Semesta Untuk Senja

Semesta Untuk Senja
SUS• • 19


__ADS_3

Melihat gerak gerik Senja yang menandakan bahwa Senja kini telah marah kepada Semesta membuat Semesta hanya bisa menggelengkan kepala. Seharusnya ia yang marah, sekarang malah Senja yang marah.


"Senja, iyaa aku salah, maafin dong", bujuk Semesta.


"Apasih, gua gak marah",


"Bohong", ujar Semesta membuat langkah Senja terhenti.


"Gua gak bohong Semesta",marah Senja.


Semesta mencoba semua cara agar Senja tidak marah kepadanya, yaitu dengan mengajaknya untuk membeli minuman favorit nya. Dan setelah itu keduanya memutuskan untuk segera pulang.


...****************...


Hari sudah gelap, kini kita melihat seorang gadis yang tengah duduk di balkon kamarnya, melihat indahnya bintang, memakai celana pendek dengan kaos overseas. rambut yang di ikat ke atas membuatnya terlihat cantik.


"Senja", panggil Sang bunda. Tidak ada balasan dari Senja membuat sang bunda nekat untuk masuk ke dalam kamar anak nya. Melihat punggung Senja di balik pintu kaca tersebut.


"Kamu ada masalah? Tumben banget kamu di balkon", ujar sang bunda membuyarkan lamunan Senja.


"Eh, bunda kapan dateng?", tanya Senja sebari melihat sang bunda. Riana bunda Senja melihat Senja yang menatap nya dengan mata yang sendu. Jelas gadis kecil ini tengah berbohong, berkata bahwa dirinya baik baik saja. Riana menghembuskan nafas panjang, lalu duduk di sebelah Senja.


"Kenapa? Ada masalah, sini cerita ke bunda", ujar Riana.


"Nggak kok bun, Senja ngga lagi ada masalah, Senja cuma mau lihat bintang aja, kan senja udah lama nggak ke balkon buat lihat bintang", balas Senja dengan tersenyum.


"Senja, mata kamu itu udah menunjukkan bahwa kamu itu lagi sedih, kenapa? Ada masalah? Bunda bisa dengerin keluh kesah kamu",


"Senja nggak pernah berhasil bohongin bunda", ujar Senja lalu melanjutkan perkataannya tadi. "Senja sedih, ayah gimana ya kabarnya di atas, dia gak kangen Senja? Dia ga pernah dateng ke mimpi Senja. Ayah bilang mau nemenin Senja lulus nanti, tapi ayah bohong", ujar Senja.


Senja memang sudah terbiasa tanpa kasih sayang orang tua. Namun, ketika melihat anak kecil yang dekat dengan ayah nya, mendapatkan kasih sayang ayah nya, tentu saja membuatnya iri.


Riana menghembuskan nafas panjang lalu berkata. "Ayah sayang sama kamu. Ayah sayang sama kamu nggak harus dia dateng ke rumah kamu. Dia selalu menatap kamu dari bintang bintang yang bersinar, ayah mu ada di sana", ujar Riana sembari menunjuk salah satu bintang yang bersinar.


Senja melihat arah tangan Riana. Melihat bintang yang sangat bersinar di bandingkan dengan bintang yang lain. Senja tersenyum kecil lalu menatap Riana. Ia memeluk Riana sembari berterima kasih.

__ADS_1


"Makasih bunda selalu sabar menghadapi Senja, bunda selalu menjaga Senja, makasih bunda", ujar Senja di balas anggukan oleh sang bunda.


...****************...


Senja, Semesta, Vina, Azril, dan Steven berencana untuk menyusuri sepanjang sungai saat sore. Semua tengah berkumpul di rumah Senja.


"Nanti pulang mau di masakin apa? Biar bunda yang masakin", ujar Riana sembari tersenyum.


"Duh tante jangan repot repot, tapi aku rekomendasi ayam bakar pedas ya tan", ujar Steven sembari tersenyum.


"Ye lo mah sama aja ngrepotin tolol", timpal Azril.


