
Pukul sebelas malam Nara keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur. Tepat saat itu Natan sedang menaiki anak tangga dengan membopong tubuh Salsa.
"Dia kenapa, Mas?" Nara reflek bertanya. Penasaran, kenapa Salsa sampai harus digendong.
"Tadi ketiduran, gak tega mau bangunin," jawab Natan dengan suara pelan.
Nara hanya membulatkan mulut dan melanjutkan untuk menuruni tangga. Akhir-akhir ini sering menghela napas, menetralkan dan menguatkan diri sendiri.
Walau diantara mereka tak memiliki perasaan, namun tak seharusnya Natan selalu mengumbar kebersamaan dengan Salsa. Sama saja melukai kodratnya sebagai istri. Bahkan dirinya tak pernah disentuh oleh pria itu, melainkan disaat terjadinya insiden tak terduga di waktu pagi itu saja.
•
Pagi hari, Bi Inem membawa tas besar terlihat tergesa-gesa menuju pintu keluar. Nara yang mengetahui itu segera mencegat langkahnya.
"Bi Inem mau kemana?"
Wanita paruh baya itu membalikkan badan menghadap Nara, yang ternyata menuju ke arahnya.
"Bibi mau pulang, Non. Semalam dapet telepon dari kampung kalau cucu Bibi masuk rumah sakit. Bibi sudah bilang sama Tuan mau izin pulang," jawab Bi Inem.
"Bibi izin pulang?" ulang Nara dengan sedih. Kalau Bi Inem pulang kampung, kini hanya tinggal mereka bertiga. Dia, Natan, dan Salsa. Sementara dua asisten lainnya sudah mengundurkan diri dari bulan sebelumnya.
"Non yang sabar dan jaga diri baik-baik. Bibi belum bisa temenin Non. Setelah cucu Bibi sudah membaik, Bibi akan segera kembali. Non yang kuat, ya." Bi Inem memandang Nara dengan sudut mata berkaca-kaca. Tak tega dan kasihan, karena dia tahu bagaimana Nara menjalani kehidupan di rumah itu.
Jika bukan karena keadaan darurat, dia pun enggan untuk kembali ke kampung. Apalagi dia tahu akhir-akhir ini Nara sering mengeluh pusing.
"Iya, Bi. Makasih. Insya Allah, saya baik-baik saja." Nara merangkul tubuh Bi Inem tanpa rasa enggan. Dia menganggap wanita paruh baya itu bukan sekedar asisten saja, tapi sudah seperti kerabat sendiri.
"Bibi tunggu sebentar!" cegahnya. Dia meninggalkan Bi Inem dan menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarnya. Dan tak berapa lama kembali dengan memegang amplop putih.
"Ini ada uang sedikit, Bi, mudah-mudahan bisa membantu biaya perawatan cucu Bibi. Salam dari saya, semoga segera sembuh." Nara memberikan amplop itu kepada Bi Inem.
Bi Inem sendiri sebenarnya sungkan untuk menerima, tapi Nara memegang tangannya agar mau menerimanya.
"Makasih banyak, ya, Non. Maaf, ngerepotin. Aamiin, mudah-mudahan doanya diijabah," ujar Bi Inem semakin haru.
__ADS_1
"Aamiin," sahut Nara. Dia mengantar Bi Inem sampai ke depan rumah. Baru setelahnya kembali masuk. Dia sudah mengirim pesan kepada Tirta kalau pagi ini dia mulai berangkat ke kafe.
Baru saja keluar dari kamar sambil melampirkan tas ke atas bahu, langkahnya dicegah oleh Salsa.
"Hei, lo mau kemana?!"
"Ngomong sama aku?" Nara melihat sekitar dan tak ada orang. Kalaupun Salsa mengajaknya bicara, tapi wanita itu tidak ada kesopanan sama sekali.
Salsa memutar bola mata, malas. "Sialan! Lo kira gue ngomong sama angin?!" sentaknya dengan sengit.
"Salsa, kamu sedang hamil, tolong bicara dengan baik!" tegur Nara.
