
Karna pertemuan singkat kedunya tadi, kini Senja dan Semesta kembali bergoncengan.
"Semesta!!!," teriak Senja di iringi tangisan,membuat Semesta yang menggonceng Senja khawatir.
"Kamu kenapa? ada masalah?," ujar Semesta khawatir.
"Hiks, lo kalo nyakiti hati gua kira kira dong!!!," marah Senja lalu menghapus air matanya.
"Saya pernah nyakitin hati kamu memang?," tanya Semesta polos.
"Ya iyalah!! lo masih ga sadar? gua sering nangisin lo, lo juga ngecewain bunda!! kenapa sih ta? kenapa lo harus ada di hati gua? bahkan sekarang lo deketin gua lagi, ga puas lo bikin gua sakit hati pertama kali ha!!!," teriak Senja di iringi tangisan.
Hujan kini turun mengguyur badan kedua remaja tersebut. Senja memilih turun dari motor dan meninggalkan Semesta yang tengah mencerna perkataan Senja.
Senja berjalan sembari terisak, entahlah kalau di bilang kenapa Senja sekarang sangat lemah?, di mana senja yang sangat keras kepala dulu?.
"Senja!! maafin saya, saya jauhin kamu karna ada alasan nya Senja!!," teriak Semesta.
Senja tidak menggubris teriakan Semesta dan melanjutkan jalan nya, telinga Senja seperti tuli.
"Jangan cengeng anjing, gua Senja ga pernah nangisin cowo," ujar senja meyakini dirinya.
"Senja!!!," teriak Semesta.
Merasa di abaikan Semesta mengejar Senja dan memegangi tangan Senja.
"Dengar Senja, saya jauhin kamu karna ada alasan nya,saya tidak bisa jelasin di sini, mari pulang, saya ada yang perlu di tanyakan kepada bunda kamu, setelah itu saya akan menjelaskan semuanya," ujar Semesta meyakini Senja.
"Hah? gila lo? cowo playboy kaya lo bisa bikin gua percaya? nggak ta, mau lo ngomong gimanapun gua gabakal percaya sama lo!!!," ujar Senja lalu menarik tangan nya.
Bukan nya di lepas kan oleh Semesta, justru Semesta menarik tangan Senja dan memeluk gadis itu dengan erat.
"Hey, dengar saya, saya tidak pernah ingin meninggalkan kamu Senja, saya memang ada masalah,"
"Gak!! lo bohong ta, lo bohong!!!! lo sebenernya udah risih kan sama gua!! bilang aja!!!! jangan ngasih harapan ke gua!!!! gua bisa pergi sendiri ta!!!," ujar Senja dengan isakan nya. Senja berusaha melepaskan pelukan itu.
"Hey, tenang kan dirimu, saya menyayangimu, jangan menangis lagi Senja, ingat saya tidak akan pernah ingin meninggalkanmu," ujar Senja lalu menatap wajah Senja lalu memeluknya lagi.
Senja tidak dapat menahan tangis nya lagi, kini Senja menangis sejadi jadinya di pelukan Semesta, biarkan Senja akan di ejek Semesta di kemudian hari Senja tidak memikirkan itu. Kini yang ada di benak Senja hanya ingin terus merasakan pelukan hangat ini. Sungguh di peluk seperti ini oleh Semesta seperti di peluk oleh ayah nya.
"Jangan cuekin gua lagi ta, gua ga suka," lirih Senja.
"Maaf kan saya,".
Kini keduanya sudah berada di luar rumah Senja.
tok tok tok!!!
Terbuka, pintu rumah Senja terbuka dan memperlihatkan sang Bunda yang cemas.
__ADS_1
"Yallah nak!! Semesta kenapa hujan hujan? ayo masuk masuk bunda buatin teh anget," ujar sang Bunda cemas.
"Trimakasih, tante, maaf sudah merepotkan," ujar Semesta tidak enak.
"Justru tante yang minta maaf, udah merepotkan kamu sampai kehujanan, tunggu sebentar bunda bawain baju Senja buat kamu ya," ujar Bunda Senja lalu pergi mengantarkan anak nya menuju kamar.
