Semesta Untuk Senja

Semesta Untuk Senja
SUS• •21


__ADS_3

Begitu perih melihat beberapa luka tembak yang berada di badan Semesta.


"Maafin gua, maafin gua Ta", ujar Senja sembari memegangi tangan Semesta.


"Senja, jaga diri kamu", ujar Semesta dengan lemah. "Lengan kamu pasti perih, maafin aku ya. Gak becus jagain kamu. Maafin aku. Bunda pasti kecewa sama aku karna aku udah bikin kamu terluka. Ini semua bukan salah kamu", lanjutnya.


"Kalau lo gak ngelindungin gua, ini juga ga bakal kejadian Ta, gua yang seharusnya kaya gini, bukan lo",


"Senja, dengerin aku, tatap aku. Masa depan kamu masih panjang, gapai mimpi kamu",


"Gak, gua mau lo ada di samping gua terus, gua mohon bertahan",


Tak lama kemudian Pak Asto datang dengan beberapa Siswa lain yang mendengar suara tembakan di gudang. Pak asto terkejut, darah berceceran di lantai, Senja yang menangis sembari memeluk Semesta yang telah menutup mata. Semesta di bawa dengan tandu oleh Steven dan Azril. Pak asto menghubungi Ambulans. Vina berlari memeluk Senja yang menangis. Badan Senja penuh darah. Lengan Senja yang terluka parah.


Suasana yang seharusnya tenang justru rusuh karna ada berita terjadinya penembakan.


Vina memberi air putih kepada Senja yang masih menangis sesegukan. Tak lama Kemudian Ambulans datang, Semesta, Pak Asto, Steven dan Azril ikut masuk di mobil Ambulans tersebut.


Bu wilis yang kebetulan wali kelas Senja pun kaget melihat muridnya yang terluka. Bu Wilis memeluk Senja dengan erat, mencoba menenangkan gadis tersebut. Bu Wilis meminta tolong satpam untuk menyetir mobil menuju ke rumah sakit untuk mengobati lengan Senja.


Vina pun di utus bu Wilis untuk ikut Senja ke rumah sakit. Karna gadis tersebut tidak ingin pergi ke rumah sakit untuk mengobati lukanya. Senja hanya menginginkan Semesta sembuh.


Vina mencoba membujuk Senja, namun beberapa kali Vina mencoba membujuk Senja. Senja tetap menggelengkan kepala dengan tangis yang masih sesegukan. Tak berselang lama Vina berhasil untuk membujuk Senja ke rumah sakit, dengan iming iming akan membawanya ke rumah sakit yang sama dengan Semesta.

__ADS_1


Pak Satpam, Bu Wilis, Vina, serta Senja kini sudah berada di rumah sakit. Senja segera di tangani oleh para tenaga medis. Tatapan mata Senja begitu kosong. Bu Wilis kini tengah mengabarkan berita buruk ini kepada bunda Senja. Terdengar jelas suara isak tangis bunda Senja di sebrang sana.


Melihat luka yang parah. Dokter mengatakan akan menjahit luka Senja. Karna luka Senja sangat dalam. Senja hanya diam tak mengeluarkan suara, ia hanya menginginkan kabar lelaki yang ia sayang.


Disisi lain kondisi Semesta begitu parah. Terdapat 3 tembakan tepat di bagian perut, dada, serta bahu sebelah kanan. Semesta kini tenga di ruang oprasi. Azil dan Steven duduk menunggu kabar tentang Semesta. terdapat begitu alat yang tertancap di badan Semesta. Dan beberapa dokter yang sibuk mengeluarkan pluru dari badan Semesta. Pak Asto sibuk menghubungi keluarga Semesta. Sela maupun Kevin tidak ada yang membalas telfon Pak Asto. Hingga terdengar suara patient monitor yang begitu nyaring, mengusik telinga ke 3 lelaki yang menunggu kabar Semesta.


