
Sepulang kerja langkah Nara dicegat oleh Tirta. Pria itu meminta waktu karena ingin berbicara sebentar.
"Nara, bisa kamu jelasin apa yang terjadi padamu?"
Nara mengernyit. "Maksud kamu gimana, Mas?" Mungkin Tirta terlalu singkat bertanya, hingga dia tidak mengerti maksudnya.
Pria memakai kemeja putih itu menghela napas berat. "Kapan kamu menikah, Ra? Dan ... bagaimana kamu bisa menikah dengan pria itu?" runtut nya.
"Hampir tiga bulan yang lalu aku menikah dengan Mas Natan. Dia jodoh pilihan dari orang tuaku, Mas," jelas Nara.
Pria itu terbelalak kaget. "Ka-lian menikah karena perjodohan?"
Nara mengangguk.
"Ra, ini jaman modern. Kenapa masih ada perjodohan?" Tirta menggeleng tidak percaya. Di zaman yang sudah serba modern masih ada istilah menikah karena perjodohan. Tidak saling mengenal lalu tiba-tiba menikah?
Di tahun yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, harusnya semakin bebas menentukan jalan hidup. Tapi entah apa yang dialami Nara, sampai menerima perjodohan semacam itu. Tirta tak habis pikir.
"Aku gak tau. Tapi banyak hal yang aku pikirkan untuk menerima perjodohan itu." Nara memainkan pegangan cangkir, tanpa berniat meminum cappucino yang masih mengepulkan asap, membiarkan aroma yang cukup kuat menguar begitu saja.
Berbeda dengan Natan, di depan pria itu tersuguh kopi hitam. Itupun masih utuh belum tersentuh.
"Banyak hal yang kamu pikirkan, tapi apa kamu memikirkan kebahagian mu? Apa kamu memikirkan kelanjutan hidupmu setelah menikah dengan pria breng s*k itu?!" tukas Tirta.
"Mas, itu urusanku!" Nara menjawab cepat. Tidak terlalu suka bila Tirta mencampuri urusan pribadinya. Baginya, hubungan mereka sebagai atasan dan bawahan saja.
"Ra, dari sikap pria itu kemarin, aku bisa tau rumah tangga seperti apa yang kamu jalani. Bagiku, kamu terlalu berharga untuk disakiti."
Nara terdiam. Orang lain menilainya terlalu berharga untuk disakiti, tapi tidak dengan Natan. Pria itu justru tak menghargainya, bahkan menganggapnya seperti orang asing.
"Terima kasih untuk penilaian mu, Mas. Tapi tolong jangan campuri urusan pribadiku. Aku yang menjalani, jadi biar aku yang mencari solusi," lugasnya.
"Ra!" Tirta menatap kecewa ke arah wanita itu. Kenapa Nara tidak peka dengan rasa suka yang selama ini dipendam. Walau dia belum sempat jujur, tapi setidaknya Nara bisa menilai dari perhatian dan kebaikannya selama ini.
"Sudah malam, Mas. Ayo kita pulang." Nara tidak ingin melanjutkan pembicaraan lagi. Selain itu, kepalanya juga mulai terasa pusing.
"Setidaknya minum dulu tehnya, biar gak mubazir," ucap Tirta untuk menahan Nara.
Pria itu diam dengan hati dilema. Haruskah dia jujur tentang perasaannya atau tetap menyimpannya sampai waktu berlalu dan memudarkan perasaan itu.
Nara memang sudah menjadi milik orang lain, tapi dia yakin hati Nara tidak mungkin untuk pria pengecut seperti Natan.
Nara menyeduh teh perlahan. Beberapa kali melirik pria di depannya. Dia menduga ada sesuatu yang masih ingin diucapkan, tapi Tirta terlihat ragu-ragu.
Sadar jika hari kian larut, Nara kembali mengajak Tirta untuk menyudahi obrolan mereka.
Ketika keluar dari kafe, dengan tiba-tiba Tirta mencekal pergelangan tangan Nara. Yang otomatis menghentikan langkah wanita itu.
"Nara, pria itu tidak bisa membahagiakanmu, ijinkan aku yang menjaga dan membahagiakanmu."
__ADS_1
Deg
Nara bergeming. Kaget mendengar ucapan Tirta barusan. Keduanya saling menatap.
"Sebenarnya udah lama aku suka sama kamu, tapi aku bingung gimana ngomongnya. Bahkan aku juga memesan cincin ini untuk melamar mu, Ra." Tirta berkata dengan sungguh-sungguh. Dia juga memperlihatkan sebuah cincin yang dihiasi permata indah di depan Nara.
Nara berkedip tak percaya mendengar ungkapan perasaan Tirta. Dia tidak peka dengan perasaan pria itu. Selama ini kebaikan Tirta dinilai sebagai kepribadian yang baik terhadap semua karyawan. Tidak merasa diistimewakan. Tapi ... ternyata ada perasaan khusus dibalik kebaikan pria itu.
Wanita berjilbab ungu muda itu terlihat canggung dan bingung untuk memberi jawaban. Yang jelas, tidak mungkin menerima perasaan Tirta, sementara statusnya masih menjadi istri dari pria lain.
"Mas, maaf, aku wanita yang sudah bersuami. Tidak mungkin menerima perasaanmu. Kita tau hukumnya seperti apa." Meski tak enak hati, tapi dia harus tegas untuk menolak perasaan Tirta.