"Senja kamu istirahat aja di kamar, bunda mau ke bawah temenin Semesta," ujar sang bunda lalu keluar dari kamar Senja dan membawa kaos hitam.
"Nak Semesta, ganti dulu, baju kamu basah begitu, nanti biar tante cuci sekalian sama baju Senja, kamu pakai saja baju Senja, banyak baju Senja yang seperti lelaki," ujar Riana dengan senyum hangat.
"Maaf membuat tante repot sendiri, maaf Semesta merepotkan tante," ujar Semesta dengan sopan.
"Tidak, tidak masalah Semesta, kamu sudah seperti anak bagi saya, sudah sana ganti baju, nanti kamu masuk angin," ujar Riana lalu pergi meninggalkan Semesta.
Setelah beberapa menit, Semesta keluar dari kamar dan melihat beberapa cemilan dan teh di atas meja.
"Loh Semesta, sudah?," tanya Riana dari dapur.
"Ahh, sudah tan, trimakasih, sekali lagi maaf saya merepotkan anda,"
"Ngga usa sungkan begitu Semesta,"
"Tante, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan,"
"Apa?,"
"Baiklah mari,"
Kini keduanya telah duduk di kursi ruang tamu, keadaan sangat menegangkan.
"Tantee ada yang saya ingin tanyakan,"
"Ohh silakan Semesta,"
Semesta mengambil foto seorang gadis dari balik casing hpnya.
"Tante kenal dengan gadis di foto itu?," tanya Semesta dengan wajah serius.
Melihat foto tersebut, Riana langsung faham dan tersenyum.
"Kamu anak dari perempuan itu ternyata, tante bisa kok bilang ke kamu semua di malam itu,"
"Trimakasih tante,"
Di saat itu pula Riana menceritakan tentang malam di mana ia bertemu ibu Semesta yang sedang kontraksi.
flashback
Riana melihat di mana ada seorang gadis cantik sedang tergeletak di tengah jalan dengan lemas.
__ADS_1
"Eh bun ada perempuan!!," ujar ayah Senja.
"Eh iya pak, yasudah kita samperin," ujar Riana mengajak suaminya turu.
"Jangan bun deras lo hujan nya, nanti kamu sakit, kamu juga kan lagi hamil,"
"kasian lo dia kayanya lagi kontraksi pak, coba bapak lihat,"
"Yasudah kamu tunggu di sini ya,"
"Iya pak,"
Ayah Senja turun dan melihat gadis yang tergeletak di tangah jalan tersebut, betapa terkejutnya ayah Senja saat badan gadis itu penuh luka memar, bahkan kini sudah pendarahan.
"Tolong saya," lirih garis itu penuh luka.
Riana yang melihat suaminya tak kunjung kembali pun berlari dan menyusul.
"Yallah neng, pak!!! dia mau melahirkan pak!! yallah kasian sekali kamu nak!!," ujar Riana cemas.
"Yasudah bapak taroh di mobil nanti ke rumah sakit buat mriksain dia," ujar ayah Senja di balas angguka oleh Riana.
"Berhenti!!!," ujar seorang lelaki dari kejahuan.
"Letak kan gadis itu di sana biarkan gadis pembangkan seperti ia mendapat hukuman," ujar lelaki itu dengan dingin.
"Kamu ini siapa?," tanya Riana.
"Saya suami perempuan itu!!,"
"Mana mungkin seorang suami membiarkan istrinya tergetak di tengah jalan dan mendapat kontraksi,"
"Kalian ini hanya pasangan biasa tidak perlu mencampuri urusan ku!!,"
"Kamu ini kejam sekali, kalau kamu tidak mau menerima gadis ini, biarkan ia bersama ku saja!,"
"Sudah ku bilang jangan mencampuri urusan ku,"
"Dasar lelaki jahanam, kamu pantas mati,"
"Sudah bun sudah!! ingat kamu sedang hamil!!,"
"Tapi pak, lelaki seperti dia ini tidak layak menjadi padangan gadis ini!!!,"
"Sudah sudah lebih baik kita pergi, biarkan mereka mengurusi masalah nya sendiri,"
"Baiklah,"
Semoga baik baik saja kamu*.
__ADS_1