
Cukup lama Nara di rumah sakit, bahkan dia sempat membawa Abimana berjemur dibawah mentari pagi. Tentu saja apa yang dilakukan sudah seizin dari dokter. Dengan telaten Nara juga menyuapi papa mertuanya dengan bubur yang dibeli sebelum ke rumah sakit tadi.
"Oh ya, Pa, maaf Nara sampek lupa belum mengabari bapak kalau papa sekarang sudah dirawat di sini. Nanti Nara sempetin mampir ke rumah bapak, biar bapak langsung jenguk papa." Meski Abimana tidak bisa menjawab perkataannya, namun Nara tetap mengajaknya berbicara. Dan Abimana merespon dengan anggukan kepala juga kedipan mata. Bahkan sesekali mulutnya mengeluarkan suara yang tidak jelas.
"Nara suapin lagi, Pa." Nara mengangkat sendok berisi bubur di depan mulut Abimana, dengan telaten wanita itu menyuapi papa mertuanya.
Abimana tampak kesusahan membuka mulut, hingga sebagian bubur justru tumpah dan belepotan disekitar mulutnya. Meski begitu Nara tidak marah sama sekali, dia membersihkannya dengan tisu.
Sudut mata Abimana sampai berkaca-kaca mengamati wajah Nara. Begitu tulus menantunya itu merawatnya. Dalam hati bersyukur dan merasa sangat beruntung putranya bisa berjodoh dengan wanita sebaik Nara.
Saat ini tidak hanya Abimana yang menilai kebaikan wanita itu, ada seseorang yang dari tadi mengamati mereka.
Natan. Ya, pria itu berdiri di kejauhan dan cukup lama mengawasi interaksi Nara dan papanya. Kali ini benar-benar tersentuh dengan apa yang dilakukan istri pertamanya itu. Dia yang sebagai anak kandung, mungkin tidak bisa merawat papanya sebaik Nara. Yang dengan sabar mau menemani juga menyuapi Abimana.
__ADS_1
Kini dia baru sadar jika pilihan kedua orang tuanya sudah benar, tapi justru pilihan hatinya yang salah. Salsa, akhir-akhir ini istri sirinya itu sangat menyebalkan. Sebelum meninggalkan rumah, kembali dia beradu mulut dengan wanita itu karena tidak mau membuatkan kopi dan sarapan.
"Kamu dari jam berapa ke sini, sayang?" Natan menghampiri mereka dengan sebuah senyuman.
Sapaan itu membuat Nara terkejut, karena sama sekali tidak mengetahui kedatangan Natan. Dan ... lebih terkejut lagi saat pria itu mendekatkan wajah untuk mengecup keningnya dengan durasi beberapa detik. Terasa hangat menjalar ke seluruh tubuh.
"Sebelum jam 6 aku udah ke sini, Mas. Maaf gak bangunin kamu, kelihatan capek banget jadi gak tega mau bangunin," jawab Nara. Dia juga mengembangkan senyuman.
"Papa udah enakan?" Natan beralih menanyai papanya. Pria yang duduk di kursi roda itu mengangguk pelan.
Setelah dari rumah sakit, Natan mengantar Nara ke tempat kerja. Di perjalanan mereka diam satu sama lain sampai Natan berucap. "Sorry kalau selama ini gue gak ngertiin posisi lo. Gue jadi suami gak adil. Sekarang mau lo gimana?"
Nara menoleh. "Maksudnya?"
__ADS_1
"Apa lo nuntut gue buat adil?"
Kening Nara semakin mengernyit. Lalu menggeleng. "Aku gak ada nuntut apapun. Pernikahan kita hanya sebatas perjodohan, aku gak bisa nuntut apapun termasuk perasaanmu."
"Lo bisa nuntut. Gue akan coba buat adil."
Nara terkesiap mendengar itu. Ada apa dengan suaminya itu? Tiba-tiba berbicara yang tidak biasanya. Wajahnya pun terlihat serius.
"Hem, itu baik, Mas. Tapi aku udah memutuskan kalau papa sudah sembuh lebih baik kita akhiri pernikahan ini."
Deg!
Natan reflek menginjak pedal rem dan mobilnya terhenti mendadak.
__ADS_1
"Lo gak bisa ambil keputusan sepihak!" tolak Natan. Pria itu menatap tajam.