
"Ini rumah menantuku, Natan, kan? Kamu siapa? Setau ku Abimana cuma punya satu anak? Lalu Anda?" bingung pria itu.
"Memang benar ini rumah Natan. Anda sendiri siapa? Kalau kolega bisnis gak mungkin berpakaian kumal begitu," cibir Salsa dengan bersikap tidak sopan terhadap orang yang lebih tua darinya.
"Saya mertuanya Natan. Ayahnya Nara," ujar pria itu memperkenalkan diri.
'Jadi, bapak tua dekil ini ayahnya cewek kampungan itu. Pantas, sama-sama dekilnya,' batin Salsa memperhatikan penampilan Pak Rohim dari atas sampai bawah. Tentu saja dengan pandangan menghina.
"Oh, Anda ayahnya Nara. Perkenalkan, saya Salsa, sepupunya Natan." Secepatnya Salsa menemukan ide untuk mengaku sebagai saudaranya Natan. Mengelabui Pak Rohim agar tidak curiga dengan keberadaannya.
Pak Rohim tersenyum dan mengangguk. Namun dalam hatinya sedikit memiliki keraguan.
Lalu bertanya keberadaan anaknya. "Apa Nara ada?"
"Nara barusan pergi kerja."
"Kerja? Apa dia sudah sembuh?" Pak Rohim terkejut, pasalnya baru beberapa hari putrinya masuk rumah sakit karena kelelahan, sekarang sudah kembali bekerja.
"Ya, tampaknya sudah segar bugar. Sudah dibilang di rumah aja, tapi ngeyel kerja."
"Ya sudah, kalau begitu saya mau menemui Nara dulu," pamit Pak Rohim.
__ADS_1
"Silahkan," balas Salsa cuek dan langsung menutup pintu tanpa menunggu tamunya pergi.
Hanya sekitar 25 menit, Pak Rohim sudah sampai di depan Kafe Injie. Saat masuk ke dalam, Nara yang memang sedang melayani pelanggan langsung mengetahui kedatangan ayahnya.
"Assalamualaikum, Pak." Nara menyalimi tangan ayahnya. "Ada apa? Kok Bapak sampai dateng ke kafe?" tanyanya.
"Bapak kangen kamu, Nak." Pria paruh baya itu menatap putrinya dengan teduh. Nara pun membalas dengan senyuman.
"Bapak tunggu sebentar, ya. Nara mau izin sama manager buat ngobrol sama Bapak."
Setelah mendapat anggukan, Nara langsung menuju ruangan Tirta. Lalu kembali menemui ayahnya.
"Bapak kalau kangen bisa minta tolong Dina buat nge-wa Nara."
"Nara, kamu beneran sudah sehat to, Nak? Beberapa hari ini perasaan Bapak gak enak. Juga selalu dimimpiin ibumu." Pak Rohim terus memperhatikan wajah putrinya dengan sendu. Seolah fellingnya mengatakan kalau sudah terjadi sesuatu dengan putrinya.
"Alhamdulillah, Pak, Nara udah enakan. Bapak jangan terlalu dibawa khawatir. Kan kemarin udah jelas kalau Nara cuma kecapean aja. Kalau mimpi ibu, mungkin ibu rindu dengan doa Bapak makanya ibu dateng lewat mimpi."
Nara menjawab dengan kalimat menenangkan, padahal dalam hatinya memendam ke khawatiran dengan keadaan dirinya sendiri. Karena memang akhir-akhir ini kondisi tubuhnya sering lelah dan mimisan.
"Mungkin juga begitu." Pak Rohim mengangguk. "Ohya, tadi Bapak sempat datang dulu ke rumahmu dan bertemu dengan wanita yang mengatakan sepupunya Natan."
__ADS_1
Deg!
Nara menegakkan tubuhnya. "Ba-pak ketemu sama Salsa?"
"Apa benar dia sepupunya Natan? Bapak kok asing dengan wanita itu. Padahal keluarga Abimana Bapak kenal semua."
Nara tersenyum kaku. Tuhan, ampunilah dosanya jika dia berbohong untuk menutup aib suaminya.
"Iya, Pak, Salsa sepupu Mas Natan. Sementara waktu dia tinggal di rumah kami."
"Apa dia tidak ada tempat tinggal lain selain di rumahmu? Dia memang sepupu suamimu, tapi cara berpakaiannya tidak sopan. Coba bicarakan dengan suamimu, untuk mencari tempat lain."
"Nanti kalau sudah pulang, Nara akan bicara dengan Mas Natan. Tadi pagi Mas Natan ke Singapore karna Papa masuk rumah sakit."
"Innalillahi, Abimana masuk rumah sakit? Sakit apa?" Pak Rohim lebih terkejut mendengar kabar buruk barusan.
"Katanya gejala stroke."
Setelah berbincang sekitar tujuh menit, Pak Rohim berpamitan pulang. Dia tak ingin terlalu lama menyita waktu kerja Nara.
Nara pun mengantar ayahnya menunggu taksi online yang dipesan, barulah kembali ke kafe untuk bekerja. Namun, kepalanya terasa berputar-putar, dia pun memutuskan duduk sebentar di halte itu.
__ADS_1
"Astagfirullah, ya Allah, kepalaku pusing banget," gumam Nara sambil memegangi kepala.
"Apa sebaiknya pulang dari kafe aku langsung mampir ke rumah sakit buat lap darah, biar tau sebenarnya aku sakit apa?"