Sesal Sampai Akhir

Sesal Sampai Akhir
Mengejutkan


__ADS_3

"Bagaimana Dok?" Tirta bertanya kepada dokter yang baru selesai menangani Nara.


"Dugaan sementara pasien kelelahan. Untuk hasil yang lebih akurat, bisa dilakukan pemeriksaan secara keseluruhan dengan pengambilan sampel darah," jelas dokter.


Tirta mengangguk. "Nanti akan saya tanyakan, mau diambil sampel darahnya atau tidak."


"Nanti konfirmasi saja dengan perawat. Untuk sementara ini biarkan pasien istirahat, kalau dua cairan infus sudah habis dan kondisinya membaik, baru bisa pulang."


"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Tirta.


"Sama-sama. Saya permisi."


"Silahkan."


Setelah dokter berlalu pergi, barulah Tirta masuk ke dalam. Di atas brankar rumah sakit, Nara terbaring dengan kelopak mata terpejam. Tak tega melihat gadis yang disukai tergolek lemah.


"Pak Tirta." Ternyata Nara tidak tidur, saat Tirta melangkah pelan dia bisa mengetahui.


"Istirahat aja, Ra." Tirta duduk di sofa samping Nara berbaring. "Kata dokter kamu kelelahan, butuh banyak istirahat."


"Dengan tiduran gini sama aja istirahat, Pak."


"Kita cuma berdua, Ra."


Nara mengerjap, dia tahu maksud kalimat Tirta. Jika mereka tidak berada di wilayah kafe, tidak perlu berbahasa formal.


"Makasih, Mas, sudah menolong dan membawaku ke rumah sakit."


Tirta tersenyum. "Bukan hal besar, gak perlu berterima kasih. Dengan siapapun kita diwajibkan tolong menolong."


"Ohya, dokter bilang harus mengambil sampel darah untuk mengetahui penyakitmu. Kamu mau tidak?"


"Gak usahlah, Mas. Mungkin memang cuma kecapean aja."


Melakukan cek keseluruhan membutuhkan banyak biaya, sedangkan uang sisa gaji bulan lalu cuma tinggal sedikit. Menggunakan uang nafkah dari Natan, tidak mungkin. Dia sudah mengatakan tidak akan memakainya.


Lagian, mungkin saja dia memang hanya kelelahan dan butuh istirahat.


"Nara, sorry banget, sebenarnya aku ingin menemanimu. Tapi ini masih jam kerja, aku harus kembali ke kafe," ucap Tirta.


"Oh iya Mas, gak papa. Saya nanti bisa pulang sendiri."


"Jangan, Nara. Kamu lagi sakit begini, gimana bisa pulang sendiri? Em, sebaiknya kamu hubungi keluargamu dulu. Kalau sudah ada anggota keluarga, aku sudah tenang untuk meninggalkanmu."

__ADS_1


Anggota keluarga? Siapa yang mau dihubungi? Natan? Dia tidak memiliki nomornya. Bi Inem juga tidak punya.


Satu-satunya nomor yang tersimpan adalah Pak Rohim. Tapi, Nara tidak ingin membuat ayahnya khawatir.


"Gak papa, Mas, aku bisa pulang sendiri nanti."


"Aku gak bisa pergi kalau salah satu keluargamu belum datang, Ra."


Setengah paksaan itu membuat Nara memilih menghubungi nomor ayahnya.


Sampai tiga puluh lima menit kemudian, Pak Rohim datang dan menemui putrinya.


"Assalamualaikum, Nara," ucap Pak Rohim ketika membuka pintu kamar rawat Nara.


"Walaikum salam, Bapak."


Pak Rohim segera mendekat. "Kamu sakit apa, Nak?" Wajah tuanya dibalut kekhawatiran.


Nara mencium telapak tangan ayahnya dan berusaha tersenyum. "Nara gak papa, Pak. Kata dokternya cuma kecapean aja."


"Bapak khawatir, takut kamu kenapa-napa."


Pak Rohim melirik ke arah Tirta. Tadi terlalu khawatir dengan keadaan putrinya sampai tidak fokus dengan keberadaan orang lain.


Pak Rohim mengangguk, mengerti. "Saya Rohim, ayahnya Nara." Pria paruh baya itu memperkenalkan diri. Karena baru pertama kali bertemu.


"Saya, Tirta. Atasannya Nara."


"Terima kasih sudah menolong anak saya," imbuh Pak Rohim.


"Iya, Pak. Itu sudah tanggung jawab saya."


