
"Lo yang lapor sama papa. Hah?!" sentak Natan dengan suara tertahan. Mungkin jika Abimana tidak menginap dirumahnya, dia akan memarahi Nara dengan bentakan keras.
Natan sangat marah dan menyalahkan Nara yang memberitahu Abimana. Padahal gadis itu juga tidak tahu sama sekali.
"Enggak, Mas. Aku sama sekali enggak bilang apapun sama papa." Bukan menyangkal tapi memang itu kenyataanya.
"Alah! Kalau bukan lo yang ngadu, terus papa tau darimana?!" Natan belum terima dan masih menyudutkan Nara. Padahal dia tahu, Nara sudah sangat ketakutan tapi rasa marah itu tak bisa ditahan.
"Waktu aku pulang, papa udah disini. Mungkin Bi Inem yang bilang." Sama halnya dengan tadi, Nara meremas jari tangan yang berkeringat dingin. Tatapan tajam Natan membuatnya takut dan gugup.
"Mana mungkin Bi Inem berani bilang. Jangan melimpahkan kesalahan pada orang lain!" Pria itu mengusap wajah dan mendesah frustasi.
"Sial! Kenapa papa pakek nginep segala! Gue gak bisa bebas. Agrrh!" geramnya. Dia beralih melirik Nara. "Badan gue sakit! Lo ganti tidur di sofa!"
"I-iya," jawab Nara yang masih berdiri kaku. Bernapas pun terasa sulit. Natan memang dingin, tapi dia belum pernah melihat suaminya itu begitu marah.
Setelah Natan merebahkan diri di ranjang, Nara pun bersiap tidur di sofa. Dia tahu tempat itu tidak nyaman, tapi tak ada pilihan lain. Meski rasa kantuk belum datang, kedua matanya dipaksa memejam.
•
Pagi hari, sangat canggung bagi Nara harus melihat Natan keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit bagian privat.
Pria itu masuk ke ruang ganti dan tak berapa lama sudah keluar dengan pakaian rapi.
"Gue mau, di depan papa nanti kita pura-pura mulai dekat!" ucap Natan, tapi lebih ke sebuah perintah.
Nara mengangguk.
"Mulai kek orang dungu! Aih, bego!" gumam Natan.
"Mas, tolong jangan bicara seperti itu. Ucapan adalah doa, sama saja kamu mendoakan aku dengan keburukan!" Nara berani menyentak Natan karena pria itu menurutnya sudah kelewatan.
Natan merespon dengan lirikan meremehkan. "Ya bagus kalau keburukan itu menimpamu, biar ada alasan kita berpisah."
"Astagfirullah. Kalau memang kamu ingin kita berpisah, aku akan bilang pada papa. Gak perlu kamu mendoakan keburukan untukku."
__ADS_1
"Gak usah aneh-aneh! Itu malah buat masalah tambah besar! Kalau lo berani ngadu yang macam-macam, liat aja gue bakal bikin hidup lo sengsara!" Tatapan mereka beradu. Natan dengan kemarahan, sementara Nara dengan kesedihan.
Natan memutus lebih dulu. Pria itu berbalik dan menendang sofa sampai berderit keras.
Jantung Nara bergemuruh. Dia pun tidak menginginkan perjodohan itu, tapi berusaha untuk menjalani. Sementara Natan seolah terus menyalahkannya.
"Ya, sayang?"
[Sebelum ke kantor, kamu mampir ke rumah dulu kan?]
"Gak bisa, sayang. Sementara ini papa tinggal di rumahku, aku gak bisa bebas. Kita harus berhati-hati."
Dulu Natan pernah mengenalkan Salsa kepada Abimana, tapi entah apa alasannya, Abimana tidak merestui hubungan mereka. Pria paruh baya itu menyuruh Natan menjauhi Salsa sekaligus tidak membolehi anaknya berkencan dengan wanita lain.
Dan ternyata jodoh Natan sudah dituliskan sejak kecil.
[Cari alasan supaya kita masih bisa bertemu. Aku gak bisa jauh darimu, Natan. Kepalaku masih sering pusing.]