Mereka bertiga saling bertatapan, tatapan yang seolah olah mengerti apa yang terjadi. Tangis pecah, Azril dan Steven yang awalnya tengah duduk kini berdiri dengan tangis yang pecah. ia memukul tembok berharap ini semua hanya mimpi. Ketika dokter keluar mereka seolah tidak perlu lagi penjelasan dokter. Azril segera mendorong dokter tersebut untuk menyingkir dari pintu. Terlihat beberapa perawat yang molai melepas seluruh alat yang menancap di badan Semesta.


Tangis kedua lelaki tersebut pecah, keduanya berlari memeluk Semesta. Mereka tak perduli apa yang akan di katakan oleh orang orang yang melihat nya. Sudah cukup lama mereka mengenal Semesta. Beberapa memori molai muncul di benak mereka. momen ketika mereka bersama.


...****************...


3 hari berlalu. Senja kini sadar pasca operasi lengan nya yang harus di jahit. Serta terdapat beberapa luka gores di kaki, dan juga kening nya.


"Bunda, Senja tanya loh", ujar Senja dengan cemberut.


"Sebentar bunda ada urusan kamu di sini dulu ya", ujar Riana mencoba mengalihkan topik. Ia segera keluar dari ruangan Senja di rawat. Meninggalkan Senja yang terheran karna tingkah sang bunda. Ia mengambil ponselnya dengan pelan. Karna luka di lengan nya belum kering.


Tak lama kemudian, terdapat Vina, Steven, Azril yang masuk ke ruangan Senja. Mata ketiga teman nya ini tampak sebab. Namun, mereka mencoba tetap tersenyum di depan Senja.


"Kalian kenapa? Mata kalian sebab", ujar Senja sembari mengamati mata mereka.


"Ujian Nja, kita harus begadang karna belajar. Kli nilai gua anjlok kan gua bakal di marahin", balas Vina lalu duduk di kursi sebelah ranjang Senja.

__ADS_1


"Nahh benerr tuhh kata Vina", timpal Steven.


"Kita ada bawain lo buah. Jangan lupa di makan loh, lo harus kuat", ujar Azril.


"Thanks you guys", ujar Senja.


Ketika Senja bermain ponselnya. Ia tak sengaja melihat postingan Instagram sekolah. memposting foto Semesta dengan caption "goodbye Semesta may you rest in peace above". Melihat itu wajah Senja berubah menjadi bingung. Kenapa sekolah memposting foto Semesta dengan caption sepeti itu.


"Ini kenapa sekolah posting foto Semesta sama caption kaya gini sih", ujar Senja sembari menatap ketiga teman nya dengan tatapan mata bingung.


"Senja, gua ada urusan penting gua pamit", ujar mereka lalu hendak meninggalkan Senja.


"Gua tanya kenapa? Kenapa kalian ngehindar saat gua tanya tentang Semesta. Kenapa, ada apa, jawab gua", ujar Senja dengan nada tegas.


Melihat itu air mata Vina turun, ia memeluk Senja dengan erat. Senja diam tak berkata. "Semesta, Semesta ninggalin kita semua", ujar Vina dengan berat. Wajah Senja berubah menjadi shock.


"Apasih Vin, gausah ngarang", ujar Senja dengan air mata yang turun dengan deras. Tak mempercayai ucapan Vina. Senja menangis sejadi jadinya.


"Gak, kalian pasti bohong", ucap Senja dengan air mata yang turun deras. Senja berteriak sembari menjambak rambutnya frustasi.


"Gak kalian bohong", lirih Senja. Vina memeluk Senja dengan erat. Senja hanya bisa menangis. suara tangis Senja begitu berat. Lelaki yang selama ini mengertinya. Lelaki yang selama ini menjadi bagian hidupnya kini telah meninggalkan nya. Lelaki yang menjadi bintang nya pergi.


Riana datang dan melihat keadaan ruangan itu yang penuh tangis. Seolah mengerti ia segera memeluk Senja dengan erat.

__ADS_1


"Anak bunda gak boleh nangis", ujar Riana sembari mencium kepala Senja. Mata Senja menatap mata Riana.


__ADS_2