Sesal Sampai Akhir

Sesal Sampai Akhir
Sandiwaranya Sudah Berakhir


__ADS_3

Di perjalanan hening tanpa sepatah kata yang keluar dari bibir Nara maupun Natan. Sekuat hati Nara menahan air mata yang melesak ingin keluar. Dia hanya menunduk sambil meremas jemari sambil berdoa agar segera sampai di rumah. Ingin menumpahkan rasa sesak yang menghimpit dada.


Pria yang sedang menyetir itu sesekali melirik Nara. Dia hanya menduga-duga kalau istrinya itu memiliki hubungan dengan pria bernama Gara.


Karena sejak meninggalkan halaman masjid, raut wajah dan sikap Nara berubah. Mungkin sudah terjadi sesuatu antara mereka.


Mobil berbelok ke halaman rumah, begitu mesin baru dimatikan, Nara sudah tidak sabaran untuk turun.


"Lagi galau? Ada hubungan apa lo sama pria tadi?" Natan mencekal pergelangan tangan Nara.


"Aku cuma capek. Gak ada apa-apa aku sama Mas Gara."


"Gila! Kenapa sebutan buat gue lo samain sama pria lain. Cih!" Natan berdecih tidak suka.


"Bukan cuma kamu, tapi pria yang aku kenal memang ku sebut mas. Gak sopan kalau manggil nama aja." Nara berusaha melepaskan cekalan tangan Natan.


"Tolong lepaskan peganganmu. Aku capek, mau istirahat." Wanita itu menyorot dengan permohonan. Harinya sungguh melelahkan. Tak kuasa lagi menahan air mata.


"Lo sedih gitu. Pasti ada sesuatu lo sama pria tadi." Natan tampak belum puas.


"Memangnya kenapa kalau ada sesuatu?" tantang Nara yang mulai kesal.


Natan tersenyum masam. "Impas aja. Gue sama Salsa, lo sama pria tadi."


"Maksudmu?" Nara mengernyit tidak mengerti.


"Ya impas aja. Gue sama Salsa, lo sama pria tadi."


"Lalu pernikahan kita?"


"Bisa berakhir kapanpun kalau udah nemu alasan yang tepat. Gue lagi mikirin buat perpisahan." Dengan entengnya Natan berbicara seperti itu.


"Astagfirullahaladzim." Nara menggeleng tidak percaya. Menghirup udara dalam-dalam dan meninggalkan Natan begitu saja.


"Hei, tunggu!" pekik Natan. Dia mengejar Nara dan memegang bahunya untuk menghentikan langkahnya.


"Mas!" Nara menatap dengan kesal.


"Gue mau makan nasi goreng. Buatin!" titahnya.


Nara menaikkan sebelah alisnya. "Aku yang suruh buatin?" ulangnya untuk memastikan. Aneh saja, baru kali ini Natan menyuruhnya untuk memasak. Biasanya juga Bi Inem.


"Ya elo lah. Masak makhluk halus," jawab Natan sedikit keras.

__ADS_1


Meski lelah, tapi entah kenapa Nara tak bisa mengabaikan perintah dari pria itu.


Nara menyiapkan bahan untuk membuat nasi goreng. Mengiris kol, mengambil udang dan daging ayam untuk campuran. Bahkan pria itu meminta tambahan telur mata sapi setengah matang. Mengherankan, tapi dia tak ingin banyak tanya.


"Abis di goreng, ayam sama udangnya dikasih kecap asin."


Nara mengernyit. Benar-benar aneh dengan permintaan pria itu.


"Kok dikasih kecap asin? Gimana rasanya?"


"Gue maunya gitu. Kerjain aja gak usah bawel!"


Nara mengembus napas kasar, lalu meracik lagi sesuai permintaan suaminya.


Ketika mulai menumis bumbu, Nara batuk-batuk.


Tak lama dari itu ada setetes darah dari hidungnya. Dia diam memperhatikan. Kenapa mimisan? Padahal sebelumnya tidak pernah mimisan.


Natan mendekat dan mematikan kompor. "Lo bego apa tolol?! Bisa gosong gini. Apa mau buat rumah ini kebakaran?!" sentaknya keras.


Nara tersadar, sekaligus terkejut. Bumbu yang ditumis tadi sudah berubah menghitam. "Maaf-maaf," ucapnya dan mengambil tisu untuk mengelap tangannya yang masih ada noda darah.


