Sesal Sampai Akhir

Sesal Sampai Akhir
Pingsan


__ADS_3

"Non mukanya pucet. Non sakit?" tanya Bi Inem yang lagi sibuk berkutat dengan alat dapur. Nara baru masuk juga ingin membantu.


"Agak sedikit pusing, Bi. Tapi kadang-kadang hilang sendiri," jawabnya dan memulai aktifitasnya dengan menyiapkan minuman kopi untuk Natan.


Oh iya, satu hari lalu Abimana pergi ke Singapore untuk urusan bisnis. Hingga keadaan rumah kembali seperti semula. Nara dan Natan kembali pisah ranjang.


"Non istirahat aja, biar Bibi yang siapin," sergah Bi Inem. Dia ingin mengambil alih, tapi tak diperbolehkan.


"Aku gak papa, Bi. Ini salah satu tugasku, biar aku yang lakuin," ucap Nara dengan tersenyum.


"Non sudah periksa ke bidan belum? Siapa tau pusing gitu bawaan si orok."


"Maksud Bibi?" Nara mengerut tidak paham.


"Non dan Tuan kan pengantin baru, siapa tau Allah menitipkan anugerah di rahim Non," jelas Bi Inem.


Nara terdiam. Bahkan gerakan tangannya yang sedang mengaduk kopi juga terhenti. Dalam hati dia tersenyum masam. Yang dikatakan Bi Inem sesuatu yang tidak mungkin terjadi, karena selama ini Natan tidak pernah menjamah tubuhnya. Tidak ada malam pertama dalam pernikahan mereka.


"Mungkin cuma masuk angin aja, Bi. Jangan berpikir yang aneh-aneh," ujarnya.


"Ya siapa tau aja, Non."


"Bi, kopinya mana?" teriak Natan dari arah meja makan.


"Biar aku aja yang bawa kesana." Nara membawa cangkir kopi yang dibuat tadi ke hadapan Natan.


"Ini kopinya," ucap Nara.


Natan memperhatikan wajah Nara. "Muka lo masih agak pucet. Aturan istirahat aja!"


"Rasa sakit gak akan sembuh kalau kita manjain. Selagi masih bisa berdiri harus dibawa gerak." Nara mengambil duduk di seberang pria itu.


Sebelas alis Natan terangkat, "Iya kalau gak tambah parah. Namanya sakit berarti butuh istirahat, bukan malah dipaksa."


"Tapi hari ini aku gak bisa cuti. Mas Tirta bilang hari ini kafe di boking buat acara ulang tahun, jadi sibuk banget."


Natan mendengus. "Kepala batu! Semuanya dipanggil dengan sebutan mas! Gak ada panggilan lain, apa? Males banget disamain sama yang lain!"


"Kan aku udah bilang, semua yang bergenre pria memang ku panggil begitu."


"Serahlah!" Dengan wajah kesal, Natan meninggalkan meja makan.


"Astagfirullah, kenapa dia gampang marah." Nara juga beranjak mengejar langkah Natan.

__ADS_1


"Mas!" Karena Nara setengah berlari hingga kakinya tersandung pinggiran kaki sofa.


"Maaaassss!!!"


Bruk!


Tubuh Nara menabrak dada bidang Natan. Si pria yang tidak siap seperti didorong dengan keras hingga tubuhnya oleng dan jatuh.


Tubuh Natan dalam posisi tertimpa tubuh Nara, bahkan bibir mereka saling menempel.


Bahkan Sepersekian detik mereka mematung dalam posisi itu. Keduanya dapat merasakan debaran jantung masing-masing.


Natan menelan ludah kasar. Ciuman tak terduga tapi mampu mendebarkan jantungnya.


"Mau sampek kapan kek gini? Badan lo berat tau!" ujar Natan pura-pura kesal, tapi hatinya sedang merasa lain.


"Huh?"


Sebelum mereka merubah posisi, Tarjo si tukang kebun yang ingin melintas justru tak sengaja melihat adegan itu.


"Astaga!" ucapnya reflek. Pria itu berhenti di depan pintu. "Aduh, ini masih pagi, tapi Tuan dan Nona harmonis pisan!"


"Harmonis apaan?! Ini tuh insiden! Malah dibilang harmonis," dengus Natan yang langsung mendorong tubuh Nara untuk menyingkir.


