Semesta Untuk Senja

Semesta Untuk Senja
SUS• •02


__ADS_3

"Eh kamu ngga tau emang ketos nya siapa?," tanya Semesta sembari melihat wajah Senja.


Senja yang merasa pertanyaan itu mengarah ke dirinya pun membalas dengan anggukan.


"Iyalah, gua mana mungkin tau, orang gua pindah ke sini waktu pemilihan ketos nya udah selesai," ujar Senja tanpa berdosa duduk di kursi yang di sana.


"Kamu pindahan? saya baru tau kamu pindah," ujar Semesta.


"Yauda panggilin ketos sana, gua ga punya banyak waktu nih," ujarnya kepada Semesta, Semesta menghelan nafas panjang, "Senja, saya ketos di sekolah ini," balas Semesta dengan mata tajam nya, "lalu yang kamu duduki itu bangku saya," sambungnya.


Mendengar ucapan Semesta, Senja pun panik dan langsung berdiri dari kursinya, sungguh ia tidak tahu kalau lelaki ini adalah ketos di sekolah ini, karna ia kira ketos di sini adalah perempuan, yang ia ketahui lelaki sangat malas jika di suruh menjadi ketos. Pantas saja kemarin waktu Senja duduk di atas bangku Semesta semua siswa dan siswi di sana melihat nya dengan terkejut.


"Ngga usah tegang, saya tidak makan kamu, saya manggil kamu karna saya ingin kamu jawab pertanyaan saya," ujar Semesta lalu duduk di kursi kosong.


"Duduk, patah nanti kaki mu," lanjutnya.


Dengan sedikit ragu Senja duduk di sebelah Semesta,


"oh, lo ketos ya?gua baru tau sorry," ujar Senja, "kenapa?,mau nanya apa?,"


"Kenapa kamu bawa cermin?, apalagi bercermin di depan guru, ga sopan," ujar Semesta dengan mata tajam nya.


"Kemarin gua cuma liat kaca doang, gatau kalo ada pak Sabto lagian itu bukan kaca gua, itu kaca temen gua, yang gua pinjem 1 minggu, dia suruh bawa di marahin gua soal nya, udah kan? gua balik kelas dulu ya," ujar Senja lalu langsung meninggalkan Semesta yang tengah duduk.


"Menarik,"ujar Semesta sembari tersenyum tipis.

__ADS_1


...----------------...


Bel istirahat berbunyi, semua siswa dan siswi berhamburan keluar, kini Senja tengah tidur di atas meja, Vina mendatangi Senja dan bertanya, "lo tadi di ruang osis kenapa?," tanya Vina.


Bukan nya membalas pertanyaan dari Vina, Senja malah melanjutkan tidurnya.


"Ih Senja, gua nanya," marah Vina.


"Berisik tau, di ruang osis yang cuma di tanya soal kemarin," jelas Senja di beri anggukan oleh Vina.


Di rasa lapar Vina pergi meninggalkan Senja yang kembali tidur di atas meja, di saat Vina sudah keluar dari kelas, Senja duduk dan termenung.


"semesta, lo ternyata osis ya, gua ga sopan banget anjir kemarin, tadi juga, eh masa bodoh ngapain anjir gua merasa gua ga sopan, sejak kapan anjir najis banget, tau lah ngapain mikirin dia deh mending gua ke kantin cari makan," ujarnya dalam hati lalu berlari keluar kelas dan mengejar Vina yang belum jauh.


Kini Semesta sibuk di ruangan osis nya, bertempur dengan acara acara yang akan datang, karna semuanya bergantung dengan osis, memikirkannya semakin membuat Semesta menjadi bingung, namun di saat kebingungan nya ia kembali melihat Senja yang lewat di depan ruangan nya dengan senyum yang membuatnya candu, entah sejak kapan Semesta suka dengan senyuman Senja. Semesta menggelengkan kepala dan kembali berfokus dengan pekerjaan nya, ia memutuskan sepulang sekolah akan mengajak para anggota osis untuk berunding masalah kegiatan yang akan datang di akhir bulan ini.