Brak! Pintu kembali dibuka, membuat tiga orang itu mengarah ke sumber suara. Pria berjas hitam dengan raut panik segera mendekat.


Tiba-tiba Natan mencium kening Nara dan mengusap pipinya dengan lembut. "Bagaimana keadaanmu, Sayang? Aku sangat khawatir. Tadi pagi sudah kubilang jangan pergi, tapi kamu keras kepala," cerocos Natan dengan sorot mata fokus pada Nara. Tidak melihat wajah Pak Rohim apalagi Tirta.


Tirta sendiri yang menyaksikan itu sampai membatu. Apa yang dilihat membuatnya sangat terkejut.


Nara tak bisa berkata-kata. Sandiwara Natan barusan seperti serangan mendadak.


"Pak, aku sangat khawatir dengan istriku, sampai lupa dengan Bapak." Natan beralih menyalimi Pak Rohim untuk menyempurnakan sandiwaranya.


Pak Rohim tersenyum dan menepuk bahu Natan beberapa kali dengan pelan. "Tidak papa, Natan. Nara cuma kecapean. Dia memang susah dibilangin. Benar katamu, dia itu keras kepala."

__ADS_1


"Aku sudah bilang agar dia berhenti bekerja di kafe, tapi dia gak mau, Pak."


Mendengar itu, Nara memutar bola mata, jengah. Kenapa seperti adegan anak yang melapor pada ayahnya.


Dilain itu, Tirta masih bungkam dengan apa yang dilihat. Gadis yang disukai dalam diam, ternyata istri dari pria lain. Mengejutkan! Benar-benar mengejutkan.


"Natan, dia atasan Nara, dan dia juga tadi yang mengantar Nara ke rumah sakit," ujar Pak Rohim memberitahu pada Natan.


"Saya, Natan, suami Nara. Terima kasih sudah menolong istri saya," ucap Natan memperkenalkan diri dan pura-pura berterimakasih.


Sebenarnya bukan status mereka saja yang membuat Tirta terkejut, tapi pria yang menjadi suami Nara lah yang membuatnya syok. Dia ingat siapa pria itu. Pria yang sudah memiliki kekasih bernama Salsa.


Atau, mungkin saja pria itu punya kembaran?


"Ya, kita pernah bertemu. Bukankah Anda sering singgah di kafe," ujar Tirta.


"Ohya, beberapa kali memang sempat singgah di kafe Anda," jawab Natan dengan tersenyum kaku. Sempat khawatir kalau pria itu akan membongkar sandiwaranya.


"Maaf, saya harus kembali ke kafe." Tirta beralih pada Nara untuk berpamitan. "Semoga lekas sembuh, Nara. Tidak usah buru-buru masuk kerja, istirahat saja yang cukup."


"Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih," ucap Nara.


"Saya permisi." Tirta melangkah keluar ruangan. Dia terdiam di depan pintu dengan dada bergemuruh. Kenyataan yang sulit diterima. Ternyata gadis yang selama ini disukai, sudah menikah. Bahkan pernikahan mereka banyak kejanggalan.


Di dalam ruangan, Natan masih memerankan sandiwara dengan baik. Sempat menyuapi makanan dan memberi perhatian lebih. Sampai akhirnya Pak Rohim berpamitan untuk pulang lebih dulu.


Natan menawari untuk mengantarkan pulang, tapi Pak Rohim menolak. Alasannya Nara lebih membutuhkannya. Akhirnya Natan hanya memesankan taksi online.


Setelah Pak Rohim pergi, tatapan Natan mulai berubah. "Nyusahin aja!" gerutunya yang masih bisa di dengar baik oleh Nara.


"Aku gak kabarin kamu, Mas. Aku juga gak suruh kamu datang," balas Nara.


"Bokap lo telpon gue. Di kabarin lo masuk rumah sakit, masak gue gak dateng." Dia menjatuhkan diri di sofa bekas Tirta tadi. "Taunya cuma karna kecapean aja. Kirain serius," imbuhnya.


'Sabar, Nara. Sabar,' batin Nara.


"Maaf kalau udah nyusahin. Sekarang Mas bisa pergi."


"Lo ngusir gue?" Natan mendelik.


Nara sendiri menghela napas. Sebenarnya apa maunya pria itu.


"Percuma, rapat udah gue batalin. Semua jadwal hari ini gue cancel. Seenaknya lo ngusir gue!" sengaknya.

__ADS_1


__ADS_2