"Akan aku usahakan. Kalau pusing, jangan lupa minum obatnya. Apa aku suruh seseorang untuk menemanimu? Aku khawatir terjadi sesuatu padamu."
"Bersihin air mata lo. Kita turun sekarang!" sentakan Natan membuat Nara membersihkan air mata dengan cepat. Dia tak ingin diremehkan dungu dan bego' lagi, segera mengusap air mata hingga bersih. Lalu mengikuti langkah suaminya untuk turun ke lantai bawah.
Di meja makan sudah ada Abimana sedang membaca koran bisnis. Di depan pria itu ada kopi yang masih mengepulkan asap dengan harum khas memenuhi udara sekitar.
"Pagi, Pa,"
"Selamat pagi, Pa."
Natan dan Nara hampir bersamaan menyapa Abimana.
"Pagi."
"Pagi, Nara. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" Abimana melihat Natan dan Nara bergantian. Putra dan menantunya memang sudah tidur sekamar, akan tetapi dia belum yakin bila sudah terjadi sesuatu dengan keduanya.
Nara tersenyum canggung. "Iya, Pa, nyenyak."
__ADS_1
"Papa berharap hubungan kalian membaik dan bisa lebih dekat," ujar Abimana melihat Natan dan Nara bergantian.
"Natan akan berusaha, Pa." Pria itu tersenyum ke arah Nara. Untuk pertama kalinya. Tentu saja senyum pura-pura. Hanya untuk akting.
Setelah menyelesaikan sarapan, Natan mengajak Nara untuk berangkat bersama. Nara jelas terkejut, tapi segera ingat bahwa mereka harus pura-pura dekat. Lalu dia mengikuti langkah Natan.
"Natan, segera kamu urus pembelian kafe itu. Biar Nara tidak lagi menjadi pelayan kafe!" pesan Abimana yang di angguki oleh Natan.
"Hari ini jadwalku padat, Pa. Kemungkinan besok baru bisa datang ke sana dan mengurus semuanya."
Abimana menghela napas dan mengangguk pelan. "Tidak papa, yang penting jangan sampai lebih dari satu minggu. Papa tidak enak kalau mertuamu tau."
"Kita berangkat dulu, Pa." Natan mencium punggung tangan Abimana dan gerakannya diikuti oleh Nara. Setelahnya mereka berangkat lebih dulu, barulah Abimana juga bersiap sendiri ke kantor.
Abimana mengurus kantor utama, sementara Natan mengurus kantor yang baru. Maka dari itu Natan maupun Abimana jarang bertemu.
"Mas, aku rasa tidak perlu sampai membeli kafe itu. Aku malah bingung harus gimana. Biar aku tetap jadi pelayan saja." Nara mengutarakan kerisauannya. Dia yang hanya lulusan SMA, tidak memiliki kemampuan untuk mengurus kafe.
"Gue juga aslinya males buang-buang waktu buat urus begituan. Saham gak seberapa, tapi nyita waktu," ujar Natan dengan wajah kembali dingin.
"Tapi lo tau sendiri itu perintah dari papa, kalau gue gak nurutin, gue juga yang kena imbas. Merepotkan!" desisnya kesal.
Nara menunduk. Kalimat yang diucapkan Natan mampu melukai perasaanya. *Merepotka*n. Keberadaannya merepotkan suaminya sendiri.
Belum selesai dengan kesedihannya, tiba-tiba Natan menepikan mobil di pinggir jalan.
"Tunggu bentar, ada yang mau gue beli," ujar Natan dan langsung turun begitu saja.
Nara memperhatikan suaminya yang menuju penjual bubur ayam.
'Bukanlah tadi udah sarapan? Terus beli bubur buat siapa?' batinnya.
Tak berapa lama Natan sudah kembali dengan menenteng plastik yang langsung ditaruh kursi belakang.
"Mampir bentar ke rumah Salsa."
__ADS_1
Deg! Nara menoleh cepat. Bagaimana bisa Natan mengajaknya ke rumah wanita yang notabene adalah pelakor.