"Maaf, Mas, aku gak sengaja. Kakiku tersandung kaki sofa," ujar Nara menjelaskan. Tapi wajah Natan seperti tidak percaya. Niat hati ingin meminta maaf untuk panggilan tadi, tapi malah muncul insiden baru.



Di kantor, pria berkemeja putih itu berkali-kali menghirup udara dan menghelanya perlahan. Pikirannya melalang buana bukan karena pesan singkat yang dikirim oleh Salsa. Juga bukan masalah proyek kantor, melainkan ingat dengan insiden pagi tadi bersama Nara.


Ciuman tak sengaja dan secara singkat itu mampu mengusik pikiran seorang Natan.


Berkali-kali dia mencium bibir Salsa, tapi rasanya berbeda.


"Huh, apaan sih gue ini!" dengusnya sambil menonyor kepala sendiri. "Bisa-bisanya kepikiran terus!"


Sementara di kafe. Apa yang dialami Natan juga dialami oleh Nara. Wanita itu masih terpikirkan dengan kejadian yang dialami.


Bahkan setiap mengingat kejadian itu, dadanya kembali bergemuruh. Maklum, bisa dikatakan itu adalah ciuman pertamanya. Jadi wajar kalau masih terbayang-bayang.


"Nara! Meja itu sudah kamu bersihkan dua kali. Mau kamu bersihkan lagi?"


Nara yang baru tersadar salah tingkah dan gelagapan. "Eh, maaf," ucapnya dengan menyengir.

__ADS_1


Nabila, rekan kerja yang menegur tadi menggelengkan kepala, heran.


"Bengong aja, sih! Mikirin apaan?"


"Gak papa, Mbak. Cuma kepikiran sama kucing tetangga satu bulan lalu baru beranak kok perutnya sudah besar lagi. Jangan-jangan dia hamil lagi. Duh, pusing." Dia memberi alasan panjang lebar, entah masuk akal atau tidak, yang penting dia bisa segera pergi.


Baru juga melangkah ke dapur, tapi dicegat Tirta.


"Ra, hari ini siap lembur gak? Kalau enggak, saya akan cari ganti."


"Siap, Pak."


"Tapi wajah kamu pucet! Kamu lagi sakit!" ujarnya.


"Saya masih sanggup, Pak."


"Baiklah, tapi kalau kamu gak sanggup, bilang aja."


Nara mengangguk. Selepas Tirta naik ke lantai atas, dia melanjutkan untuk ke pantry dan berganti membersihkan piring juga gelas. Baru mendapat tiga piring, gerakannya terhenti. Dari hidung kembali mengeluarkan cairan merah pekat.


"Ya Allah, mimisan lagi," gumamnya. Dia mengambil tisu dan segera menutupi wajahnya.


"Kenapa akhir-akhir ini aku sering mimisan? Kepala juga sering pusing, tapi nanti hilang sendiri. Ini penyakit atau hanya kurang istirahat aja." Nara berbicara di depan cermin, sambil memperhatikan wajah yang ternyata kentara pucat, seperti tanpa aliran darah.


Belum juga terjawab, tiba-tiba kepalanya kembali berdenyut.


"Sssttthh, au'! Kepalaku sakit banget!" Dia memegangi kepalanya.


Belum beranjak, sudah terdengar bunyi piring beradu dengan lantai, hingga menimbulkan suara pecahan yang cukup keras. Hal itu menyita perhatian Nabila. Ketika tubuh Nara limbung di atas lantai, wanita itu segera mendekati.


"Ra, Nara! Bangun, Ra!" Nabila meraih kepala Nara untuk dipangku. Dia juga berusaha membangunkan, tapi Nara tidak merespon.


"Tolong, Nara pingsan!" teriak Nabila, agar pegawai lain segera membantu.


"Maaf, Pak, ada karyawan yang pingsan." Danu melapor pada kepala sekolah tidak?


Tirta yang tadinya sedang mengecek laporan keuangan, segera bangkit untuk mengecek keadaan Nara.


"Nara!" pekik Tirta begitu tahu wanita yang pingsan adalah Nara, wanita yang disukai dalam diam


"Awas, biar aku bawa ke rumah sakit," ujarnya.


Nabila dan karyawan lain memberi jalan agar Tirta mengangkat tubuh Nara untuk dibawa ke rumah sakit.

__ADS_1


"Aku tadi udah peringatin kamu, Ra.Tapi kamu kekeh masih kuat kerja," gumamnya dengan wajah panik.


__ADS_2