Semesta Untuk Senja

Semesta Untuk Senja
SUS• • 18


__ADS_3

Kini Semesta telah sampai di rumah, sekitar pukul 06:15. Semesta memutuskan untuk segera mandi dan berangkat sekolah karna, karna ia juga harus membantu para guru untuk menempel nomor di meja, karna senin kelas 9 akan melaksanakan ujian nasional. Dan juga ada rapat osis yang tidak bisa di tunda, karna apa? Karna Semesta akan lulus dan masa jabatan osis nya akan selesai.


Semesta berjalan menuju rumah megah tersebut, rumah yang membuatnya muak dengan drama di kehidupan nya.


"Habis dari mana kamu?", ujar seorang perempuan, yang siapa lagi kalau bukan Sela, ibu tiri Semesta atau bisa di sebut sebagai perusak kehidupan nya.


Semesta tidak menghiraukan ucapan Sela, ia bahkan mencoba untuk tidak mendengar semua kata kata kasar dari Sela.


"Semesta", teriak Sela lalu menampar Semesta, ketika Semesta hendak melewatinya tanpa memperdulikan ia berbicara.


Tamparan keras itu tepat mengenai pipi Semesta. Semesta menoleh dan menatap Sela dengan tatapan tajam.


"Saya tidak mengerti lagi sama alur pikiran mu Semesta, saya berusaha untuk menjadi ibu mu, tapi kamu tidak pernah memperdulikan saya, bahkan kamu tidak pernah menganggap saya ada di rumah ini", ujar Sela dengan penuh amarah.


"Huh? Tidak salah dengar saya? Anda, tidak akan pernah menjadi ibu saya, dan menggantikan posisi ibu saya", balas Semesta dengan senyum yang mengerikan.


"Ibu mu itu sudah tidak ada",


"Mama memang sudah tidak di dunia, tetapi ia berada di hati saya", potong Semesta lalu kembali berjalan meninggalkan Sela.


"Dasar anak haram, lahirmu itu hanya sebuah kesalahan, lahirmu hanya membawa sial bagi keluarga ini. Di baikin malah ngelunjak. Saya ini sudah berusaha menerima kamu menjadi anak saya. Kamu masih beruntung tidak saya siksa, tidak seperti ibu tiri di luar sana", ujar Sela.


Cukup sudah kesabaran Semesta, bagaimana tidak, Sela telah melampaui batas kesabaran nya.


"Saya justru merasa beruntung kalau anda tidak lahir di duni ini, kenapa? Karna kehadiran anda yang justru membawa sial, bukan kehadiran saya, kalau anda tidak lahir, ayah tidak akan menyiksa mama, dan jika anda tidak lahir saya masih bisa merasakan kasih sayang dari kedua orang tua saya, dan jika anda tidak lahir mama dan ayah tidak akan pernah berpisah. Dan apa yang anda bilang, anda ingin menjadi pengganti ibu saya, cih setelah perlakuan anda terhadap saya, saya bisa menoleransi semua? Tidak. Saat kecil anda memperlakukan saya dengan kasar. Anda bahkan sering membuat saya terluka, anda memaksa saya untuk meraih prestasi, bahkan ketika anda marah pasti anda akan memukul saya dengan sapu, dan saya masih ingat, di saat anda melihat nilai saya yang kurang memuaskan, anda membanting saya di lantai, menampar saya, menjambak saya, mengancing saya, dan tidak memberi saya makan 1 hari penuh, dan jika bukan karna keberanian saya untuk melawan, sampai sekarang saya akan menjadi boneka anda", ujar Semesta dengan penuh penekanan.


Semua penuturan Semesta membuat Sela hanya diam tidak berkutik, tubuh Sela terpaku, gambaran ia menyiksa Semesta melayang layang di pikiran nya. Gambaran ia menghasut Kevin untuk menyiksa ibu kandung Semesta terlintas di pikiran nya.


Kini Semesta telah berada di ruang osis. Tempat ia meluangkan waktu. Ruang osis tersebut ia desain seperti ruangan biasa, karna guru pembina mereka memberi sebuah ruangan yang cukup luas.


