikan motornya, setelah itu senja menaiki motornya dan keluar dari bengkel tersebut.
"Eh? napa lo blom pulang?," tanya Senja bingung, bukan nya Semesta sudah pulang seharusnya?.
"Belum, tadi Mahendra telfon saya,"
"Ohh, gua duluan ya," ujar Senja lalu pergi meninggalkan Semesta.
...----------------...
"Senja cepat pulang loh, jangan kemana mana, udah sore," ujar sang bunda.
"Iya bun," ujar nya.
Senja mengendarai motornya melewati sungai sungai. Matanya melihat ke arah seorang lelaki yang duduk di tepi sungai.
"Ehh, kaya Semesta," ujar Senja sembari memarkirkan motornya di tepi sungai.
Anggap aja lagi senja.
"Longapain di sini? gua baru tau ada tempat," ujar Senja membuat Semesta menoleh.
Senja duduk di kursi di sebelah Semesta.
"Sejak kapan kamu datang kemari?," tanya Semesta kepada Senja.
"Baru aja, tadi liat lo duduk di sini makanya gua dateng, cowo secool lo ternyata suka senja ya,"
"Saya tidak suka kamu,"
"Bykan gua dodol, tapi senja langit," ujar Senja bersendekap dada dan mengerucutkan bibirnya.
"Saya cium kamu nanti," ujar Semesta lalu menutup matanya.
__ADS_1
"Ihh mesum lo anjir, masih smp juga gilak lo, ketos mesum lo!!!," ujar Senja dengan marah.
"Hahaha, lucu tingkah mu,"
"Gua ga lucu, gua mau gua keren," ujar Senja dengan raut wajah bangga. mendengar itu Semesta tertawa terbahak bahak membuat Senja menoleh dan tersenyum kecil melihat Semesta tertawa, ia tahu di balik wajah datar Semesta, pasti Semesta menyimpan kesedihan nya sendiri.
"Sudah puas melihat wajah saya?," ujar Semesta sembari membaca buku.
"E eh ga usah kegeeran!!!," ujar Senja.
"Ehh burungnya lihat deh!!," ujar Senja membuat Semesta menoleh ke arah yang di tunjukan oleh Senja.
begitu banyak burung yang berterbangan di langit senja, yang membuat langit itu semakin cantik
"Biasa saja," ujar Semesta membuat Senja lagi dan lagi menoleh dengan raut wajah sebal.
"Tau lah lo dari tadi biasa aja biasa aja," marah nya.
"Saya sering kesini, jadi pemandangan ini sudah biasa bagi saya,"
"Lo, sering kesini? sejak kapan?," tanya Senja dengan wajah heran.
"Sejak kecil saya suka main di sini,"
"Sad boy sejak dini,"
"Saya ke sini sama teman kecil saya,"
"Siapa teman kecil lo?
"Mahendra,dia teman kecil saya,"
Senja memangut mangutkan kepalanya tanda ia paham dengan perkataan lelaki ini.
"Jadi lo sering ke sini dari kecil ya, gua aja baru tau ada tempat seindah ini di sini, maklum baru pindah ke sini,"
"Kamu aslinya dari mana?," tanya Semesta.
"Ohh gua aslinya dari kota Kediri, pindah ke Jogja,"
"Ohh, tinggal sama siapa?,"
"Bunda gua,"
"Ayah kamu?,"
"Bapak gua udah ga ada, dia udah pergi selamanya, login dia ikut tuhan,"
Perkataan Senja membuat Semesta terdiam, Semesta juga telah di tinggalkan oleh mama nya sejak ia lahir, ia tidak pernah melihat wajah mama nya sejak lahir. Pedih kalau di ingat ingat, saat mama semesta tidak ada, Semesta sering di titipkan kepada sang nenek, karna sang ayah selalu saja sibuk dengan urusan nya.
"Maaf," ujar Semesta dengan lirih.
"Gapapa gua ga baperan kok ta," ujar Senja dengan senyuman.
"Besok, mau berangkat bersama?,"
"Besok?, tumben lo ngajak gua? lo molai suka kan sama gua?," tuduh Senja dengan alis yang di angkat angkat.
__ADS_1
"Jangan kegeeran kamu,"