
Sesampainya di kafe, wanita itu menuju loker untuk menyimpan tas dan mengambil pakaian kerjanya. Dia sempat diam beberapa saat dan menatap dirinya lewat pantulan cermin yang ada di toilet.
Miris mengingat kejadian yang dialaminya tadi. Alih-alih mendapat seorang imam rumah tangga yang dapat menuntunnya dalam kebaikan, justru mendapat suami yang sama sekali tidak menghargainya.
Nara mengusap air mata yang kembali jatuh tanpa permisi. Dia tidak menyalahkan orang tua yang secara tidak langsung menyeretnya dalam takdir memilukan, akan tetapi dia menyalahkan diri, kenapa terus terpikirkan keadaannya. Membuatnya tidak fokus dan semakin terpuruk.
Ketika jam kerjanya baru dimulai, dia di panggil temannya untuk mengantar pesanan ke meja paling ujung, dekat jendela kaca paling besar.
Terlihat punggung pria dalam posisi memunggungi, jadi Nara tidak jelas melihat pria itu.
Nara berjalan pelan ke arah pria itu dengan membawa makanan yang dipesannya beberapa saat lalu.
"Selamat pagi. Ini pesanan Anda, silahkan dinikmati," ucapnya berusaha ramah. Tuntutan dari pekerjaannya yang mengharuskannya bersikap ramah tamah kepada pengunjung kafe.
Sosok pria berwajah teduh itu mendongak. Tersenyum sambil berkata, "terima kasih ...."
"Nara?" Pria itu terkejut, tapi Nara lebih kaget lagi dengan sosok pria dihadapannya.
"Mas Gara."
Nara hampir menangis dengan sebuah kerinduan yang telah lama terpendam. Namun, mengingat statusnya sudah menjadi istri dari pria lain, dia tersadar dengan kenyataan bahwa rindunya tidak akan pernah tersalur.
Dulu, dia memendam rindu dengan harapan masih bisa tergapai. Namun sekarang, alih-alih tergapai, bahkan dia diharamkan untuk memendam rindu untuk pria lain.
"Gimana kabarmu, Nara?"
"Alhamdulillah, baik, Mas. Kamu sendiri?" Nara membalikkan pertanyaan, sambil tangannya menurunkan makanan di depan pria itu.
"Aku juga, baik." Pria itu tersenyum manis. Membuat Nara beristigfar.
Dulu, Nara sangat menyukai senyuman itu, tetapi lagi-lagi dia diharamkan untuk itu.
"Kapan kamu pulang, Mas?" Nara berusaha mengalihkan tentang perasaanya.
"Kemarin malam baru sampek, tadi ini lewat rumahmu sepi," ujar Gaka.
"Ra! Kerja, jangan ngobrol!" Tirta menegur dengan tegas. Tatapannya tidak suka. Bukan tidak suka dengan gadis yang disukai, tetapi lebih ke Nara yang mengobrol dekat dengan seorang pria. Yang sialnya pria itu juga tidak kalah tampan darinya, bahkan terlihat sedikit muda.
"Iya, Pak, maaf," ucap Nara menunduk, sebagai permintaan maafnya.
"Maaf ya Ra, gara-gara aku, kamu jadi kena tegur. Kamu pulang jam berapa, aku bisa jemput kamu mumpung aku belum kembali ke Mesir."
Gara memang sedang menempuh pendidikan S2 di negeri dengan sebutan 'the gift of Nile' Dan saat ini bertepatan sedang pulang karena libur semester.
Nara melihat Gara ragu, hingga pria itu mengartikannya dengan berbeda.
__ADS_1
"Aku akan mengajak Dina, biar kita terhindar fitnah," lanjutnya.
Nara menghela napas. Inilah sisi perbedaan Gara dengan Natan, pria itu sangat menjaga fitnah dan zina. Sementara suaminya sendiri justru mengunggulkan zina.
"Maaf, Mas, gak bisa."
Gara menatap memaklumi, dia yang mengenal Nara dari kecil hapal jika wanita itu sangat menjaga diri.
"Sehabis isya, ada pengajian di Masjid Al-Ikhlas, kalau bisa, datang ya. Di halaman rumah Allah, kita akan terhindar dari pandangan buruk orang-orang. Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Itu terakhir sebelum aku kembali ke Mesir."
"In Sya Allah, Mas."