"Ya lo anjir manggil orang salah, mana manggil nya pake bahasa hewan lagi, eh tau tau itu anggota osis ahahahahahahahahha, karma ninggalin gua tadi di depan ruang osis," ujar Senja lalu tertawa terbahak-bahak, melihat Senja yang asyik mengejek nya ia geram dan meninggalkan Senja dengan cemberut. Melihat sang sahabat yang tengah marah kini Senja berjalan ke arah Vina dan membujuknya.


"Lo kenal dia? katanya dia sahabat ketos," tanya Senja kepada Vina.


"Gua kan ga pindahan kaya lo, gua kan dari kelas 7 udah di sini, jadi gua tau lah siapa aja yang jadi osis," jelas Vina di beri anggukan oleh Senja.


"Itu tadi kak Mahendra, dia anak kelas 9B dia sahabat ketos itu, dia juga anak osis dia wakil osis, dia di kenal dengan aura hitam nya, dia anak nya dingin banget, deket sama dia tu bawaan nya pengen pake jaket, dingin bangettt, maka nya gua waktu di tatap dia tadi langsung lari," ujar Vina lalu memakan jajan nya yang ia bawa dari kantin.


Mendengar ucapan Vina,Senja menganggukan kepala, "ternyata pergaulan bisa mempengaruhi sifat kita," ujar nya di dalam hati dan menganggukan kepalanya.

__ADS_1


...----------------...


Kini siswa dan siswi sudah berhamburan keluar dari kelas mereka masing masing, seperti biasa Senja akan menunggu untuk semua sudah pulang, ia tidak pernah ingin berdesakan,


"Blom pulang?," ujar seseorang dari belakang Senja.


"Wanjing," kaget senja dan berbalik badan, betapa terkejutnya ia melihat kehadiran Semesta dan mahendra yang entah dari mana asal nya, Senja berfikir manusia seperti apa mereka, berjalan tidak ada suaranya, bahkan saat berjalan tidak ada yang saling membuka pembicaraan.


"Ngagetin aja sih lo, ngapain lo nanya nanya ngefans lo sama gua?," ujar Senja sewot, di rasa sudah pulang semua Senja pun pergi meninggalkan kedua lelaki itu tanpa sepata katapun.


"Cewe itu?," tanya mahendra saat melihat Senja sudah pergi jauh dari pandangan ia. Semesta hanya menjawabnya dengan deheman lalu pergi meninggalkan mahendra.


...----------------...


Sesampainya Semesta di halaman rumah nya ia memarkirkan motornya tepat di bagasi samping rumah. Ketika Semesta hendak masuk ke rumah terlihat wanita yang tak terlihat begitu tua berdiri di depan pintu,"ngapain pulang? kamu ngga tau sudah jam berapa ini? dasar anak pembangkang," ujar perempuan itu.


"Bukan urusan anda," balas Semesta dingin lalu pergi meninggalkan perempuan itu tanpa sepata katapun.


"Emang dasar anak tidak tahu untung,"ujar perempuan itu lalu melempar gagang sapu, dan yaps gagang sapu itu mengenai tengkuk leher lelaki itu.


"Saya bukan anak anda, dan anda hanya ibu pengganti, peran anda di sini tidak lebih dari pengganti, dan anda bukan tokoh utama di sini," tekan Semesta sembari berjalan mendekat ke arah perempuan itu.


"Semesta!!," teriak seorang lelaki dari balik. Semsta menoleh dengan tatapan dingin, entah mengapa Semesta sangat muak dengan lelaki itu, Semesta memilih pergi meninggalkan keluarga ini.


"Lihat anak mu mas, tidak mempunyai etika,dasar anak pembangkang," ujar perempuan tersebut.

__ADS_1


"Birkan saja sela, mempunyai anak seperti dia tidak ada untungnya, menyusahkan saja," ujar lelaki itu marah.


__ADS_2