"Lo kenapa?" titik penglihatan Natan pada ujung hidung Nara yang masih mengeluarkan cairan merah.


"Aku buatkan yang baru," ucapnya.


"Gak usah. Mending lo istirahat aja. Gue bangunin Bi Inem."


Natan sudah hampir beranjak, tapi dicegah Nara. "Jangan dibangunkan. Bi Inem juga pasti capek. Biar aku lanjutkan aja."


Natan kembali duduk di kursi samping meja dapur, memperhatikan Nara yang kembali menyiapkan bumbu ulek. Dia pun bingung, entah kenapa malam itu tiba-tiba menginginkan nasi goreng buatan Nara.


Meski tahu Nara kelelahan, tapi tak bisa menahan hasratnya untuk makan nasi goreng buatan wanita itu.


Tak sampai dua puluh menit, Nara sudah menyelesaikan masakannya. Nasi goreng dengan harum bawang goreng yang masih mengepulkan asap, langsung di menghidangkan di depan Natan.


Natan yang tidak sabaran segera mengambil sepucuk sendok dan mulai mencicipinya. 'Enak banget,' batinnya.


Tanpa menawari, dia sudah menyendok dengan lahap. Tak sampai lima menit sudah tandas licin.


"Nasi goreng buatan lo lumayan," ucapnya ketika Nara baru kembali dari mengambil minum. Wanita itu kaget melihat nasi goreng di piring Natan tak tersisa sedikitpun.


Setelah meminum segelas air putih. Natan bangkit. "Besok pagi buatin sarapan nasi goreng kayak gini lagi," ujarnya sebelum pergi.

__ADS_1


Nara tersenyum samar dan membereskan sisa piring untuk dicuci sekalian. Seusai itu dia juga pergi ke kamarnya.


Pintu kamar ditutup, Nara menghela napas panjang. Ketika sendirian, apa yang tadi terjadi teringat kembali.


"Maafkan aku, Mas Gara," gumamnya dengan mata terpejam. Wajah kecewa Gara kembali terlintas. Jikapun suatu saat nanti berpisah dengan Natan, akankah pria itu masih mau menerima dirinya?



Pagi hari Nara bangun lebih awal untuk menyiapkan pesanan yang diinginkan Natan semalam. Bi Inem menawarkan untuk membantu, tapi dilarangnya.


Natan baru turun, dia melihat papanya sudah duduk di meja makan. "Selamat pagi, Pa," sapanya.


"Pagi."


"Semalam pulang jam berapa? Papa sudah tidur duluan," ujar Abimana.


"Sekitar jam setengah sebelas." Natan menyeruput teh yang sudah ada di depan mejanya. Biasanya memang Bi Inem yang menyiapkan lebih dulu.


"Mas, nasi gorengnya udah aku bikin." Nara menaruh mangkuk kaca besar berisi nasi goreng seperti semalam.


"Keknya gak sempet sarapan, sayang. Dibuat bekal aja."


Deg! Nara sampai menghentikan tangan yang sedang menuang air putih. Apa barusan Natan memanggilnya dengan sebutan sayang?


"Ekhem!" Abimana sampai berdehem. "Apa sudah sedekat itu hubungan kalian? Bukannya kemarin saling mengacuhkan?"


Natan mengusap tengkuk, berpura-pura salah tingkah. 'Sialan! Aku terpaksa harus melakukan sandiwara menjijikan ini,' batinnya.


"Menurut Papa? Natan hanya berusaha untuk berubah secara perlahan." Pria itu tersenyum ke arah Nara untuk memperkuat akting sandiwaranya.


Abimana mengangguk dengan wajah lega dan senyum bahagia. Berusaha mempercayai ucapan Natan.


"Benar. Berubah secara perlahan, lama-lama kalian akan saling mengenal dan jatuh cinta," seloroh pria paruh baya itu melihat Natan dan Nara bergantian.


Nara sendiri tersenyum kaku. Menatap bingung pria yang baru saja menghabiskan secangkir tehnya.


Kelengkapan sandiwara Natan ketika mencium kening Nara di depan papanya. Abimana semakin tersenyum puas.


Namun, setelah mobil papanya pergi. Natan mendorong tubuh Nara menjauh.


"Mas!" Nara memekik kaget.


"Sandiwaranya udah berakhir!" ucap Natan dingin. Dia membanting kotak bekal yang disiapkan Nara hingga berantakan.

__ADS_1


Nara kembali terkejut melihat aksi pria itu.


__ADS_2