"Orang tante riana yang nawarin kok. Nih yah Zril pepatah bilang rezeki gak boleh di tolak",


Melihat Azril dan Steven yang tenga adu bacot pun membuat semuanya hanya menggelengkan kepala.


"Nanti bunda masakin kesukaan kalian ya", ujar Sang bunda.


"Yauda ya bun kita berangkat", ujar Senja lalu mencium tangan sang bunda.


Semua kini menaiki sepedanya kecuali Vina. Semua tidak memperhatikan Vina, mereka mengira bahwa Vina sudah menaiki sepedanya.


"Paan?", balas Senja tanpa turun dari sepedanya.


"Gua gak bisa naik sepeda", ujar Vina sembari memasang wajah yang seperti hendak menangis.


"Ehh iya ya, sorry Vin gua lupa", ujar Senja lalu turun dari sepedanya dan berjalan menuju Vina.


"Lo naik sama gua aja", lanjut Senja saat berada di depan Vina.


Vina menatap Senja lalu bergantian menatap sepeda Senja. Terlihat wajah Vina yang tengah heran dengan gadis di depan nya ini. Senja yang ikut bingung lantas menatap sepedanya dengan heran lalu menatap Vina. "Ada yang aneh sama sepeda gua?", tanya Senja di balas gelengan kepala oleh Vina. "Lah trus?", lanjut Senja.


"Gua naik mana ege, sepeda lo itu bukan sepeda kaya milik Azril, sepeda lo itu sepeda gunung", ujar Vina dengan geram. Sedangkan Senja hanya memasang wajah biasa.


"Yah trus?", balas Senja.

__ADS_1


"Lo suruh gua duduk mane? Duduk depan lagi? Duduk di bagian depan dudukan itu",


"Iya dong, emang mau duduk di mana lagi?",


"Kagak yee, mending gua di sini aja bantuin tante masak daripada pantat indah gua sakit gegara sepeda lo gak deh amit amit", ujar Vina tanpa spasi.


"Heh anak bebek, pantat lo aja kek roti gosong kok bilang pantat lo indah", timpal Steven membuat semua orang tertawa.


"Heh kutu Amazon, kek pantat lo indah aja bilang pantat gua kek roti gosong. Inget ****** lo aja masih gambar Spiderman kok ngatain Pantat gua mirip roti gosong", ujar vina sembari memasang wajah geram.


Fyi Vina ini adalah sepupu dekat Steven, ibu Steven kakak dari Ibu Vina. Sebenarnya Vin ini harus memangil Steven dengan sebutan kak, karna ibu Steven adalah kakak ibu Vina. Namun Vina berkata terus terang bahwa ia tidak menyukai ketika ia harus memanggil Steven dengan sebutan kak, karna sebutan itu menurutnya tidak cocok dengan steven.


"Heh lo gak boleh gitu anjir, lo adek gua, durjanah lo, masuk neraka lo", ujar Steven.


"Heh kutu Amazon. Lo pikir gua sudi nganggep lo kakak, najis banget ogahh", ujar Vin lalu bersendekap dada.


"Kalian berisik keburu Senja hilang nih", timpal Azril.


"Heyyy im Senjaaaaaaa", teriak Senja dengan senyum.


"Bukan Senja lo", ujar keempat manusia tersebut membuat Senja mencibirkan bibirnya.


"Gua di rumah aja, bantuin tante masak buat kalian", ujar Vina.


"Nggak usah lo gua bonceng aja, ntar lo kagak di ajak marah marah bikin story galau gini gini", ujar Azril dengan memeragakan ala ala perempuan ngambek.


"Apaan sih lo kodok Zimbabwe", ujar Vina dengan marah.


"Canda kali Vin, baperan lu ah skip",


"Nih sendal melayang masuk ke lobang pantat lo gua gak salah ya",


"Iya iya udah ah bawel lo ayok dah naik, lama gua tinggal",


"Heh kodok Zimbabwe, gua aja blom ngarah ke sepeda lo yaa monyet",

__ADS_1


"Yaudah cepet",


"Lo bacot banget sumpah


__ADS_2