Tapi Salsa malah membalasnya dengan mencibir. "Lo gak boleh kemana-mana, Bi Inem pulang kampung dan elo yang harus gantiin pekerjaan dia!" titahnya dengan kedua tangan bersilang di depan dada. Ditambah raut wajahnya begitu menyebalkan.
"Aku gak bisa kerjain sekarang. Kamu tau sendiri, aku juga kerja di kafe."
"Alah alasan. Kerja di kafe juga bayarannya berapa sih. Lagian, kalau bukan elo yang kerjain terus siapa? Gue kan lagi hamil gak bisa lakuin semuanya." Ketika berbicara dengan Salsa, nada bicaranya selalu meninggi. Bahkan selalu memercik emosi.
"Ya udah nanti aku kerjain sepulang kerja," ujar Nara yang akhirnya mengalah. Dia memaklumi kondisi Salsa yang memang sedang hamil, tidak memungkinkan untuk mengerjakan tugas rumah tangga semuanya.
"Kalau cuma masak kamu bisa kan? Aku harus berangkat sekarang."
"Gak bisa! Pokoknya sebelum kamu berangkat, harus ada makanan! Titik!" Setelah mengatakan itu Salsa berbalik pergi.
Nara menghirup udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya perlahan. Geram sebenarnya, tapi lagi-lagi dia berusaha memaklumi.
Nara mengambil ponsel untuk menghubungi Tirta dan mengatakan akan sedikit telat. Juga berjanji akan mengganti jam telat dengan jam lembur. Setelah itu pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Memilih memasak nasi goreng agar tidak memakan waktu. Baru selesai menuang berbagai seafood ke dalam panci, dikejutkan dengan suara Natan yang meminta dibuatkan kopi.
Nara tersentak, dia pikir pria itu sudah berangkat ke kantor. Saat menuju meja makan dengan secangkir kopi untuk Natan, telinganya mendengar perdebatan antara pria itu dan Salsa.
"Kenapa gak bangunin. Aku jadi telat ke kantor! Alarm bunyi juga malah kamu matiin!"
"Ngomel aja terus dari tadi! Telingaku sakit dengernya! Cuma kesalahan kecil tapi marahin aku sampek kek gini!" Salsa menangis di depan Natan.
__ADS_1
Terlihat Natan mendesah dan menghela napas panjang.
"Sorry-sorry ... hari ini ada pertemuan penting, tapi malah telat bangun gara-gara alarmnya kamu matiin. Lain kali jangan dimatikan!" Natan merubah nada bicaranya menjadi lembut, bahkan memberi kecupan di kening Salsa. Ibu jarinya mengusap pipi Salsa dengan lembut.
Nara membuang tatapan tak ingin melihat kemesraan yang lagi-lagi mereka tunjukkan dimana-mana.
"Nara, kopinya mana, Natan keburu telat kamu malah lelet begitu!"
"Saa, jangan begitu!" ujar Natan memperingati. Salsa terdiam dan kesal.
"Ini kopinya, Mas. Mau sarapan atau disiapkan bekal aja," ucap Nara.
"Aku keburu telat," jawab Natan.
"Aku udah masakin nasi goreng seafood kesukaanmu."
Natan menatap Nara, terlihat pucat dan seperti kelelahan. "Ya udah, siapin bekal gak papa."
Nara mengangguk dan kembali ke dapur untuk menyiapkan bekal. Setelah siap memberikan kepada Natan.
"Lo udah masuk kerja?" Natan melihat Nara mengambil tas dan terlihat bersiap pergi.
"Iya, hari ini aku mulai masuk kerja."
"Searah, bareng aja."
Deg.
Nara mengernyit, tidak biasanya pria itu menawari tumpangan cuma-cuma.
"Natan! Biarin aja dia berangkat sendiri! Gak usah peduli sama dia!" kesal Salsa.
"Saa, dia juga istriku. Apa salahnya berangkat bareng. Kita satu arah," balas Natan.
"Oh, kamu mulai peduli sama dia?! Gak mikirin aku sama calon anakmu?!" sentak Salsa dengan tatapan tajam
__ADS_1
"Mas, udah. Aku bisa pesan ojol," sela Nara. Dia terlalu lelah mendengar keributan yang selalu dibuat oleh Salsa. Semenjak wanita itu datang, kedamaian seolah menghilang.