
1 bulan berlalu dan Senja masih saja merenung. Senja benar benar kehilangan sosok Semesta. Bunda Senja membantu Senja untuk mendaftarkannya sekolah di sekolah favorit Senja. Semua yang dekat dengan Senja khawatir akan kesehatan mental Senja. Senja yang menjadi lebih kurus karna kurang makan.
"Senja. Gua bawain lo boba macha", Ujar Vina lalu duduk di sebelah Senja. Senja menoleh dan tersenyum kecil ke arah Vina.
"Makasih", satu kata keluar dari mulut Senja membuat Vina tersenyum. Vina memberikan Senja minuman yang memang menjadi minuman favorit Senja. Senja mengambilnya dan mencoblos minuman tersebut dan meminumnya. Suara tegukan itu terdengar jelas di telinga Vina. Vina menatap Senja yang tengah menatap langit.
"Senja. Gua harap lo bisa senyum lagi kaya dulu", Ujar Vina lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar Senja. Senja menoleh dan menatap Vina. Senja pun ikut merebahkan tubuhnya di atas ranjang nya.
"Kenapa lo ngarep gua bisa senyum lagi?", tanya Senja.
"Karna, lo berhak bahagia Nja", ujar Vina lalu menatap Senja.
"Gua gak suka lo kaya gini. Gua mau lo yang dulu balik Nja. Kapan lo bisa ikhlasin kepergian Semesta. Sampe kapan lo mau terpuruk kaya gini", Lanjutnya.
"Sampai gua sadar dari mimpi gua",
"Semesta udah ninggalin kita Senja. Lo harus nglepas kepergian dia Nja. Gua gak mau lo terus terusan kaya gini. Gua mau lo senyum ceria kaya dulu lagi. Semesta memang sosok cahaya di diri lo. Tapi lo juga harus bisa nyalain cahaya dalam diri lo yang udah padam. Kasian tante Riana kalau lo kaya gini terus. Lo anak dia satu satunya. Gua mohon lo pasti bisa. Gua selalu ada di samping lo. Nemenin lo", ujar Vina membuat Senja menangis.
Senja hanya bisa menangis. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Benar kata Vina. Kasihan bundanya yang selalu khawatir akan kesehatan nya. Senja berdiri dan menghampiri bingkai foto Semesta yang terletak di pinggir ranjang nya. Ia memeluk foto tersebut dan menangis. 1 bulan berlalu dan ia masih tidak bisa menerima kenyataan. Bahkan saat kelulusan nya ia tidak datang. Pemakaman Semesta pun ia tidak datang. Ia masih berada di lingkaran hitam. Bahkan di saat ia akan memasuki sekolah baru ia harus tanpa Semesta.
Isak tangis Senja benar benar terdengar memilukan. Ia menangis sejadi jadinya. Kaki nya lemas, ia jatuh ke lantai dengan memeluk foto Semesta.
"Maafin gua Ta. Gak seharusnya gua kaya gini. Gua seharusnya belajar ngiklasin kepergian lo. Gua gak seharusnya kaya gini. Lo jadi gak tenang gara gara gua. Maafin gua Ta maafin gua", ujar Senja dengan tangisnya.
Vina menghampiri Senja dan memeluk gadis tersebut. Ia mencoba menguatkan Senja. Melihat keadaan Senja yang begitu memilukan membuat luka gores di hatinya.
"Gua tau lo kuat Nja", bisik Vina.
...****************...
__ADS_1
Tahun ajaran baru di mulai. Senja berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Semeta dan kembali kepada dirinya yang dahulu. Senja dan Vina kini duduk di bangku SMA, dan kebetulan keduanya berada di kelas yang sama.
Di tahun ajaran baru ini keduanya menjadi murid baru di sebuah SMA yang cukup terkenal. Keduanya mengelilingi sekolah tersebut. Ketika keduanya berjalan di koridor sekolah Vina tidak sengaja menabrak seorang kakak kelas. Melihat Vina yang terjatuh membuat Senja khawatir dan langsung menolong Vina.