•
Setelah pembicaraan dengan Gara, Nara meminta izin sebentar untuk pergi ke toilet. Bukan karena tuntutan hajat, akan tetapi dia sedang meluapkan rasa sesak.
Dia ingin menjadi gadis dan istri baik meski diabaikan oleh suaminya. Namun, kemunculan Gara sesaat lalu seolah menebalkan rasa sesal yang kian menyiksa.
Jika keadaan masih seperti dulu, tentu hatinya akan sangat senang dengan tawaran Gara yang mengajaknya untuk lebih lama bertemu. Namun keadaan sudah berbeda. Hingga yang tertinggal hanya sesal dan sesak.
Seharian Nara tidak fokus, teringat kelakuan suaminya di rumah Salsa, juga pertemuannya dengan Gara.
"Ra, hari ini kamu banyak melakukan kesalahan."
"Sekali lagi maafkan saya."
"Gak papa hari ini pulang cepat, mungkin kamu butuh istirahat."
"Saya tidak enak, Pak."
"Tidak papa, Arini yang akan merangkap shiftmu."
Nara menuju ruang ganti dan berpamit pulang. Senja keemasan menemani perjalanannya menuju halte bus.
Tiba-tiba teringat dengan ucapan Gara dan memutuskan untuk pulang ke rumah bapaknya.
Pak Rohim terkejut melihat putrinya datang.
"Kamu kok sendirian, Nak? Mana Natan?" tanya Pak Rohim yang hanya melihat Nara datang sendirian tanpa suaminya.
"Nara tadi dari kafe, Pak, langsung mampir kesini," jelasnya.
"Sudah ijin suamimu?"
Nara gugup dan gelagapan, masih bungkam untuk memikirkan jawaban.
__ADS_1
"Bapak tau, kamu tidak akan pergi tanpa ijin dari suamimu. Masuk dan bersih-bersih dulu sebelum magrib."
'Maafkan Nara, Pak.'
Beberapa saat berikutnya, azan magrib berkumandang dari Masjid Al-Ikhlas. Pak Rohim dan Nara jalan bersama menuju bangunan megah itu.
Selesai salat magrib, Nara dan Pak Rohim mendengarkan tausiah. Setelahnya, dikesempatan itu, kini Nara dan Gara duduk berjarak di serambi Masjid.
"Nara, lama aku menempuh studi, setengah pikiranku ada disini." Gara memulai pembicaraan serius. Dia tak ingin menyiakan kesempatan, karena waktu akan berputar dengan cepat. Sebelum itu terjadi, dia harus segera mengutarakan niatnya.
Nara diam menunggu kelanjutannya.
"Apa kamu tau, siapa yang aku pikirkan?"
Meski ingin, tapi Nara tetap tak mau memandang Gara. Seburuk-buruk suaminya, dia tetap ingat dengan statusnya.
"Kamu, Ra. Aku selalu terpikirkan denganmu."
Deg! Tubuh Nara menegang. Apa maksud perkataan Gara.
"Bahkan dikesempatan ini aku memantapkan hati untuk mengkhitbahmu, Ra."
Tubuh Nara kembali menegang. Biarkan kali ini dia melanggar batasan untuk menatap mata Gara.
Jika keadaanya masih sama seperti dulu maka dengan bahagia akan mengangguk dan menjawab 'iya'.
Nara menunduk, menyembunyikan air mata. Bagaimana dia harus menjelaskan keadaanya.
"Nak, itu kamu sudah dijemput suamimu."
Perkataan Pak Rohim membuat keduanya menatap ke depan. Seorang pria tampan yang masih berbalut jas biru tua itu melangkah mendekat.
"Mas Natan," ucap Nara lirih.
"Bapak menelpon, bilang kamu pulang kesini. Jadi aku menyusulmu." Natan tersenyum hangat, seolah menunjukan jika dia suami perhatian dan penuh kehangatan.
Nara mencari kesempatan untuk mengusap air matanya.
Natan melihat Nara dan Gara bergantian. Hal itu diartikan oleh Pak Rohim jika Natan ingin mengetahui siapa pria berkopiah putih itu.
"Natan, ini Gara, dia teman Nara sewaktu kecil," ucap Pak Rohim memperkenalkan.
Lalu beralih pada Gara. "Nak Gara, ini Natan, suami Nara."
Terlihat sekali perubahan di wajah Gara yang kecewa. Sebelum Nara memberinya jawaban tentang perasaanya, tapi sudah terpatahkan dengan kenyataan.
__ADS_1