"Aku tau, Nara. Andai pernikahanmu berjalan semestinya, dalam arti pria itu bisa membahagiakanmu, aku akan menyerah. Tapi pria itu hanya seorang pengecut, dia menyakitimu. Berpisah saja, Ra, aku siap membahagiakanmu." Tirta tetap berusaha meyakinkan Nara.
"Astagfirullah, Mas, pembicaraan kita sudah terlalu jauh. Walaupun Mas Natan menyakitiku dan tidak bisa membahagiakanku, tapi bagaimanapun saat ini statusnya masih suamiku. Jadi, tolong maafkan aku. Aku tidak bisa menerima perasaanmu.
Dan lagi, ada seseorang yang lebih pantas kamu perjuangkan."
"Seseorang siapa yang kamu maksud?"
"Coba Mas lebih memahami salah satu dari kami, Mas akan tau siapa orangnya."
Kalimat itu menjadi akhir pembicaraan mereka. Sampai Nara berjalan menuju halte bis, Tirta bergeming dengan pikiran bercampur aduk.
Sedih, wanita yang ingin diperjuangkan justru menolaknya. Kecewa, karena Nara seolah membela pria yang jelas-jelas sudah menyakiti hatinya.
Mungkin selama ini dia terlalu fokus pada satu tujuan, yaitu mendapatkan Nara, sampai tidak peka hal yang lainnya.
Baru beberapa detik Nara berdiri di halte, sebuah mobil Lamborghini hitam metalik berhenti tepat di depannya.
Tanpa diperhatikan secara detail, Nara sudah tahu itu siapa dibalik kemudi stir.
Karena Nara tak lekas bergerak, seseorang yang ada di dalam mobil membuka kaca mobil. Wajah tampannya mengeras seperti menahan amarah.
"Mas, aku udah pesen ojol."
"Lo lebih mentingin pesenan ojol daripada bareng gue?!" Natan menyentak membuat Nara terhenyak.
"Salsa gak akan suka kalau tau kita pulang bareng."
Natan menatap dengan pandangan tak terbaca. "Gak usah bawa-bawa Salsa! Cepetan naik!"
Nara memutari mobil dan duduk di samping Natan.
Baru selesai memasang sabuk, Natan langsung tancap gas.
"Lo bilangin gue zina sama Salsa, tapi lo sendiri ada hubungan sama manager lo!" tukas Natan.
Nara berpegangan erat dengan sabuk pengaman, takut dengan kecepatan mobil yang dikemudikan pria itu.
__ADS_1
"Mas liat aku sama mas Tirta?"
"Agh! Astagfirullah! Jangan kebut-kebutan, Mas! Bahaya!" Nara benar-benar ketakutan karena Natan justru menambah kecepatan mobilnya.
"Gue udah handal. Kalau mati ya kita mati bareng."
"Gak takut mati, karena semua yang bernyawa pasti akan menemui kematian. Tapi gak mau juga harus mati konyol."
"Pegangan tangan di tempat umum, bukan cuma gue yang liat. Semua orang juga liat"
Berikutnya Natan tertawa remeh. "Cewek kek lo banyak juga yang suka," cibirnya.
"Apa bedanya kamu bergandengan tangan sama Salsa di tempat umum." Nara membalikkan fakta. Natan langsung bungkam.
"Walau banyak pria yang suka, tapi aku tau batasan ku. Aku juga sadar dengan statusku. Selama aku masih menjadi istrimu, aku wajib menjaga marwah ku."
Perlahan Natan mengurangi kecepatan mobilnya. Pria itu berpikir. Apakah Nara benar-benar wanita baik, sampai mau menjaga diri padahal dia begitu brengs*k.
"Mudah-mudahan Allah secepatnya kasih jalan keluar," ujar Nara.
"Jalan keluar apa?"
"Jalan keluar agar kita menemukan alasan untuk berpisah secara baik-baik ...."
"Maasss!!! Ya Allah, astagfirullahaladzim!" Nara memejamkan mata saat Natan menambah kecepatan lagi. Bahkan rasa takut membuatnya tak sadar memeluk lengan pria itu.
Din din ....
Suara klakson motor dari arah depan menyadarkan Natan untuk membanting stir sedikit ke bahu jalan. Jika tidak bakal terjadi kecelakaan. Setelah lewat dari bahaya itu, Natan meminggirkan mobilnya di bahu jalan. Tak dipungkiri, jantungnya juga berdetak kencang.
"Ya Allah. Ya Allah. Ya Allah." Sementara Nara terus berucap menyebut Sang Pencipta. Kedua matanya terpejam erat dengan tubuh bergetar.
Setelah mobil berhenti, Nara buru-buru keluar dan berjongkok di dekat saluran air. Dia muntah cairan, dan kepalanya terasa berputar-putar.
Natan ikut keluar dan reflek memijat tengkuk Nara. "Sorry," ucapnya.
"Lain kali jangan begini, Mas. Bukan cuma kamu, tapi orang lain juga bisa celaka!" Nara mengambil tisu basah dan membersihkan sekitar mulutnya.
"Iya-iya," jawab Natan sambil mendengus.
Nara berdiri, tapi kepalanya terasa berdenyut dan membuat keseimbangan tubuhnya tidak stabil, hingga hampir jatuh kalau Natan tidak menyangganya.
"Lo pusing?"
"Hidung lo keluar darah!" pekiknya.
Nara membekap hidung, yang memang terasa ada cairan mengalir dari hidungnya. Mimisan lagi?
"Gak papa, Mas. Aku memang udah biasa sering mimisan," ucap Nara berbohong.
__ADS_1