"Semesta!!!", teriak seorang gadis, dan Semesta sudah hafal dengan suara tersebut. Semesta hanya menggeleng kepala sembari memijat pelipisnya.


Senja tersenyum tanpa dosa dan memasuki ruangan tersebut tanpa permisi, sudah seperti ruangan nya sendiri. Ia membuka mata dan melihat bahwa ruangan tersebut tengah ramai siswa siswi yang tak lain ialah adik kelasnya. Semua mata tertuju kepada Senja, dan Senja hanya bia tersenyum canggung. Untung saja tidak ada guru pembina, kalau ada pasti nilai sikap nya akan di kurangi.


"Emm maaf saya salah ruangan permisi", ujar Senja lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut.

__ADS_1


Sudah pukul 3 Senja menunggu Semesta selesai rapat. Menunggu adalah hal yang membosankan menurut Senja.


"Sudah lama nunggu?", ujar seorang lelaki dari arah belakang Senja.


"Lah Zril, mana Semesta?", ujar Senja.


"Di dalem lagi ngrapihin buku, biasa anak rajin",


"Lo tadi bahas apaan? busett lama bener njir, gua di sini udah lumutan",


"Tadi bahas tentang besok",


"Emang besok ada apaan? Bukan nya besok minggu yah?",


"Lah, lo blom nyoblos?",


"Nyoblos apaan? Lobang pantat lo?",


"Kagak anjir, kayanya bulan kemarin ada pemilihan osis deh? Masa lo kaga tau?",


"Kenapa",


"Sakit njir gua",


"Manusia spek baja kek lo bisa sakit?",


"Gua juga manusia anjir",


"gua kira bukan",


"Tai lo, jadi besok ada apaan?",


"Besok upacara penyerahan jabatan, soal nya kan senin kita ujian nasional, trus habis itu kita udah gak ada kerjaan",


"Kok gak dari dulu? Perasaan bukan nya kek begitu tuh waktu kita blok ujian ya",

__ADS_1


"Semua serba mendadak Nja, kita semua lupa sama masa jabatan kita, jadi semuanya serba mendadak",


"Ohhhhhhh, Tapi gimana kalian bisa lupa sama mas jabatan kalian?"


"Kita terlalu sibuk ngurusin ini itu, rapat sana sini, lomba sana sini",


"Pinter bat klean",


"Temen lo si marvel juga pinter tuh, dia sering ikut lomba lomba, apalagi berbau pramuka, dia juga sering nolongin anak osis",


"Iya semua berprestasi, tapi gua kaga, gua kaga minat awokawok", ujar Senja lalu tertawa, sedangkan Azril hanya terdiam.


"Kalian ngomongin apa?.


"Gua duluan Nja, beruang kutub dah balik soal nya, bye", bisik Azril lalu buru buru pergi dari hadapan Semesta dan Senja. Senja menatap Semesta lalu tertawa terbahak bahak.


"Jadi yang di maksud Azril beruang kutub itu lo ta", ujar Senja lalu melanjutkan tertawanya yang sempat terhenti. Semesta hanya memasang wajah datar lalu menggandeng Senja ke arah parkiran.


Di setiap jalan hanya ada suara Senja yang tertawa. Cukup membuat Semesta diam dengan kelakuan random dari gadis ini.


"Kenapa Azril manggil lo beruang utara", tanya Senja dengan mimik wajah yang menahan tawa.


"Nggak",


"Karna muka lo mirip beruang ahahaha", tawa Senja pecah, lalu memukul pundak Semesta. Pukulan ringan tersebut mendapat tatapan tajam dari Semesta. Membuat Senja terdiam dan tidak tertawa lagi.


"Sudah selesai ketawanya", ujar Semesta tersenyum kecil lalu bersendekap dada.


"Belom, soal nya tatapan lo ngeri", ujar Senja dengan malas.


"Yasuda lanjutin tertawanya", balas Semesta.


"Gak ah, tatapan lo nyebelin", ujar Senja lalu meninggalkan Semesta.


"Mau kemana?", ujar Semesta kala berhasil berjalan di samping gadis ini.

__ADS_1


"Pulang",


__ADS_2