"Sorry kak. Vina emang matanya di taro lutut soal nya", ujar Senja sembari menolong Vina.
Lelaki tersebut hanya melihat lalu pergi tanpa mengucapkan sepata katapun. Senja menoleh dan menatap punggung lelaki tersebut yang lama kelamaan menghilang dari pandangan Senja. Senja merasakan sesuatu yang ia kenal dari sosok lelaki tersebut.
"Senja. Lo kenapa? ", ujar Vina berusaha membuyarkan lamunan Senja, takut Senja kenapa napa.
"Oh gapapa. Udah yok gua kebelet berak", ujar Senja.
"Baru juga lo sekolah di mari, udah berak duluan aja lo", ujar Vina dengan tertawa kerasnya.
Senja lansung membungkam mulut Vina dengan tangan nya. Takut terdengar seseorang. Mau di taro di mana mukanya nanti. Gadis secantik Senja berak di sekolah.
"Ahhh mulut lo. Nanti kedengeran orang gimana", marah Senja.
"Palalo gua patahin baru gua terkenal",
"Hii lo sekarang jadi pesikampret ya",
"psychopath anjing bukan pesikampret",
"Loh itu khusus buat lo awokawok", ujar Vina dengan ketawa keras, lari dari Senja, karna ia tahu ia akan kena pukulan dari Senja.
"Weh anjing Vina anjing awas lo ya",
Disisi lain terlihat seorang lelaki yang menatap kepergian Senja dengan tatapan sinis.
__ADS_1
Kini Senja dan Vina berhenti di kantin sekolah. Mereka duduk dan memesan makanan.
"Memang bandit lo", Ujar Senja dengan nada ngos ngosan.
Vina tertawa melihat Senja yang kelelahan karna kejar kejaran dengan nya tadi. Vina juga ngos ngosan namun ia masih sempat tertawa karna logat Senja menjadi logat bunda Corla.
Senja menatap wajah Vina yang masih saja tertawa pun ikut tertawa. Keduanya tertawa tak berhenti hingga kaki keduanya naik ke atas kursinya.
"Udah anjing gua capek udah", ujar Senja dengan menetral kan nafasnya.
Keduanya mengambil minum di meja mereka lalu meminumnya. Senja melihat Vina yang meminum minuman nya tidak santay pun tertawa lagi. Vina yang tak tau apa apa pun ikut tertawa.
"Ahahahaha anjing. Muka lo mirip opet sumpah", ujar Senja dengan tertawa.
"Muka lo kek gorila", balas Vina masih dengan tawa kerasnya.
"Muka lo kek lebah",
"Muka lo kek cacing", mendengar ucapan Vina. Senja berhenti tertawa dan itu membuat Vina juga berhenti tertawa. Vina memasang wajah panik karna takut Senja akan marah.
"Emang cacing punya muka? ", ujar Senja.
"Kagak", ujar Vina. Lagi dan lagi keduanya tertawa terbahak bahak hanya karna sesuatu yang tak masuk akal.
Vina menatap Senja masih dengan tawa yang keras. Terselip rasa senang di hati Vina karna Senja sudah bisa tersenyum lepas lagi. Senja sudah bisa mengiklaskan kepergian Semesta walau tidak sepenuhnya melupakan. Ia tahu ketika sampai di rumah ia akan menatap foto Semesta dan bercerita keseharian nya tanpa Semesta. Setiap malam ia selalu menatap langit berbintang dengan memeluk foto Semesta. Mengingat kenangan keduanya membuat air mata Senja turun dengan sendirinya.
Senja berhenti tertawa dan manarik nafas panjang dan ia hembuskannya. Tangan nya terlulur mengambil gelas di meja lalu meminum nya.
"Oh ya tadi kok gua gak lihat Steven sama Azril", tanya Senja.
__ADS_1
"Gatau juga gua mana tuh monyet kembar. Kemana mana berdua mulu tu bocah dah kek perangko", balas Vina.